Selasa, 31 Desember 2013

Ratusan kata

(Masih untuk naungan kebahagiaanku)

Ratusan kata ini
Memang terasa aneh
Tertulis dalam  rangkaian angan dan harapan
Terbang seiring waktu dan menjatuhkan asa

Ratusan kata ini
Hanya berujung pada penantian yang panjang
Hanya memikat setiap waktu yang terselubung
Indah mengembang mengiringi langkah penantian

Ratusan kata ini
Menjamah setiap relung yang tersisa
Merengkuh tubuh yang terkoyak sepi meradang
Hambar...tanpa kepastian...

Ratusan kata ini
Menjadi saksi bisu
Bagaimana sajak "masih dalam diam" begitu berbekas
Menimbulkan makna yang begitu dalam
Memelintir setiap senti dalam diri yang begitu rapuh
Bahkan saat kau mengagumi sajak kiasan doaku

Ratusan kata ini
Seolah membawaku ke ruang yang lebih gelap
Seolah menerjunkan berjuta rasa haus akan terang
Seolah berharap akan pintu yang membawa kebahagiaan
Entah dengan cara apapun,
Ratusan kata ini terasa begitu nyata.

Created by:Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Kamis, 19 Desember 2013

Masih Dalam Diam

Dia dalam keheningan malam
Tercium semua aroma kesunyian
Terasa hembusan angin yang mengantarkan sepi
Mengerjap, membuat semuanya terasa nyata
Masih dalam diam

Terasa cukup semua yang kukabarkan
Lewat kata-kata kiasan yang terlihat indah
Walaupun didalamnya terkandung makna memohon, mengais, dan tragis
Masih dalam diam, aku mencoba

Bercampur nanar, mataku melihat
Berjuta perhatian telah kuselipkan diantara doa
Seribu kata berlalu, mengalir melalui angin
Menerbangkan lukaku
Menerbitkan bahagiamu
Masih dalam diam, aku bertahan

Terasa pedih jika mengingat
Ketika semua sikap seolah menyayang
Namun kata masih terasa menyayat
Masih dalam diam, tanpa kepastian

Aku berdiri, seolah menangkis semua keraguan
Menutup telinga, mengacungkan lembar harapan
Menutup mata, menahan semua air yang menuntut keluar
Menggigit lidah, yang menuntut bercerita tentang luka
Namun masih dalam diam, dan akan terus diam

By:@desiatikaa

Apakah Ini Indonesia?

Bagaimana bisa
Hutan terbakar, menjadi hot news semesta setiap pagi
Banjir, menjadi ganti kolam renang yang dirasakan setiap akhir pekan
Asusila, mewabah seperti penyakit yang menular

Bagaimana bisa
Anak bangsa dipelosok negri memilih untuk diam
Dengan percahayaan sebuah lilin, dengan penglihatan 2 buah mata yang mulai mengabur
Tetap bertahan membaca abjad yang tertera di awang -awang
Menorehkan luka di setiap liku kehidupan ketidakadilan..

Bagaimana mungkin
Mutiara, batu bara, emas, dan minyak bumi terus tergerus
Sementara uang terus mengurus
Lalu untuk apa semua karunia allah?
Jika memelihara saja rasanya sulit, bagaimana bisa mengolah!

Bagaimana mungkin
Seabrek lembaran kertas menjadi puing - puing luka yang seolah menepis harapan
Ratapan pendidikan, kiasan sastra indonesia
Menjamur tanpa arti di bumi pertiwi

Apakah ini indonesiaa?
Kenapa terasa asing dan menebar kesengsaraan?
Apakah ini indonesia?
Pendidikanku terasa hampa, jika memandang ini saja sudah sebah.

" Rupanya niatan yang meradang, memilih mengalah dengan keadaan. Rupanya kata2 yang terselip dalam untaian kalimat sederhana, mampu menerbangkan semangat dan mengais harapan. Jangan terlalu sering berbuat ini jika maksudmu berbeda dengan apa  yang kupikirkan. "
Mau bilang "gagal move on" aja pake kata2 begituan segala yak.

Selasa, 17 Desember 2013

Move, move, move on!

"Cie disyaa, senyum-senyum mulu sambil natap hp gitu. Lagi dapet moodbooster ciyee" seru norma dengan suaranya yang ampun badai..bikin telinga seketika mau pecah.
"Apaan sih, nor! Bikin kaget aja. Ya menurutmu aku gila apa ketawa-ketawa tanpa sebab. Ahihihi" lagaknya sih sebel, tapi mimik cerianya yang setiap kali muncul kalo dia lagi bahagia karna hal yang berhubungan sama cowok itu muncul lagi. Selalu bikin orang penasaran. Sebenernya siapa sih yg lagi deket sama dia..walaupun tanpa disuruh cerita, pasti bentar lagi dia juga bakalan cerita sendiri.

Banyak banget hal yang biasanya diobrolin sama 2 sahabat yang selalu bareng itu. Mulai dari hal hal yang biasa, sampe hal hal yang nggak penting. Bahkan masalah cinta. Norma, yang orangnya manis, cantik, tapi pinter banget selalu dideketin sama cowok-cowok ganteng. Tapi norma itu orangnya ya bosenan, jadi dia ya santai -santai aja masalah itu. Palingan dia cuma galau karna suka bimbang mau bener2 ngejalanin hubungan apa harus berhenti karna kadang gampang bosen. Dia bilang dia belum dapet seseorang yang pas di hatinya. Cielaaaah, alay amat. Sedangkan, disya.. dia tu orangnya ya biasa biasa aja gitu. Disukai sama cowok kadang -kadang doang, itu aja pasti dianya nggak suka sama tu cowok. Giliran dia suka sama cowok, eh cowoknya phpin dia lah, nggak peka lah, dan kadang malah nggaksuka beneran sama disya. Kadang dia suka galau, sok galau. Tapi banyak orang bilang kalo disya ini memang pinter nyembunyin semua yang dia rasain,  setiap ketemu bawaannya seneeng aja. Soalnya, dia emang nggakbisa gampang berbagi cerita ke orang lain yang nggak begitu deket sama dia.
"Masih sama, nor. Masih sama dia, masih sama yang namanya fikri. Dianya nggak peka, apa aku yang kepedean ya?" Tiba-tiba mukanya jadi asem kecut nggak karuann gitu pasca ngucapin bebetapa kata yang menurut norma sangat tragis-_-
"Lhoh! Fikri yang itu? Yang kuliah di kedokteran itu kan? Yang cita-citanya malah jadi penjual kaki lima supaya memakmurkan pengguna jalan?"
"Iya, yaampun. Udah lama banget ya? Kurang setia apa cobak~"
"Dis, dis.. ngapain nungguin orang kayak gitu. Sekarang atau besok kan ya sama aja kamu bakalan geloo. Tapi ya gimana ya, dia tu menurutku baik sih dis, aku sih dukung2 aja kalo kamu sama dia. Yaaah, biarin berjalan dengan sendirinya aja, tapi jadiin santai aja ya. Jangan terlalu dipikirin. Dia kan deket dan baik sama semua orang. 5 tahun kek 6 tahun kek, kehitung kamu suka sama dia..tetep sama aaja kalo dianya belum nanyain kepastian" ini nih nasehatnya yang paling ngena~

Iya, walaupun udah dikayak gituin, Disya tetep bertahan. Walaupun dianya ya berasa jadi orang terngenes sedunia. Tapi semuanya kan emang nggak begitu penting, toh disya juga masih sekolah.
"Haha, kalo cuma cari status sih, akuudah bisa jadian sama cowok lain. Yang lebih ngerti, yang lebih pengertian, yang lebih nggak cuek dibanding dianya sekarang" gitu mulu curhatannya.

Namanya burung, ya.. pasti ngerasa bodoh banget kalo harus cari ranting yang rapuh dan gatau mau jatuh apa tetep jadi rapuh sampe patah kalo ada angin gede. Pasti jauh lebih berfikir untuk cari tempat yang lebih baik, yang lebih layak. Tapi kalo ranting itu yang selama ini bikin dia senyum, bisa bikin dia kuat, kenapa harus pindah ke ranting yang kuaat yang diperebutin burung - burung lainnya?

"Nor, aku mutusin buat move on nih kayaknya. Aku berasa diusir pelan-pelan, dipaksa ngejauh, tapi terpaksa mendekat buat alasan temen. Dong kan? " gatau mendung atau beledek macem apa yang bikin disya tiba2 ngomong ini ke norma waktu mereka jalan bareng di mall pasca uas selesai.
"Ngomong apaa dis? Kamu udah berkali2 ngomong pengen move on sama aku. Tapi buktinya juga malah balik lagi,kan? Malah hubungannya semakin jauh. Udah kamu paling sama dia ujung2nya. Wkakaka" berasa pengen nelen nggaksih??-_-
"Nor, dia udah nyuruuh aku buat cepet-cepet taken malah. Dia nyuruh aku nyari cowok .-." Poker face.
"Hah? Gimana ceritanya tu orang. Jahat amat. Tapi ya coba turutin aja. Berarti selama ini kamu salah ngartiin kali. Dianya cuma mau jadi temen" kaliini langsung nengok dan mandang disya, lagi-lagi muka tragis.
"Iya, mungkin gitu, mungkin harus move on"

Setidaknya, keputusan belum tentu kewujud. Masih bisa berubah ditengah jalan, masih balik arah. Tapi setidaknya saat ini. Cuma itu doang, disya cuma gamau lagi buat berharap, belum bisa ngilangin rasa secara instan, tapi belum berfikir untuk nunggu lebih lama lagi.
"Iyaaa..move on. Tapi jangan lupa belajar juga kali" pesan penyemangat sebagai akhir dari semua penantian#tsaaaah. Fiktif, thanks

"Terselip nada pilu disetiap kekecewaan,
Tapi pasti ada harapan dibalik keterpaksaan.
Umur yang belia,
kasih yang menjamur,
manjadi tantangan setiap insan untuk berlomba.

Menangkis kecewa menebar harapan,
Mengesampingkan rindu bergegas maju
Menjadi harapan bagi kasih yang setia,
Menjaga dan menuntun langkah ini
Menuju cita dan harapanku"

Senin, 09 Desember 2013

"Tatapan matamu sedikit syahdu, menerjang kelopak impian yang terkikis angan kasih sayang. Bercerita masalah malam memang indah, merngoyak bayangan sepi yang kelamnya mengikis mengukir rindu☆"

Rabu, 30 Oktober 2013

Lagi nyaman sama satu lagu karna berada dalam satu kondisi yang sama. Pernah ngerasain? Oke, ini masih kelanjutan cerita kemaren. Cerita yang belum ada ujungnya, masih dalam tahap konflik yang belum ketemu alasan dan penyelesaiannya.
Nadya Fatira dengan suaranya yang lembut udah serasa ngerti banget apa yang lagi penulis rasain, bukan lebay. Taapi dalam masa yang emang alay.

Lirik lagu : Kata Hati
Nadya Fatira

Sore senja di sudut Jogja 
Terucap doa kau tau isi hati ini 
Dan bila itu tak terungkap
Tetap ku nikmati, rasa jatuh sendiri 
Tak mampu ku ungkap segalanya
 
Izinkan ku renungkan 
Sgala rasa… 
Biarkan kata hati bicara 
Dan bila kita tercipta 
Untuk bersama 
Biarkan kata hati yang tunjukkan
 
Mungkin nanti akan ku sesali
Hari ini ku diam dan tak lakukan
Tak mampu ku ungkap segalanya
 
Izinkan ku renungkanSgala rasa… 
Biarkan kata hati bicara 
Dan bila kita tercipta 
Untuk bersama 
Biarkan kata hati yang tunjukkan

Lagu yang menceritakan tentang seseorang yang lagi suka sama orang lain, tapi nggak bisa ngungkapin perasaannya. Akhirnya, dia milih buat diam, dan nunggu. hehe:)
"Ada saatnya, dimana kita percaya akan satu hal. Semua yang dimulai dari fisik, akan berakhir karena fisik juga. Hati menjadi penentu, saat hati haus akan kasih sayang"

Cahaya 

Secercah cahaya bintang
Mengayomi kehidupan malam
Yang senantiasan gelap, menempatkan keterpurukan
Mengayun mengulas kepahitan di relung sukma

Sampai kapan lagi mau kau tunjukkan hebatnya auramu?
Mengurung tatapan rindu,
Berceloteh riang ditengah harap,
Dan menunggu sebuah kata yang menyimpan janji

Kalau dunia dikuasai cendekia
Sekalipun saja, tak akan pernah goyah keterpurukan ini
Menjelma menjadi kutukan terburuk semua insan
Menggenggam udara hampa yang terbungkus luka

Namun, jiwa yang sepi tak akan pernah kosong
Mungkin, lebih banyak dari jumlah bintang yang berdansa di keheningan malam
Seperti cahaya yang terlihat diam, 
hanya diam, hanya berusaha menerangi,
bukan berusaha meminta awan untuk sekedar beristirahat :)

created by : Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Rabu, 23 Oktober 2013

"Pelangi, Matahari berpijak. Ayo cepat kabur menembus luka"



Ketika matahari kembali datang untuk menguas senja, 
tersirat pelangi memancar bercerita tentang indahnya alam semesta.
Kukoyahkan sejenak alunan senja biru di kota tua,
mengukuhkan kembali pancaran mata, 
apalah daya, pancaran mataku tak ckup menelan indahnya alam semesta.
Kupejamkan sejenak, 
Hening menembus sukma
Air mengalir menoreh luka akan alam semesta
Matahari berpijak, menghapus pelangi terindah lukisan jemari sukmaku
Aku berjanji, kalaupun harus mengais rindu akan pelangi,
Sinarmu kan kuterjunkan didalam hati
membekas luka, namun menentramkan abadi

Selasa, 25 Juni 2013

"Kalau perkataanmu itu penuh dengan cibiran manja, takkan kusampaikan kepada hati.
Tapi saat itu, kau sampaikan lewat senyuman pahit, terimakasih atas duri racun sukma yang kaukirim"

Naluri Luka Seorang Sepi

Kalau harus menatap,
matamu memang sangat menyala, tajam memikat sukma
mentari saja enggan menggangu pandangan
bulan harus memilih muncul jika kelopakmu terpejam

Kalau harus meraba,
kulitmu halus mengemban sutra
membelalakkan mata, hingga ke mata hati
mengoyak setiap desakan angin yang lewat
semilirnya serasa hilang karena halusnya

Kalau harus berkata,
bibir ini harus mengaduh kesekian kalinya
harus berfikir berjuta kalinya
harus menyapa dinding kaca bertahun - tahun lamanya

Kalau memang tak bisa,
akan kuremuk naluri sukma yang tergores air mata luka
bahkan kuterjunkan batu bongkahan ke penghujung tebing 
atau akan kupersembahkan rafflessia untuk elisabeth

Tapi puisi hanya bisa mengibaratkan,
tak akan banyak berbuat
tak akan banyak membantu
bahkan sampai habis naruli luka seorang sepi

Created by : Desi Dwi Siwi Atika Dewi
"Jangan menangis, aduhanmy saja sudah sangat ironis."

Senin, 24 Juni 2013

"Kalau hariini bisa kuputar, akan kuputar untukmu. Akan kurelakan sedikit waktuku, akan kuhempaskan apa yang menjadi rutinitasku. Tapi apalagi yang kupunya? Indah pesonamu membawaku terus kedepan, terimakasih naungan kebahagiaanku ;)"

Febriownies ;)


Hai, Ma'af begitu ngeblog serasa ngerampok. Emang mood nggak bisa ditebak, kan? hehehe..
Kali ini mau cerita tentang febriownies aja deh, fans club orang-orang yang menyibakkan rambutnya hanya untuk melihat Febri Yoga Sapta Rahardjo (Febri IndoIdol) hehehe. Memang udah lama sih ramenya, tapi semangat untuk mendukung ngk harus lewat koar - koar di twitter kan? Haha, malah karena fc ini aku belajar banyak hal, bukan hanya karna sosok idola, tapi sosok sahabat dengan idola yang sama. Ngerti, kan maksudnya?wkwk.

Minggu, 23 Juni 2013

"Kalau dunia ini indah? kenapa tak kau usap saja dengan jemari sukma yang terlihat rapuh dimakan cinta? Ini duniaku, ini usaha yang mati - matian kupendam. Melupakan bayangmu saja harus berurusan dengan hati, apalagi harus menghapus senyuman indahmu? ooh. haruskan menikam ratu ingatan masa lampau?"

Puisi Sampah

Jangan lambaikan tanganmu
Sudah cukup membuat pipiku meradang merona membelah jiwa
Jangan tunjukkan senyummu
Beribu kali aku pingsan karena hal yang sama

Berhentilah menengadah
Wajahmu terlalu indah untuk kutatap
Berhentilah berbicara
Karena suaramu terlalu syahdu terdengar dalam telingaku

Ketika suatu saat kau tau
Aku berharap memimpikanmu disetiap pejaman mata ini
Berdecak kagum disaat tanganmu mengayun mengikuti iringan langkah
Dan mengguman, seolah kau yang paling indah

Jangan tertawakan aku
Karena ini memang nyata
Jangan pandang aku layaknya gadis kecil yang digelayuti perasaan asmara
Biarkan aku menyebutmu pangeran hidupku

Sudahlah, ini hanya satu dari berjuta puisi indah yang terdengar sampah
Bertahan di dimensi ini saja membuatku jengah
Sampai kapanpun aku hanya percaya
Kalau ini hanya impian, bukan kenyataan
Jadi, puisi sampah ini juga hanya do'a, bukan pengharapan

(Created by ; Desi Dwi Siwi Atika Dewi)

Masih ingin bermain - main dengan sayang.
Masih ingin merajut kasih tanpa naungan.
Masih ingin menjadi secuil dari kepastian masa depan.

Tapi memang dasar, umur lebih tepat menyatakan.
Kasih tak lagi angan,
masa depan adalah perjuangan,
dan hidup atau mati menjadi slogan
"Berjuta perempuanmu telah menunggumu di belakang, masih menungguku?
Untuk apa? Hatiku masih dalam proses membakarmu menjadi abu
Setelah kau mencaci makiku dengan ludah dan liurmu,
Hanya untuknya, pengemis luka untuk jiwamu yang kelamnya syahdu"

"Kalau senyummu saja sudah membuatku percaya, kenapa harus melonglong seperti serigala yang kelaparan?"

"Pernahkan aku memintamu berdiri di atas lautan untuk menggugah rasa percayaku? Akahkan kau akan terbang di atas pelangi untuk menjemput anganku tentangmu? Tak perlu lakukan itu, karna hanya melihatmu berdiri di hadapanku saja sudah cukup membuatku merasa ada di langit tertinggi dengan impian yang seakan pasti"
"Tak tau bagaimana, aku bisa tetap jelas melihatmu dari atas merapi. Tak tau bagaimana, bayangmu memang selalu terlintas dibalik penuhnya kapasitas otak yang masih bekerja. Tapi aku tau persis bagaimana aku selalu menuliskanmu dalam harapan masa depanku" 



Harus Dengan Apa Kukabarkan?

Harus dengan apa kukabarkan?
kalau aku memang masih disini,
bukan untuk menunggumu
aku hanya mencoba lari darimu

Harus dengan apa kukabarkan?
bahwa rindu ini membelit disetiap luka
mengibaskan keresahan yang nanar akan pemuas

Harus dengan apa kukabarkan?
siang ini terasa begitu terik di pandangan
mentari begitu bahagia menyinarkan kebanggaan
kulit ini serasa melayu, mengikuti ayunan alang - alang 

Harus dengan apa kukabarkan?
haus ini membabi buta 
lapar ini menaungkan jiwa memberontak 
dalam keputus-asaan diri
seakan kembali mencabik jiwa yang sudah lunglai berhiaskan luka

Harus dengan apa kukabarkan?
berjuta tanya kembalimu yang tak pernah terlontar
meskipun mata ini terus berbicara tanpa sopan

Harus dengan apa kukabarkan?
jika jiwa ini mulai lelah menunggu
dibalik semak pengintai duka
dibalik mata yang kacanya adalah air mata
dibalik senyum yang menyibakkan luka
dan dibalik kenangan yang berbalut rasa bersalah

Created by :Desi Dwi Siwi A.D
"Ayunan langkahmu hanya akan menggores luka yang telah mengering
susah payah sudah menggenggamnya dalam hempasan angin.
Kasihmu hanya akan menerbangkan asa
yang hanya terbalut rasa percaya"

Inilah kau,Boy!

Jangan ibaratkan aku seperti mawar,boy
jika yang kau maksud adalah rupanya yang bertumpuk-tumpuk
saat kau terluka oleh durinya, kau juga akan melemparnya

Jangan berandai bahwa aku adalah kumbang,boy
jika yang kau maksud adalah mungilnya badan
saat kau bosan melihatnya, mungkin saja kau akan meninggalkannya

Jangan hempaskan aku layaknya kertas,boy
karena hatiku memang tak seputih kertas
karena setiap mili hatiku tak seringan kertas

Jangan lindungi aku dibalik tembok yang rapuh,boy
dibalik sini aku hanya melihatmu
sedangkan jika tembok ini mulai retak dan roboh
menyokongku saja tak ada dalam pikiranmu

Ma'afkan aku yang selalu menganggapmu seperti abu,boy
sangat meremehkan kekuatan dan keberadaanmu
tapi kalau itu memang nyata, bisa apa?

Created by :Desi Dwi Siwi Atika Dewi
"Jangan tersenyum,boy
senyumanmu hanya akan membuatku rapuh.
Harus memaksakan diri untuk berlabuh,
dan menjadi seorang dari sejuta perempuanmu"

"Abu"

Jika tak kau perbolehkan aku mengambil abu,
lalu harus dengan apa ku-ibaratkan kasihku untukmu?
Mawar terlalu indah untuk dilihat,
begitu pula air yang terlalu jernih untuk diminum.

Ini berbeda, bagaimana kau meluluhlantahkan semuanya
Begitu nyata, namun sangat hambar karna tanpa kenangan bahagia
Banjir yang menerjang saja, pasti mengayunkan manusia yang terpaksa menari

Kalau itu kau, sudah cukupkah melintasi ruang lingkup bahagiaku?
Menjelmalah menjadi abu, terbanglah melewatiku seperti angin yang berhembus
Membuatkku terbatuk, sakit untuk waktu yang cukup lama
Toh, sudah lama pula kau bertengger di dahan yang rapuh

Tak perlu kau ucapkan berbagai manisnya kata
Hanya perlu melebur seperti abu,
Menghilang di antara bisikkan angin
Dan aku akan sadar, bahwa kau tak bisa lagi kugenggam..

Created by : Desi Dwi Siwi Atika Dewi
"Tuhan, ijinkanlah mulutku mengatakan tidak untuk hal ini. Karena cinta memang telah berhasil membuat otakku gila"
Jika suatu saat nanti kau memutuskan berhenti,
jangan lupa kirimkan elang dan secarik kertas
Agar aku bisa menggapai lelaki lain dengan lebih mudah,
tidak seperti saat aku mengenangmu
air terjun menjadi lumpur saja masih terlalu jernih untuk mengggambarkan keruhnya hatiku
Lihat saja, kepercayaanku terhadap kasihmu memang sangat nyata
Layaknya bumi yang bulat, tak ada keraguan untuknya
Tapi, sepertinya itu tak layak untuk hatiku menyapanya
Jangankan melihat dan bernaung di dalamnya
Harus menggenggam kenangan ini saja sudah membuatku kalut tak terkira

Tapi, seperti bara yang tak bisa terlepas dari abu
Aku sudah terperangkap dalam jebakanmu
Sekarang, melupakanmu saja adalah hal tergila untukku

Kerinduan ini, merajut sepi akan perpisahan.

Hanya lukisan tinta pena yang bisa kupersembahkan
Memang, tak bisa mengisahkan bagaimana kita bertemu
Memang, tak bisa mencari apa yang kita mau
Memang, tak bisa bercerita bagaimanakah kita bersama

Secarik luka yang kita buat bersama, 
Seolah tertutup oleh kesan manisnya kebahagiaan
Hatimu telah bercerita tentang busuknya aku
Hatimu telah bercerita tentang bagaimana hebatnya aku dalam impian syahduku
Hanya angan yang terbang membelit luka, hanya asa yang tergores kesan ma'af sekelebat angin

Benar, saat bertemu memang selalu menjadi kesan yang buruk
Saat bersama memang tak selalu bahagia
Berbagai konflik meredam emosi jiwa, dalam gejolak amarah

Namun, apa masih pantas aku menyebut kalian menyebalkan?
Disaat perpisahan telah menanti di ekor mata
Menjadi penanda keharusan kita berpisah
Menjadi individu baru lagi, di antara komunitas yang berbeda

Secarik kertas menjadi sangat berharga disaat angin mengancam untuk menerbangkannya
Bolehkan aku menyebut kalian teman?
Hanya sementara, selagi aku belum mau berpisah dengan kalian semua
Selagi aku masih rindu canda tawa kalian
Dengan cercaan, makian, dan tawa ejekan..Sangat manis 

Satu tahun sanngat berharga
Berbelit kerinduan yang sangat dalam dalam indahnya panorama suci
wajah wajah yang sangat indah, menorehkan kenangan yang sangat tajam
Kenangan indah ini akan selalu kukenang, 
bukan hanya lewat mimpi, tapi akan kutulis dalam haraapan masa depan


Selamat berjumpa lagi, Semoga kita bisa bertemu dalam keadaan yang sehat dan sukses!
(created by:desi. Ketika yang berharga tak selalu manis, tapi kesan torehkan perasaan rindu)
For all member 92 Bhawara50. love you!


Entah

Indah ya..
Melukis kertas bergaris dengan goresan tinta hitam
Membelai halusnya sahabat karet ini
Sampai merasakan tangan harus berkeringat menyembunyikan kebahagiaan
Di dalam dada, menggelora

Bergantung dengan suasana hati
Tidak dapat dibohongi, ataupun diingkari
Ini hanya akan menjadi rutinitas
Penghilang bahagia, dan pengobat duka

Tak banyak berfikir,
Hanya mengayunkan pena ini
Rasa percaya diri saja kurasa sudah cukup

Hanya kosakata umum yang didefinisikan lewat sepi.


  • Senja : Ketika mentari kembali ke peraduan, ketika bulan bersiap menjadi raja malam, dan disaat bintang bintang bersiap untuk berpesta.
  • Idola : Manusia yang indah, berlian asa dan perasaan. Ditentang untuk melebihi ruang pengharapan, namun menguasai pengendalian impian dan kebahagiaan. Inspirasi, setitik dari adanya keindahan di setiap renik gelap dalam kehidupan.
  • Cinta : Belum bisa tertulis, belum bisa terlukis, belum mampu merasakan. Hanya mengintip dari balik celah kecil di antara tembok yang mulai rapuh, menentang keinginan syahdu yang menjadi naluri insan. Menakutkan, jika terbayang harus ada air mata sebagai salah satu komposisinya.
  • Senyuman : sekecil pengharapan, penggambaran kebahasiaan, dan penciptaan keindahan. Ternaung menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bukan hanya asa, tapi akan menjadi impian, ketulusan, dan naluri kebahagiaan.
Created by desi. Disaat syahdu senja menyibakkan lentera inspirasi.

Senja:)

Senja itu anugrah
Mengingatkan mentari untuk melepas lelah
Menyambut bulan untuk tersenyum
Dan mengajak bintang untuk berpesta

Lembayung senja
Lukisan manis di ufuk barat
Indah cantiknya mengibas luka
Menggores kesendirian, menggapai keputus-asaan

Sinar yang membalut lengkungan langit
Menjelma menjadi hitam saat mentari memutuskan untuk berpulang
Menemani raga yang haus akan ketenangan jiwa
Membaur dalam indahnya manorama suci


(created by :DesiAtikaDewi)
Hanya membayangkan suatu panorama alam yang biasa dilihat saja menghasilkan suatu puisi. Indahnya alam memang tak akan ada habisnya, menikmati hidup memang sangat menyenangkan. Terimakasih ya, Allah:))