Minggu, 22 Maret 2015

Sedang dalam masa hening.

Halo, jam 09.04
Kami sedang berada di dalam kelas. Seperti biasa, menikmati apa yang seharusnya didalami. Namun cara kami saat ini hanyalah menikmati apa yang membuat kami kadang menyesal, senang, padahal hanya pengharapan semu sebuah masa depan.
Aku sedang meresapi yang namanya menunggu, yang ditunggu - tunggu tanpa disadari semua umat manusia. Percaya kalau itu bisa saja melelahkan? Aku percaya. Tapi aku menolak mengadakan apa yang dimaksud kepercayaan akan kelelahan.

Kamu tau? Sebenarnya ini bukan masalah mudah untuk menyimpan semuanya, rapat namun menetes karena terikat angin. Pribadiku masih bertahan dengan pribadiku yang lama, tidak bisa terikat dengan apa yang namanya janji, apalagi harus digantungkan hanya karena hal sepele. Sejak kecil, banyak hal yang tidak kau ketahui. Aku tidak akan pernah bisa terkait dengan janji, apalagi tidak ditepati. Bukan salahmu jika melakukan ini.

Maaf membuatmu terjatuh beberapa kali, mungkin. Aku harap kau juga tahu kalau aku mengalami hal yang sama beberapa kali. Percaya akan apa yang dinamakan pengorbanan? Aku tidak merasakan aku melakukan apa itu pengorbanan. Aku hanya menerima ini sebagai salah satu wujud penerimaanku terhadapmu. Paham proses? Aku mengalaminya, tidak instan. Karena aku tidak mau munafik menampik apa yang kami sebut kenyataan. Aku marah,sesekali. Bukan kecewa karena sifatmu, tapi merenungi penerimaanku.

Ini sebabnya, kata maafmu justru membuatku semakin rentan. Takut ketika maafmu semakin menumpuk dan menjadi jengah. Aku takut, jelas. Bukan karena kehilangan, tapi penerimaanku justru membalik menjadi bumerang untukku sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar