Kamis, 17 Maret 2016

Bercinta dengan Semu

Sore ini
Cakrawala menyembunyikan kilau mentari
Awan berlari, bergoyang klasik
menuju riuhnya permainan merpati
Mobil mobil mengitari ramai jalanan kota senja
Menyembunyikan koruptor kelas kakap yang berjas hitam dalam badannya
Anginpun berbisik,
tentang cerita anggun dari amplop surat kesepian,
pagi tadi

Aku terduduk dalam alunan ramai sambutan rembulan
Memandang kubangan air didepanku
Yang akan menghias pakaianku ketika terpaksa terinjak
Bukan heran,
Otakku bahkan sedang kacau
Berfikir tentang cerita angin

"Aku bercinta denganmu, semu
Aku memilikimu, semu
Lalu kau pergi dalam darah yang kupompa mati-matian setiap detiknya"
Untuk apa? Katanya
"Untuk menjadikanmu utuh dalam diriku
Tapi tak apa,
Karna cintaku masih berbalas semu
Tetaplah ada dalam kesemuan pikiranku"

Bukankah itu surat untukmu, Tuhan ?
Aku menulisnya semalaman untuk kau kabulkan

Yogyakarta, 17 maret 2016
(Inspirasi kekosongan-a)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar