Rabu, 30 Agustus 2017

kesalahan wanita adalah,
menganggap tinggi apa yang remeh
dan menganggap remeh apa yang tinggi
.
.
sehingga kadang tanpa sadar kita terjebak dengan emosi dan ego permasalahan menumpuk yang akarnya sederhana, namun menindihkan semuanya kepada permasalahan hati.
menangis tapi tidak mau terlihat sedih.
tertawa tapi tidak selalu ingin dianggap bahagia.
ingin dimengerti tanpa perlu cerita dengan benar- benar terfokus.
belajar tidak menciderai kebahagiaan orang lain dengan membungkam diri sendiri.
.
.
lalu mengeluh kenapa tidak ada satupun jeda yang datang,
meminta topangan tanpa tau maksud dan tujuan.



Yogyakarta
dinamika ke egoisan yang sempurna dijalankan.
kamu tidak akan pernah merasa benar - benar diabaikan, sampai ketika
lidahmu kelu dan rintik matamu menuntut dibagi.

namun senyum dan matanya tidak ingin diusik,
berbicara didepan telinga yang mendengar imaji lain,
dan memulai cakap dengan balasan tak bernyawa.

ada kalanya memang begini,
tidak perlu manja untuk mengeluh karena akhirnya akan sama.
bukannya tidak adil, tapi memang hantaran
bukan empathy, tapi tiada jiwa lagi. 

Sabtu, 08 Juli 2017

Rembulanku Jatuh

rembulanku jatuh kemarin,
Ketika aku meneteskan bening yang maknanya hierarki
Bersamaan dengan lunglainya tubuhku menghadap mentari

dalam doaku, 
Oh Tuhanku..
Begitu pahit mencabut belati dari tanah yang tersembunyi
Begitu menyayat mendengarkan diari hujan yang berulang kali disakiti awan
Begitu sulit menjelma menjadi kura kura yang tempurungnya tak paham akan kesakitan.

dalam nurani air mataku, 
Keraguan membuncah mengekang nestapa yang kulayangkan 
Berbagai elegi diri dan nurani perempuanku tercabik terlalu cepat

rembulanku jatuh kemarin, 
Aku yakin mendapatnya jatuh tanpa selipan selipan bintang
Mendaratkannya dengan keyakinan 
Mengajaknya lari dalam keraguan dan mengerti hakekat penerimaan
rembulanku telah sempurna jatuh, 
Di matamu.
Di dalam matamu.
Di dalam matamu yang kemudian kau alirkan menuju panji panji hidupmu. 

Yogyakarta, Desi Dwi Siwi Atika Dewi
8 Juli 2017.
(Inspirasi kekosongan-A)

Sabtu, 17 Juni 2017

Membunuhmu

Bukan suatu perkara besar sekarang melihatnya datang dan mengetuk.
Luka silam yang sama sama masih menganga. Tentang jiwa yang sama sama terluka. Kesalahan yang sama sama berbekas.
Tekadku telah bulat.
Aku telah membunuhnya.
Dalam.
Begitu dalam.

Sabtu, 20 Mei 2017

Malam ini aku kembali melihat kebelakang, tentang kesalahan dan kebenaran. Apa yang aku temukan sekarang? Berbagai hal yang baru berkecamuk, menjadi satu dalam perasaan tak berperi dan menjadi simfoni. Aku memahami bagaimana siklus dan pengharapan, tapi tentang itu semua..bahkan sampai sekarangpun aku bingung bagaimana harus memulai bahkan hanya untuk berfikir.

Rabu, 19 April 2017

Tirai Nirwana

Tatapanmu jauh menusuk
Merobek epitel,  menggapai basal basement
Mencari memaknai
Apa yang kudambakan dan kurengkuhkan dalam diri

Duhai lelaki,
Remah-remah sayap yang kupatahkan
Pagi ini kembali tumbuh semakin indah
Dengan tangisan semalam suntuk
Dan sedikit sinar hangat rindu doaku

Aku lah penadah duka
Aku lah Pengalir nestapa
Namun kaya karena arusnya
Tetap dijamah karena alurnya

Sepanjang tirai nirwanaku terbuka
kekokohanku menggapaimu
Tanpa bisa berdalih kesabaran adalah duka
Namun berjuta kali lagi aku merasa
Lihatlah mataku,
Tirai nirwanaku adalah kamu

Selamat pagi,  inspirasi kekosongan-a
Selamat 20hari lebih tanpa keterpaksaan saling mengingat
Di dalam kamarku, 
Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Bersama rasaku pagi ini, 
Terkirim surat kepada naungan kebahagiaanku
Sang inspirasi kekosongan

Selamat pagi,  naungan rinduku
Tentang apa yang kita bicarakan tempo lalu
Aku kembali mengiris dalam pemaknaan tentang kamu
Tentang apa yang kita sebut kasih sayang
Tentang apa yang kita sebut masa depan

Sayang, 
Lalu apa yang kautanam dalam hatiku,
kalau bukan tentang masa depanmu dan aku?
Berapa lama aku perlu tahu bahwa aku memilikimu?

Demi nirwana yang mengalirkan bahagia
Aku tak pernah lagi menganggap perpisahan adalah duka
Karna muaraku adalah ke-asa-anmu untuk yang kau sebut dalam doamu

Ketika nanti aku pergi,
Ketika nanti kamu menjauh,
Bolehkah doaku tetap terpanjat?
Bolehkah aku mengharapkan hanya sementara?
Kalau kau tanya seperapa dalam, bukan itu
Tapi tanpa batasan.
Aku berusaha, mengukurnya.
Tapi akhirnya selalu begitu,  lelahku menyerah tanpa makna.