Rabu, 30 November 2016

Karena akupun tahu,

Karena selama ini aku tahu, hanya lewat tulisan tanpa suara pendapatku didengar. Hanya dengan laman ini aku dicari, hanya di halaman ini aku bisa berbagi tentang apa yang aku rasakan.
Aku tidak sesempurna itu, jika kedewasaan yang membuat dia tinggal, sudah sejak dulu dia memutuskan pergi dan mencari peraduan baru..
silahkan kau bayangkan bagaimana aku merengek hanya karena es krim yang tempatnya begitu jauh dari rumahku,
bagaimana aku selalu menagih coklat dalam setiap permintaan maafnya,
bagaimana aku bisa selalu menangis ketika rindu dan memaksanya untuk bertemu.
Itu bukan suatu kedewasaan. Aku paham bahwa pikiranku memang tidak patut untuk dilecehkan, karena aku memang selalu terbiasa dengan obrolan yang mendewasakan.
Aku juga belum punya hal yang patut kau inginkan, selain aku memilikinya.
Cobalah terbuka dengan pikiranmu.
Kau bukanlah sedang iri dengan segala tentang ku. Dan bukan hal - hal yang kausebut sempurna dalam dirikulah yang membuatnya tetap bersamaku.
Kau sedang mengingkari apa itu perpisahan.
kau masih terluka dengan segala penolakan
kau masih haus dengan semua balasan tindakan yang kau lakukan
kau masih berkutat dengan rindu yang selalu kau bayangkan terlepas karena bertemu
.
.
Maafkan aku dengan sikapku. Maafkan aku sekali lagi dengan keletihanku. Segala hal yang kau anggap menjadi penyebab keputusan kami tempo hari, adalah luapan dari semua kekhawatiranku akan diriku sendiri. Tidak mampu lagi melihat apa yang membuatmu begitu dan mulai tidak ingin peduli dengan apapun yang berhubungan dengan "iri"mu. Aku ingin menata hidupku sendiri, tanpa diawasi, tanpa dicampurkan dan dikaitkan dalam masalah yang selalu sama. Aku mulai lelah dengan segala rkecemasan yang selalu dikaitkan dengan perasaanku "apakah kamu baik?" "Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tetap baik?" "Apa kamu terganggu?" Jujur iya. Dan aku benar benar jenuh melihat dia selalu khawatir tentang perasaanku. Untuk itu aku dan dia memilih menjauh. 

Selasa, 29 November 2016

Aku dan Ego.

Sekali lagi aku membaca kiasanmu dengan senyuman.
Bukan senyuman tentang bagaimana aku merasa menang dan merasa kamu adalah kalah. Tetapi bagaimana menyadari bahwa sebenarnya penerimaanmu adalah seperti keponakanku, yang terlampau manja, sok menjadi dewasa dengan menunggu, tapi tidak pernah tau hakekat hidup yang sebenarnya. Tidak mau berbagi kerinduan dengan kedamaian. Mengharap semua yang hilang akan selalu kembali.
Sama seperti adik kecil keponakanku.
.
.

“Sudah berapa lama kita bersama, Sayang?”
Rasanya pertanyaan ini terlampau sering terluka di dalam benakku. Semakin menjalar dan ingin kutanyakan namun tertelan lagi karena ini adalah bentuk keraguanku tentang kebersamaan. Aku tidak akan pernah menyakan seberapa jauh kita melangkah, karna disadari atau tidak, diterima atu tidak, diingkari ataupun disepakati, kita adalah dua manusia yang berjalan dengan kapasitas kita masing masing. Aku berjalan sejauh ini, dengan langkahmu yang juga menentukan tujuan sendiri..
Aku memperbaiki diriku; tidak akan pernah bisa terukur dengan seberapa jauhnya kamu ikut berjalan dan membenahi hidupku. Tidak. Aku dan kamu memiliki hidup yang berbeda. Sejauh ini, seletih ini, sebenarnya kita adalah tetap berbeda. Aku dan kamu hanya menyadari bahwa di persimpangan jalan nanti ada tangan yang harus di genggam, ada bahu yang dikuatkan, ada senyum yang paling tulus dan menjadi hal paling kurindukan, ada nasihat yang banyak kutunggu, dan ada pengalaman yang akan dengan parau kita ceritakan. Sebelum kita berjalan lagi, dan menemui persimpangan jalan dengan diri yang lebih layak.
.
.
Gadisku, kamu adalah satu dari sekian rindu yang tak terbalas. Aku adalah satu dari beribu nasihat yang sempat kau rindukan. Sejak dulu, ketika tanganku belum tergenggam dengan separu hidupku sekarang, aku berkali-kali melihatmu terjatuh dalam esensi yang sama. Terperangkap dan masih terus memikirkan hal yang sebenarnya adalah ilusi.
Jika memang lelakiku pernah memintamu untuk tinggal, aku mengerti. Aku selalu tau dari arti matamu, meskipun pun lelakiku tidak pernah kuminta menceritakannya. Bahasaku selalu paham bahwa arti dari semua ini adalah

