Selasa, 22 Desember 2015

Menangislah Kata

Menangislah kata
Ketika nalurimu tidak lagi cukup
Mengubah kesepian remah menjadi keramaian sunyi
Berjajar disana mencoba mengukir;
Kasih cinta hujan kepada awan
Kami mengisi hidup dengan kata kata
Berlogika seperti katamu dulu
Bermakna seperti kataku
Aah Aku sampai lupa. Apa katanya?
Apakah menguras keingintahuan api kepada kayu tentang kesederhanaan?
Apakah membungkam kelogisan kayu terhadap api tentang kasih sayang?
Persaingan kata-mu mengais rinduku
Perjanjian kata-mu mencuri titik butaku
Kata - katamu yang tak berguna itu
Membuatku jatuh merasakan keberdayaan
Yang melayang karena kejujuran
Yang menguap oleh kesadaran
Sadarkah kau?
Karena kata - kataku mulai menangis.
Menangislah kata

Yogyakarta, 23 desember 2015
(Inspirasi kekosongan-a)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar