Selasa, 21 Februari 2017

Elegi

(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)

Kaki bersila murung dibawah remang lampu kota
Pejalan kaki dijajah kaki lima di trotoarnya sendiri
Motor mobil berhamburan
Sepeda merajuk meminta kebebasan

Aku melihatmu,
Di sudut bulan membelakangi matahari
Sedang diam mengunci pilu
Enggan menengok menumpahkan betapa derasnya rinai di dalammu
Di dalammu, aku pun bersandar.

Sekuat apakah penantianmu akan bidikan angin kesepian, sayang?
Bukankah adalah aku jawaban dalam remah tawa dan candamu siang tadi?

Berikan tanganmu, asma kita adalah satu
Lepas kaitan siksamu,
Jemput apa yang menjadi pintu hidup mu dan aku.
Diamlah, bersabar.
Elegi kali ini adalah uji
..
Aku untukmu adalah waktu.

Untuk inspirasi kekosongan-a
Yogyakarta, 21 februari 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

Rintik Hujan

Kembali menyapa,
Rintik hujan ini datang dalam kenangan yang aku gambarkan
Melewati rindu yang kusejajarkan dengan doa,

Melipat raga, aku memejamkan mata
Melihat seringaimu malam itu
Aku lupa akan Lelah
Aku telah bebas dalam neraka pilu yang diseimbangkan dengan nelangsa
Magis,memang.

Dalam hangatnya pelukku
Aku sibuk mencarimu di sela rintik hujan malam ini
Rasanya, baru kemarin aku melihatnya bercermin
"Ganteng ya"
Lalu aku mematung menjadikanku batu karena lelah memuji

Kurasa,
rintik hujan ini puas memaksaku kembali dalam konotasi
Kamu adalah rintik hujan yang dikirimkan halus dalam rinduku
Menggelar pertunjukan berbagai suara dalam imajinata
Tidak berhenti mengaliri sawah kami meski dingin

Dan kepadamu, rintik hujan yang kupeluk hangat - hangat
Sebesar apapun buihmu dalam malam dan pagiku
Aku mencintaimu.

(Inspirasi Kekosongan-a)
Yogyakarta, 31 Januari 2017

Naungan

Naungan kebahagiaanku,
Maka lihatlah malam ini 
Sinar matamu menerangi malam biduan umat
Senyumu bahkan menjadi bulan yang ditatap mereka yang merasa dekat
Namun tanganmu tetap memilih diam, 
menyembunyikan aku yang terlelap dalam pikat

Naungan kesedihanku, 
Maka songsonglah janji kita
Dalam wajah rindu yang kugambarkan begitu pelik
Penuh kontra yang kita namakan pendewasaan
Aku tidak akan pernah lelah menjadikanmu alasanku,
dalam tangis diam dan peluh dukaku 

Sekali lagi,
Demi rintik hujan yang datang menentramkan malam
Tetaplah ada dalam harapan dan ingatanku
Karena kamu
Selamanya kamu
Adalah naungan dari segala asa yang kusimpan rapat dalam memori

(Inspirasi Kekosongan-a)
Yogyararta, 31 Januari 2017

Penadah Duka

Kembali bersama duka,
Sri Ningsih mengabur dalam hujan air mata

Sekelebat beban masa lalumu kembali datang
Hilir mudik disepanjang perjuanganmu
mengemis makan dan kesejahteraan

Aku menangis mengenang
Betapa banyak rindu yang kau tanam
Berapa kali luka menganga menjadi topangan
Berair lah bah dalam rumah yang kau perjuangkan

Untukmu, Sri ningsih
Tetaplah berbahagia dalam dukamu
Tetaplah menjadi senyum dalam perihmu

(Sri Ningsih, Tentang Kamu. Tere-liye)
yogyakarta, 31 Januari 2017

Rabu, 30 November 2016

Karena akupun tahu,

Karena selama ini aku tahu, hanya lewat tulisan tanpa suara pendapatku didengar. Hanya dengan laman ini aku dicari, hanya di halaman ini aku bisa berbagi tentang apa yang aku rasakan.
Aku tidak sesempurna itu, jika kedewasaan yang membuat dia tinggal, sudah sejak dulu dia memutuskan pergi dan mencari peraduan baru..
silahkan kau bayangkan bagaimana aku merengek hanya karena es krim yang tempatnya begitu jauh dari rumahku,
bagaimana aku selalu menagih coklat dalam setiap permintaan maafnya,
bagaimana aku bisa selalu menangis ketika rindu dan memaksanya untuk bertemu.
Itu bukan suatu kedewasaan. Aku paham bahwa pikiranku memang tidak patut untuk dilecehkan, karena aku memang selalu terbiasa dengan obrolan yang mendewasakan.
Aku juga belum punya hal yang patut kau inginkan, selain aku memilikinya.
Cobalah terbuka dengan pikiranmu.
Kau bukanlah sedang iri dengan segala tentang ku. Dan bukan hal - hal yang kausebut sempurna dalam dirikulah yang membuatnya tetap bersamaku.
Kau sedang mengingkari apa itu perpisahan.
kau masih terluka dengan segala penolakan
kau masih haus dengan semua balasan tindakan yang kau lakukan
kau masih berkutat dengan rindu yang selalu kau bayangkan terlepas karena bertemu
.
.
Maafkan aku dengan sikapku. Maafkan aku sekali lagi dengan keletihanku. Segala hal yang kau anggap menjadi penyebab keputusan kami tempo hari, adalah luapan dari semua kekhawatiranku akan diriku sendiri. Tidak mampu lagi melihat apa yang membuatmu begitu dan mulai tidak ingin peduli dengan apapun yang berhubungan dengan "iri"mu. Aku ingin menata hidupku sendiri, tanpa diawasi, tanpa dicampurkan dan dikaitkan dalam masalah yang selalu sama. Aku mulai lelah dengan segala rkecemasan yang selalu dikaitkan dengan perasaanku "apakah kamu baik?" "Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tetap baik?" "Apa kamu terganggu?" Jujur iya. Dan aku benar benar jenuh melihat dia selalu khawatir tentang perasaanku. Untuk itu aku dan dia memilih menjauh. 

Selasa, 29 November 2016

Aku dan Ego.

Sekali lagi aku membaca kiasanmu dengan senyuman.
Bukan senyuman tentang bagaimana aku merasa menang dan merasa kamu adalah kalah. Tetapi bagaimana menyadari bahwa sebenarnya penerimaanmu adalah seperti keponakanku, yang terlampau manja, sok menjadi dewasa dengan menunggu, tapi tidak pernah tau hakekat hidup yang sebenarnya. Tidak mau berbagi kerinduan dengan kedamaian. Mengharap semua yang hilang akan selalu kembali.
Sama seperti adik kecil keponakanku.
.
.

“Sudah berapa lama kita bersama, Sayang?”
Rasanya pertanyaan ini terlampau sering terluka di dalam benakku. Semakin menjalar dan ingin kutanyakan namun tertelan lagi karena ini adalah bentuk keraguanku tentang kebersamaan. Aku tidak akan pernah menyakan seberapa jauh kita melangkah, karna disadari atau tidak, diterima atu tidak, diingkari ataupun disepakati, kita adalah dua manusia yang berjalan dengan kapasitas kita masing masing. Aku berjalan sejauh ini, dengan langkahmu yang juga menentukan tujuan sendiri..
Aku memperbaiki diriku; tidak akan pernah bisa terukur dengan seberapa jauhnya kamu ikut berjalan dan membenahi hidupku. Tidak. Aku dan kamu memiliki hidup yang berbeda. Sejauh ini, seletih ini, sebenarnya kita adalah tetap berbeda. Aku dan kamu hanya menyadari bahwa di persimpangan jalan nanti ada tangan yang harus di genggam, ada bahu yang dikuatkan, ada senyum yang paling tulus dan menjadi hal paling kurindukan, ada nasihat yang banyak kutunggu, dan ada pengalaman yang akan dengan parau kita ceritakan. Sebelum kita berjalan lagi, dan menemui persimpangan jalan dengan diri yang lebih layak.
.
.
Gadisku, kamu adalah satu dari sekian rindu yang tak terbalas. Aku adalah satu dari beribu nasihat yang sempat kau rindukan. Sejak dulu, ketika tanganku belum tergenggam dengan separu hidupku sekarang, aku berkali-kali melihatmu terjatuh dalam esensi yang sama. Terperangkap dan masih terus memikirkan hal yang sebenarnya adalah ilusi.
Jika memang lelakiku pernah memintamu untuk tinggal, aku mengerti. Aku selalu tau dari arti matamu, meskipun pun lelakiku tidak pernah kuminta menceritakannya. Bahasaku selalu paham bahwa arti dari semua ini adalah

“….Tapi dia pernah memintaku untuk tinggal meskipun dia pergi. Agar dia bisa melihat betapapun aku mencintainya meskipun kehilangan. Agar dia bisa mengerti bahwa aku benar – benar mencintainya. Dan aku pernah berjanji untuk menunggu, sama seperti dia untuk tidak pernah pergi.”
Sekarang, bolehkah aku berbicara sebagai seorang sahabat lama?
Aku tidak akan melibatkan perasaanku dalam bait dibawah ini. Aku hanya mengerti meskipun lelakiku tidak pernah meminta mengerti. Aku tidak pernah tau sebenarnya adalah apa. Aku hanya menerka, ini lah yang terjadi dalam peliknya hubunganmu dengan janji yang kaubuat kala itu.
;
Aku memintamu berfikir sejenak.
Ketika dia memutuskan melihatmu menunggu, adakah janjinya untuk kembali dan menjemputmu?
Dikala itu, ketika romantisme masih membuatmu bahagia, adakah janjinya untuk kembali rindu setelah melihatmu menunggu dan menyakiti dirimu untuk tetap disini?
Adakah?
Karena aku hanya melihat matanya haus akan wanita yang benar – benar menyayanginya,
Selalu merasa tenang ketika dirinya melihat wanita yang dulu ia sayangi masih tetap berdiri menatapnya ketika dia merasa jenuh dan merindukan cinta lainnya.
Aku melihatnya dengan jelas. Berapa lama kau bersamanya? Apakah kau sudah menyadarinya ? atau hanya mengingkarinya?
Gadisku, janjinya untuk tidak pernah pergi tidak pernah terbukti.
Kau menyaksikan sendiri dan merasakan sendiri. Berapa ribu air mata yang kau alirkan dalam malam dan siangmu? Ada berapa dosa yang kau kumpulkan karena menyembunyikan luka?
Apa yang bisa kau cari lagi ?
Ketika yang –tidak akan pernah pergi- telah terbukti mati, kau sendiri yang menuliskan janji dalam hiruk pikuknya kehilanganmu dengan –ketika aku tinggal, dia akan kembali-
Bukan dia, sekali lagi…aku tidak pernah melihat itu dalam sosoknya. Bagiku, yang selama ini mengenalnya, aku mengerti bahwa arti kehilangan untuknya adalah siklus. Bagaimana yang datang akan pergi, yang hilang akan terganti. Ketika hilangmu ia rindukan karena sosok lain begitu jauh dari hiruk pikuk perasaannya, ia akan kembali melihatmu. Sekali lagi, memastikan bahwa dia adalah berharga dan satu – satunya di hatimu. Namun bukan kembali yang ia cari, namun semangat dan kesadarannya untuk kembali mencari sosok baru yang lebih dari dirimu.
Dia adalah lelakiku yang mencintai dengan logika. Dia adalah lelakiku yang mencintai bukan semata adalah bersama dan memaksa. Karena dia adalah sosok yang tidak akan pernah mengubah pendiriannya karena terpaksa.
Sekali lagi, berapa lama kau bersamanya?
Kenapa bisa kau melewatkan hal yang selalu ia tekankan dalam garis mata dan senyumnya?
Kehilangan baginya adalah buruk, gadisku. Jadi ketika pergi adalah pilihan terakhir, butuh jutaan detik lain yang menyadarkan bahwa pergi adalah kesalahan. Dan ketika dia bertemu dengan wanita yang tepat, tempat peraduan rindu dan keluh kesah, adalah pedih yang kau terima. Kasih sayangnya begitu besar, berkali lipat dibanding dengan kasihnya terhadapmu. Aku mengerti, karena aku merasakan. Kau tidak.
.
.
Sayang, sudah berapa rindu yang kita satukan ? aku meyakini bahwa aku dan kamu adalah rindu yang bersatu. Bukan sekedar keinginan untuk bertemu.
Aku meyayangimu kemarin sore. Seperti kembali dalam memori tahun lalu ketika orang tuamu masih ragu. Bagaimana aku dan segala tentangku. Selalu menayakan apakah aku adalah nakal atau baik. Selalu mencari apakah aku dewasa ataukah kekanakan. Sedang kamu? Menerima sambutan dari keluargaku karena semua sikapmu yang sungguh berbeda dari memori pilihanku yang dulu.