“….Tapi dia pernah memintaku untuk tinggal meskipun dia pergi. Agar dia bisa melihat betapapun aku mencintainya meskipun kehilangan. Agar dia bisa mengerti bahwa aku benar – benar mencintainya. Dan aku pernah berjanji untuk menunggu, sama seperti dia untuk tidak pernah pergi.”
Sekarang, bolehkah aku berbicara sebagai seorang sahabat lama?
Aku tidak akan melibatkan perasaanku dalam bait dibawah ini. Aku hanya mengerti meskipun lelakiku tidak pernah meminta mengerti. Aku tidak pernah tau sebenarnya adalah apa. Aku hanya menerka, ini lah yang terjadi dalam peliknya hubunganmu dengan janji yang kaubuat kala itu.
;
Aku memintamu berfikir sejenak.
Ketika dia memutuskan melihatmu menunggu, adakah janjinya untuk kembali dan menjemputmu?
Dikala itu, ketika romantisme masih membuatmu bahagia, adakah janjinya untuk kembali rindu setelah melihatmu menunggu dan menyakiti dirimu untuk tetap disini?
Adakah?
Karena aku hanya melihat matanya haus akan wanita yang benar – benar menyayanginya,
Selalu merasa tenang ketika dirinya melihat wanita yang dulu ia sayangi masih tetap berdiri menatapnya ketika dia merasa jenuh dan merindukan cinta lainnya.
Aku melihatnya dengan jelas. Berapa lama kau bersamanya? Apakah kau sudah menyadarinya ? atau hanya mengingkarinya?
Gadisku, janjinya untuk tidak pernah pergi tidak pernah terbukti.
Kau menyaksikan sendiri dan merasakan sendiri. Berapa ribu air mata yang kau alirkan dalam malam dan siangmu? Ada berapa dosa yang kau kumpulkan karena menyembunyikan luka?
Apa yang bisa kau cari lagi ?
Ketika yang –tidak akan pernah pergi- telah terbukti mati, kau sendiri yang menuliskan janji dalam hiruk pikuknya kehilanganmu dengan –ketika aku tinggal, dia akan kembali-
Bukan dia, sekali lagi…aku tidak pernah melihat itu dalam sosoknya. Bagiku, yang selama ini mengenalnya, aku mengerti bahwa arti kehilangan untuknya adalah siklus. Bagaimana yang datang akan pergi, yang hilang akan terganti. Ketika hilangmu ia rindukan karena sosok lain begitu jauh dari hiruk pikuk perasaannya, ia akan kembali melihatmu. Sekali lagi, memastikan bahwa dia adalah berharga dan satu – satunya di hatimu. Namun bukan kembali yang ia cari, namun semangat dan kesadarannya untuk kembali mencari sosok baru yang lebih dari dirimu.
Dia adalah lelakiku yang mencintai dengan logika. Dia adalah lelakiku yang mencintai bukan semata adalah bersama dan memaksa. Karena dia adalah sosok yang tidak akan pernah mengubah pendiriannya karena terpaksa.
Sekali lagi, berapa lama kau bersamanya?
Kenapa bisa kau melewatkan hal yang selalu ia tekankan dalam garis mata dan senyumnya?
Kehilangan baginya adalah buruk, gadisku. Jadi ketika pergi adalah pilihan terakhir, butuh jutaan detik lain yang menyadarkan bahwa pergi adalah kesalahan. Dan ketika dia bertemu dengan wanita yang tepat, tempat peraduan rindu dan keluh kesah, adalah pedih yang kau terima. Kasih sayangnya begitu besar, berkali lipat dibanding dengan kasihnya terhadapmu. Aku mengerti, karena aku merasakan. Kau tidak.
.
.
Sayang, sudah berapa rindu yang kita satukan ? aku meyakini bahwa aku dan kamu adalah rindu yang bersatu. Bukan sekedar keinginan untuk bertemu.
Aku meyayangimu kemarin sore. Seperti kembali dalam memori tahun lalu ketika orang tuamu masih ragu. Bagaimana aku dan segala tentangku. Selalu menayakan apakah aku adalah nakal atau baik. Selalu mencari apakah aku dewasa ataukah kekanakan. Sedang kamu? Menerima sambutan dari keluargaku karena semua sikapmu yang sungguh berbeda dari memori pilihanku yang dulu.
Mulai detik aku mencintaimu, aku tahu akan banyak rintangan yang mejadi satu saling mengisi benang kekosongan hubungan rajut kita. Sekian kali aku lupa rasanya menjadi baik dan egois dalam satu waktu. Aku mencintaimu, tapi banyak perasaan yang harus kita jaga sama sama. Tidak penting lagi perasaan cemburuku bagimu. Hanya untuk aku tenang dan menerima kondisimu ketika itu.
Taukah kamu? Sampai saat ini aku belajar begitu banyak hal tentang kita.
Bagaimana kau berjuang begitu keras untuk menyayangiku dengan rindu yang kulewatkan setiap malam dengan manja.
Bagaimana kamu menjagaku dalam aturan yang kusebut sayang.
Bagaimana nasihatmu untukku yang selalu membuat diam dalam sayang yang sama setiap mendengarnya.
Bagaimana pengorbananmu memelihara perasaanku yang terkadang lebih menyeramkan dibanding kucing di ujung jalan.
Bagaimana tentang cintamu yang terwujud dalam semua perlakuanmu.
Aku begitu berterima kasih atas itu. Cinta dan logikamu sejalan dengan logika tentang cintaku. Aku memahami bagaimana kita bisa diam dan saling sapa ketika itu. Dan aku memaknai bagaimana kita saling bergandengan dan diam dalam pelukan ketika air mataku selalu menuntut keluar kali ini. Kita adalah egoism yang dipersatukan karena waktu. Dan harapanku, waktu kita adalah tidak terbatas.
.
.
Akhir dari semua cerita yang pararel ini.
Gadisku, kembali lagi aku dan lelakiku merasa jenuh melihatmu masih disitu mengawasi kami yang tengah bertengkar, berdiam, mengaduh, mengeluh, saling memeluk, saling mengobati luka, menjaga rindu, mencuci hati, mengenali cinta bersama.
Kami adalah puing dalam cinta yang kausebut janji imajinasi. Aku adalah wanita yang terpaksa menjadi bait cinta sepadan dengan penerimaan karena ketakutannya mengenaliku sepertinya mengenalimu kini. Dan dia, adalah lelaki yang penuh luka. Dianggap penyebar pesona karena memisahkan sahabat lama, dianggap tidak bertanggung jawab dan bodoh karena membuang wanita cantik nan imut yang dengan tulus menyerahkan hampir tetesan darahnya. Bukan lagi dia, yang selalu mengumbar janji untuk selamanya, kini kabut dan janji itu berganti dengan trauma dan ketakutan pandangan buruk yang selama ini tidak pernah terpola justru terpatri dalam diri dan semua tentangnya.
Kami adalah rajutan sayang yang hangatnya selalu tidak kau harapkan. Sampai kapan kamu akan tetap diam dan berjuang dalam ketergantungan angin dan jemarinya menuntunmu?
Kenapa tidak kau mencoba memahami penerimaan dalam keegoisanmu sekali saja?
Kau selalu merangkai pola yang baru ketika mencoba untuk melupakan, untuk itu usahamu selalu sia sia termakan waktu. Tidak bisa katamu. Padahal usahamu adalah nihil karena pikiranmu adalah kembali dalam janji kosong yang rangkaiannya kau terka sendiri. Yang mengadakan apa yang tidak pernah terjadi. Menjalani apa yang tidak akan pernah terlaksana. Kau adalah batu, yang ketika bergerak membutuhkan kami untuk menghindar, yang ketika diam mengancam kami untuk mencari tempat lain.
Ayolah, berdamailah dengan masa lalu.
Kami akan bantu.
Dengan tidak akan pernah muncul sebagai stimulus besar dalam imajinasimu//

Yogyakarta,
Aku dan segenap perasaanku.


Sabtu, 26 November 2016

Esensi

Sekalipun, tidak akan pernah aku biarkan dirimu
terlelap dalam asa yang dipendam dalam - dalam.

Kau adalah harapan dalam lintasan pelangi di malamku,
juga pun sebagai hadiah dari rindu yang diucap ayah dan ibumu

Biarkanlah rapuhnya diriku membawamu bersama kita
Berjuang.

Mencari dan menelisik bagaimana esensi berjuang bersama
Menjaga dan memaknai betapa banyak darah yang kita paksa mengaliri jantung kita berdua
Lalu akhirnya, esensi ini adalah kekal
.
.
Leburan aku menjadi kamu adalah abadi
dalam lentera bahagia

Jumat, 25 November 2016

Cerita Arjuna



Selamat malam, 


Malam ini aku akan membagi cerita bagaimana melintasi rindu dan patah hati dalam satu waktu untuk memenangkan hati seorang arjuna.

Setahun lalu, masih sama saja aku dan kamu adalah teman baik yang membagi kertas ulangannya untuk diisi. Masih ingat ketika jemarimu masih saja mengeluh ketika tanganku mengaduh dalam balutan pen. “tolong tuliskan sedikit, dong!”

Setahun yang lalu, tatapan matamu masih saja menjauh. Dengan aku yang menyorot diriku dalam kebimbangan jalan mana yang aku impikan. Kita masih sama – sama memperjuangkan apa yang kita sebut kasih sayang. Bedanya, kau terpaksa menelan putus asa dan mengajakku berlari, namun aku memilih diam sejenak melihat mata sayu yang terdiam disudut melihat jemarimu menggenggamku begitu erat. Percayalah, rasaku ketika itu bukanlah sayang yang sebesar cintanya kepadamu. Bukan juga sayang yang bisa kau janjikan kesetiaannya. Mataku masih ragu melihat jemarimu. 

Ini adalah tentang pilihan. Begitu sulitnya menjadi pemenang di antara jarum yang jahitannya lebih rapih dan halus. Bagaimana menjadi bulan ditengah bintang yang gemerlapnya merata dan meraja. Bagaimana mungkin lagi menggantikan matahari hanya dengan lampuku yang redup dikala listrik muka bumi padam. Aku takut tidak akan pernah bisa lagi menggantikan. karenanya.

Berjalannya waktu, aku memilih terdiam dalam asa yang mulai menemukan empunya. Aku melihatmu begitu sejati dalam nadiku setiap malam menjemput mimpiku. Namun bagaimana bisa ketika pagi adalah tangis yang kujumpai. Menderitanya rindu dan membagi kasih. Bagaimana bisa aku tidak rela tentang cerita masa lalumu. Aku, dalam sadar dan lamunanku jelas teringat bagaimana wajah itu memohon untuk aku “Jangan sayang banget sama aku, ya?” Ketika aku telah menjadi rindu yang kau ajak berdamai dengan masa lalu. Bagaimana rasa ragu itu begitu cepat menyerap semua energy kepercayaanku. Karena bagimu, aku adalah yang kedua. 


Sejatinya, energy adalah kekal.  Namun bagiku begitu sulit mengumpulkan berjuta energy untuk menyembunyikan rasa sakit. Ketika perasaanmu kau jaga untuk rasa sakit yang lainnya. Ketika berulang kali akujuga terluka ketika kau menutup luka lama dalam punggungmu. Aku masih saja sama, menjadi bahagia karena ada dalam sisimu. Tapi raguku di ubun – ubun. Ungkapan sayangku adalah obat penenang bagi jiwaku yang memberontak kala itu. 

Arjuna tetaplah arjuna. Berbagai rindunya mematok janji yang membuatku mengalun merdu dalam sayang dan cintanya. Berjuta kali aku memandangku adalah rindu yang tak akan pernah usai karena ucapan dan tatapan matanya. Aku mulai lupa hakekat berbagi. Dalam kehidupanku, aku hanya melihat menjadi kekal dalam cinta, hanyalah tersisa ketegasan dan keegoisan. Arjunaku adalah milikku. Dan raguku adalah milikku. Dalam waktu itu, aku melihat bagaimana mataku mengering dan peluhku menetes mengatasi ragu yang kurangkai menjadi percaya. Tentang kamu, aku begitu rindu menjadi kekal dalam matamu, aku begitu merindu aroma sayang yang membuat raguku hilang bentuk dan tersihir dalam api perapian malam itu. 

Maafkan aku bila sekarang enggan mengulang bagaimana sakitnya terbagi dan melihatmu menjaga perasaan gadis lain lagi. Maafkan aku jika memintamu tetap begini. Menjagaku entah untuk yang keberapa kali aku menahan jatuh dalam topanganmu. Hanya terima kasih dan salam cinta yang bisa aku sematkan dalam darah dan jantungmu. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya jika kau mau.
Maafkan aku juga kepada hati yang begitu sakit melihatku. Karena kau tau? Bagaimana cinta bisa semakin memdudar karena dipaksakan. Aku tidak akan pernah merelakan arjunaku dalam lembah dingin yang kembali memintaku berhenti menyayanginya. Bagaimana perasaanmu membuatnya jatuh dalam elegi yang tidak akan pernah kumaafkan keberadaannya. Menangis dalam peraduan dan menyisakan pilu di dalam sana. Maka tatalah kehidupanmu dengan baik, dengan pemilihmu yang baru. Jangan lagi ada di antara mataku, aku terluka. Sama sepertimu. Memang lebih baik aku dan kamu tetap diam dalam keasingan. Agar rindumu menjadi angin yang terlupakan, dan kesedihan akan keterpaksaan selama ini bisa kau hilangka dalam imajinasi kecilmu. Ini tentang pilihan. Dan untukmu, maafku selalu terucap dalam doa dan permohonanmu. Namun ingatlah, ketika pilihan menjauh adalah takdir, maka jangan lagi datang untuk menjadi takdir baru yang membuatnya semakin rumit. Aku tau kau semakin paham. Semoga bahagia dengan jalanmu. 

Dan untuk arjuna dalam ceritaku. Apakah kita akan selamanya ? Ataukah terpisah di ujung jalan nanti? Masalah kita kini adalah mempersiapkan bagaimana jalan untuk ditempuh nanti, seberapa tau kita tentang tujuan akhir dalam hidup kita? Membelok atau masih terus? Berlanjut atau menyimpang ? Bersama atau harus terpisah ? Apakah masih penting sekarang jika aku melihat matamu dalam impianku? Adalah rindu yang memisahkan jarak. Adalah cinta yang meniadakan ragu. Adalah jalan yang menentukan akkhir. Saat ini, aku mencintaimu sepertimu pun kepadaku. Aku tidak butuh kepastian untuk tetap berjalan beriringan denganmu. Ketika akhir kita adalah bahagia seperti kala ini, lupakan aku yang pernah ragu dalam hidupmu. Namun, ketika akhir kita tetaplah berbeda, ingat selalu apa yang aku tanamkan kepadamu. Jangan pernah anggap aku pernah menjadi bagian dari separuh hidupmu, agar kita bisa tetap menjalani hidup berdua, bahagia dengan kehidupan kita masing – masing kelak. 


Aku tidak pernah memintamu untuk disini selamanya. Aku hanya memintamu jangan pernah meninggalkanku berjuang sendirian. 


Aku tidak ingin engkau menahan dirimu untuk pergi ketika jalan terbaik adalah menjadi asing. Aku hanya memohon agar dalam jalannya temanilah aku mencari pintu keluar dan mencoba bersama sekali waktu. 


Aku tidak akan merusak keinginanmu untuk mencari yang melebihi aku. Aku hanya merindukanmu menerimaku ketika aku adalah benar baik bagimu. 


Maka dalam cerita ini, tidak akan ada epilog. Yang ada hanyalah jalan kita, bagaimana kita akan terus mencoba bersama meskipun pikiran kita sama sama tidak akan pernah berfokus. Aku masih memiliki naluri wanita, melihat lelaki tampan bertebaran. Kaupun juga, melihat wanita cantik mempesona melirikmu dalam sekali waktu membuatmu tersenyum. Namun, bisakah kita menjaga semua? Maka epilog ini adalah tentang mencoba menjadi baik dalam aku dan kamu sebagai subjeknya. Sehingga alasan bertahan akan selalu ada dalam pikiran dan naluri kesetiaan aku dan kamu.

Yogyakarta,
25 November 2016.
Dengan sabar, aku mencintaimu yang selalu sabar menjadi arjunaku.

Kamis, 24 November 2016

Surat Cinta Tanpa Dusta

Beberapa kali aku menemukanmu
Dalam sajak yang dikirim lentera tanpa pengampunan
Menciderai satu demi satu ingatan yang ingin kupikunkan saja

Lalu aku menatapmu lagi,
"Seberapa besarkah keyakinanku?"
Seperti Senja sore tadi yang kembali menjanjikan esok
Apakah jika pilihan rapuh kelak kita adalah perpisahan, janjimu juga sama ?
Persepsiku terlalu dalam mencacar lukamu

Demi neptunus yang menganga membaca suratku!
Janganlah pergi sebelum mati rindumu
Singgahlah sampai nadiku terdiam dalam senyap bongkahan
Karena dalam relungku terpatri bayangan matamu
Karena puisiku selalu haus kiasan indah rinduku padamu. 

Yogyakarta, 16 Sept 2016
Dalam sajakku; Inspirasi Kekosongan-a


;

Aku tidak punya lagi semangat
Seluruh tubuhku terlalu menurut 
Pagi ini, aku kembali menggigil
Mataku menggambarkan refleksinya 
"Kenapa?"
Aku hanya sedang ingin diam, 
Sesaat

Senin, 27 Juni 2016

Tentang inspirasi kekosongan

Selamat malam, tentang inspirasi kekosongan akan mulai kuceritakan dari sini.
Inspirasi kekosongan adalah inspirasi yang selalu datang karena kosong, baik itu kosong karena hambar atau karena terlalu penuh. Inspirasi yang datang karena rindu yang menggerus atau sayang yang memuncak. Biasanya, ini akan terdengar seperti begitu rumit, namun untukku adalah sederhana.
Inspirasi kekosonganku adalah jalan rinduku yang tanpa batas. 
Inspirasi kekosonganku adalah sayang yang batasannya adalah hidup dan mati.
Inspirasi kekosonganku adalah dia yang mampu membawa nyawa dalam setiap pena dan kertasku.
Mengenai siapa sebenarnya? Dia adalah ketiga hal itu, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut karena perinciannya hanya akan membuat semakin kabur. Bagiku, rahasia adalah tetap rahasia. Dan inspirasi kekosongan, adalah perincian yang sangat abstrak untuk diutarakan. 
Jika nanti puisiku tidak bernyawa, maka rinduku mulai mengendur karena ditinggalkan. 
Dan suatu saat jika susunan kataku terasa pahit dipandang mata, adalah aku yang menulis meredam duka. 
Sampai kapanpun, inspirasiku adalah inspirasi kekosonganku yang meniupkan nyawa. Semoga semestinya memang begitu. 
Agar esok pagi, aku tidak pernah kehilangan nyawa dalam pena dan kertasku.
Tetap disini, dan menjadi inspirasi kekosonganku.

Kamis, 28 April 2016

;

Captain;Civil War
Terhenti. Sama seperti 500 meter didepan mataku. Macet menjelang sore hari. Mengutuk diri kenapa selama beberapa detik dalam khayalanku.
2 tiket sudah ditangan, aku tidak ingin melirik photo box dengan ekor mataku.
"Pasti anak anak alay sedang berpose di dalam sana. Hahaha" tapi asal kalian tau;sayangnya aku ingin menjadi salah satunya.
Namun hmmmm, sepertinya penampilanku sore ini masih belum cocok diabadikan bersama dengan inspirasi kekosonganku.
Oh tidak. Lebih tepat bahwa kami memang tidak ingin disejajarkan dengan makhluk alay lain yang mengunjungi mall ini.

Berbincang.
Em ini hal yang biasa dalam kamus kehidupan sehari hari. Aku begitu menikmati hilir mudik pasangan remaja dan renta yang disibukkan dengan gadget, celingukan, dan obrolan khas sosialita.
Berbeda, aku memilih memesan kopi pahit yang dilabeli mocca;gulaku masih utuh karena mataku manis melihat matamu.
Gila. Suasananya suka.
Berkalikali aku jatuh cinta dengan tawa-mu, berkalikali aku menyayangi matamu, dan berulang kali aku melupakan semuanya seolah2 ini adalah moment pertama disetiap harinya. Bodoh.

Tetapi aku masih meruntuk seiring kakiku yang melangkah bersamamu. Seberapa jauh aku harus bersembunyi untuk melihatmu menegakkan kepala ketika aku bersamamu? Seberapa jengkal jarak kira agar terasa pas untuk dilirik orang lain?
Aku tidak ingin menganalisis jarak ini terlalu jauh, tidak penting. Aku hanya perlu berusaha meyakinkanmu dengan perjuanganku kini. Entah kau sadari atau tidak, inspirasi kekosonganku tidak akan pernah digantikan oleh orang lain. Terimakasih atas jarak ini, tunggu aku membuktikan bahwa "ini wanitaku" bukan hal yang awam lagi di otakmu.
Dear you, i love you❤

Kamis, 14 April 2016

Nothing can describe,
Im totally fall into you bb
.
.
Dear girls,
I know he is cute
But i think he is (still) mine.

Ingin

Aku ingin mengikatmu di ranting tubuhku
Hingga aku bisa tetap menyentuhmu,
Selagi menjaga daun daun hijauku

Aku ingin mengikatmu di ranting tubuhku
Agar pergimu adalah angin yang kencang
Agar pergimu adalah hujan badai
Agar pergimu adalah keropos dalam badan
Adalah takdir.

Teriring doa memiliki dengan sepoi angin malamku;lagi lagi aku mencintaimu.
Yogyakarta, 14 april 2016
(Inspirasi kekosongan-a)

Dialog sore hari

Dialog sore ini
Kutemukan di antara sejuta bahasa kita,
Tentang kasih sayang
Tentang cinta yang kupancarkan dalam sinar mataku

Dialog sore ini
Kuselipkan antara gulungan ombak
Membasahi mata kaki kita yang riuh
Karena terjalnya pasir putih

Dialog sore ini
Kukirimkan melewati sore yang menanti malam
"Lalu apa yang bisa kau pikirkan selain mencintaiku, bodoh?"
Kau bertanya dengan sindiran sayang
"Menunggumu mencintai dan menjadikanku satu dalam hidupmu"
Rembulan tersenyum

Yogyakarta.
14 april 2016
(Inspirasi kekosongan-a)