Rabu, 19 April 2017

Tirai Nirwana

Tatapanmu jauh menusuk
Merobek epitel,  menggapai basal basement
Mencari memaknai
Apa yang kudambakan dan kurengkuhkan dalam diri

Duhai lelaki,
Remah-remah sayap yang kupatahkan
Pagi ini kembali tumbuh semakin indah
Dengan tangisan semalam suntuk
Dan sedikit sinar hangat rindu doaku

Aku lah penadah duka
Aku lah Pengalir nestapa
Namun kaya karena arusnya
Tetap dijamah karena alurnya

Sepanjang tirai nirwanaku terbuka
kekokohanku menggapaimu
Tanpa bisa berdalih kesabaran adalah duka
Namun berjuta kali lagi aku merasa
Lihatlah mataku,
Tirai nirwanaku adalah kamu

Selamat pagi,  inspirasi kekosongan-a
Selamat 20hari lebih tanpa keterpaksaan saling mengingat
Di dalam kamarku, 
Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Bersama rasaku pagi ini, 
Terkirim surat kepada naungan kebahagiaanku
Sang inspirasi kekosongan

Selamat pagi,  naungan rinduku
Tentang apa yang kita bicarakan tempo lalu
Aku kembali mengiris dalam pemaknaan tentang kamu
Tentang apa yang kita sebut kasih sayang
Tentang apa yang kita sebut masa depan

Sayang, 
Lalu apa yang kautanam dalam hatiku,
kalau bukan tentang masa depanmu dan aku?
Berapa lama aku perlu tahu bahwa aku memilikimu?

Demi nirwana yang mengalirkan bahagia
Aku tak pernah lagi menganggap perpisahan adalah duka
Karna muaraku adalah ke-asa-anmu untuk yang kau sebut dalam doamu

Ketika nanti aku pergi,
Ketika nanti kamu menjauh,
Bolehkah doaku tetap terpanjat?
Bolehkah aku mengharapkan hanya sementara?
Kalau kau tanya seperapa dalam, bukan itu
Tapi tanpa batasan.
Aku berusaha, mengukurnya.
Tapi akhirnya selalu begitu,  lelahku menyerah tanpa makna. 

Yang Lalu

Dua tahun
Pojok keramaian yang digaduhkan dengan sengaja membuatku terpukau
Dengan irama mu melangkah menghias arena
Semut di tengkukku mulai tajam menyuntikkan racunnya
Gila,  ternyata sehebat ini jantungku bekerja!

Yogyakarta,  19 April 2017
Desi Dwi Siwi AD

Tanpa -Sendiri

Bukan tentang kita.
Rambut yang kubiarkan tergerai sore ini
Menggoda angin yang tak kurang genit menyapa senja
Estetikku hancur,
Tapi aku tetap rindu pada sepoinya

Bukan juga tentang kita. 
Kisah klasik tentang romeo dan juliette yang melegenda
Tidak membuatku berkutik dari hidung kucing kecilku
Ekornya yang mengenai tanganku
Haus akan kasih sayang yang kusampaikan lewat tangan
Semudah itu hariku layu, 
Melihat kucing kecilpun menuntut perhatian

Ini juga tetap bukan tentang kita. 
Lampu-lampu kota yang kubiarkan menyala dalam alarm malam
Menemaniku dalam bidik rindu yang kupertajam lewat senyuman
Malam ini,
Sekali lagi bukan tentang kita
Karena tetap saja;
Artian ceritaku tentang impian adalah rahasia dalam denyutan nafas yang kuciptakan
Sendiri. 

Yogyakarta, 19 April 2017
(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)
Persembahan untuk iftita,
Yang lahir tepat dihari aku mencari oksigen sendiri untuk bernafas. 

Hakekat

Badai malam ini teduh
Sekedar menghangatkan kuku kukuku memutih pucat
Menjadi selimut rambut tanganku yang kegelian
Kumaknai hipotermi sebagai kehangatan

Tempo hari,
Aku masih melihat hujan dikala malam adalah sendu
Momok petir yang mengancam gulitaku membahana
Perangai bulan yang setia-pun dijamah
... kerapuhan kelam

Ternyata begitu saja penerimaan
Seperti cengkeraman yang berubah menjadi kekuatan
Tak ada lagi goncangan yang melambangkan permusuhan
Akulah bahagia dalam diriku
Akulah dewi mentari bagi hidupku!

Yogyakarta,  19 April 2017
Desi dwi siwi atika dewi

Selasa, 21 Februari 2017

Elegi

(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)

Kaki bersila murung dibawah remang lampu kota
Pejalan kaki dijajah kaki lima di trotoarnya sendiri
Motor mobil berhamburan
Sepeda merajuk meminta kebebasan

Aku melihatmu,
Di sudut bulan membelakangi matahari
Sedang diam mengunci pilu
Enggan menengok menumpahkan betapa derasnya rinai di dalammu
Di dalammu, aku pun bersandar.

Sekuat apakah penantianmu akan bidikan angin kesepian, sayang?
Bukankah adalah aku jawaban dalam remah tawa dan candamu siang tadi?

Berikan tanganmu, asma kita adalah satu
Lepas kaitan siksamu,
Jemput apa yang menjadi pintu hidup mu dan aku.
Diamlah, bersabar.
Elegi kali ini adalah uji
..
Aku untukmu adalah waktu.

Untuk inspirasi kekosongan-a
Yogyakarta, 21 februari 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

Rintik Hujan

Kembali menyapa,
Rintik hujan ini datang dalam kenangan yang aku gambarkan
Melewati rindu yang kusejajarkan dengan doa,

Melipat raga, aku memejamkan mata
Melihat seringaimu malam itu
Aku lupa akan Lelah
Aku telah bebas dalam neraka pilu yang diseimbangkan dengan nelangsa
Magis,memang.

Dalam hangatnya pelukku
Aku sibuk mencarimu di sela rintik hujan malam ini
Rasanya, baru kemarin aku melihatnya bercermin
"Ganteng ya"
Lalu aku mematung menjadikanku batu karena lelah memuji

Kurasa,
rintik hujan ini puas memaksaku kembali dalam konotasi
Kamu adalah rintik hujan yang dikirimkan halus dalam rinduku
Menggelar pertunjukan berbagai suara dalam imajinata
Tidak berhenti mengaliri sawah kami meski dingin

Dan kepadamu, rintik hujan yang kupeluk hangat - hangat
Sebesar apapun buihmu dalam malam dan pagiku
Aku mencintaimu.

(Inspirasi Kekosongan-a)
Yogyakarta, 31 Januari 2017