Mulai detik aku mencintaimu, aku tahu akan banyak rintangan yang mejadi satu saling mengisi benang kekosongan hubungan rajut kita. Sekian kali aku lupa rasanya menjadi baik dan egois dalam satu waktu. Aku mencintaimu, tapi banyak perasaan yang harus kita jaga sama sama. Tidak penting lagi perasaan cemburuku bagimu. Hanya untuk aku tenang dan menerima kondisimu ketika itu.
Taukah kamu? Sampai saat ini aku belajar begitu banyak hal tentang kita.
Bagaimana kau berjuang begitu keras untuk menyayangiku dengan rindu yang kulewatkan setiap malam dengan manja.
Bagaimana kamu menjagaku dalam aturan yang kusebut sayang.
Bagaimana nasihatmu untukku yang selalu membuat diam dalam sayang yang sama setiap mendengarnya.
Bagaimana pengorbananmu memelihara perasaanku yang terkadang lebih menyeramkan dibanding kucing di ujung jalan.
Bagaimana tentang cintamu yang terwujud dalam semua perlakuanmu.
Aku begitu berterima kasih atas itu. Cinta dan logikamu sejalan dengan logika tentang cintaku. Aku memahami bagaimana kita bisa diam dan saling sapa ketika itu. Dan aku memaknai bagaimana kita saling bergandengan dan diam dalam pelukan ketika air mataku selalu menuntut keluar kali ini. Kita adalah egoism yang dipersatukan karena waktu. Dan harapanku, waktu kita adalah tidak terbatas.
.
.
Akhir dari semua cerita yang pararel ini.
Gadisku, kembali lagi aku dan lelakiku merasa jenuh melihatmu masih disitu mengawasi kami yang tengah bertengkar, berdiam, mengaduh, mengeluh, saling memeluk, saling mengobati luka, menjaga rindu, mencuci hati, mengenali cinta bersama.
Kami adalah puing dalam cinta yang kausebut janji imajinasi. Aku adalah wanita yang terpaksa menjadi bait cinta sepadan dengan penerimaan karena ketakutannya mengenaliku sepertinya mengenalimu kini. Dan dia, adalah lelaki yang penuh luka. Dianggap penyebar pesona karena memisahkan sahabat lama, dianggap tidak bertanggung jawab dan bodoh karena membuang wanita cantik nan imut yang dengan tulus menyerahkan hampir tetesan darahnya. Bukan lagi dia, yang selalu mengumbar janji untuk selamanya, kini kabut dan janji itu berganti dengan trauma dan ketakutan pandangan buruk yang selama ini tidak pernah terpola justru terpatri dalam diri dan semua tentangnya.
Kami adalah rajutan sayang yang hangatnya selalu tidak kau harapkan. Sampai kapan kamu akan tetap diam dan berjuang dalam ketergantungan angin dan jemarinya menuntunmu?
Kenapa tidak kau mencoba memahami penerimaan dalam keegoisanmu sekali saja?
Kau selalu merangkai pola yang baru ketika mencoba untuk melupakan, untuk itu usahamu selalu sia sia termakan waktu. Tidak bisa katamu. Padahal usahamu adalah nihil karena pikiranmu adalah kembali dalam janji kosong yang rangkaiannya kau terka sendiri. Yang mengadakan apa yang tidak pernah terjadi. Menjalani apa yang tidak akan pernah terlaksana. Kau adalah batu, yang ketika bergerak membutuhkan kami untuk menghindar, yang ketika diam mengancam kami untuk mencari tempat lain.
Ayolah, berdamailah dengan masa lalu.
Kami akan bantu.
Dengan tidak akan pernah muncul sebagai stimulus besar dalam imajinasimu//

Yogyakarta,
Aku dan segenap perasaanku.


Sabtu, 26 November 2016

Esensi

Sekalipun, tidak akan pernah aku biarkan dirimu
terlelap dalam asa yang dipendam dalam - dalam.

Kau adalah harapan dalam lintasan pelangi di malamku,
juga pun sebagai hadiah dari rindu yang diucap ayah dan ibumu

Biarkanlah rapuhnya diriku membawamu bersama kita
Berjuang.

Mencari dan menelisik bagaimana esensi berjuang bersama
Menjaga dan memaknai betapa banyak darah yang kita paksa mengaliri jantung kita berdua
Lalu akhirnya, esensi ini adalah kekal
.
.
Leburan aku menjadi kamu adalah abadi
dalam lentera bahagia