Jumat, 20 Juli 2018

Bukankah semakin mudah ketika manusia berfikir bahwa hidup adalah tentang pengolah pengalaman dan menyesapkan penerimaan?
Dengan begitu, mungkin masalah manusia akan lebih mudah disederhanakan, bukan mengaitkan bagaimana proses dan seberapa banyak pengorbanan. Semuanya akan berupa logika sudut pandang dan kedewasaan,
membayangkannya saja membuatku nyaman. 

Kamis, 26 April 2018

Lamentasi Bersama Sepi


Kuperhatikan Jemari kakiku yang sedang enggan menari
Bisa kurasakan,
Angin yang dengan elok membelai nurani
Bisa kudengar
Alunan rintik hujan yang mengiringi jangkrik membawakan melodinya

Kuratapi lagi berjuta imaji,
Kemauan dan mimpi,
Kebohongan dan ilusi,
Bahkan Keramaian hingga sepi

Kepalan tanganku semakin menjadi,
Mengingat betapa manisnya melupakan janji
Tanpa menengok hati
yang mungkin mengampu asanya setiap pagi

Sampai kepada malam ini,
Lamentasi ini bahkan menggerogoti makan malamku akan sepi

Yogyakarta, 2 Januari 2017
Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Miasma Sore Hari

Matahari menggantikan bulan
Berkeliling dan berceloteh
Burung - burung menggapai angin
Berlarian riang tanpa akhir pandanganku
Bunga - bunga bermekaran
Mendayu menyingkap duri memanggil rajanya

Kalau saja pagi masih bisa begini,
Rela kubiarkan tubuhku dibelai miasma sore harinya
Untuk pagi yang selalu lebih indah dikenang
Sendiri
Di tengah perjuangan berdikari

Yogyakarta, penghujung 2017. 

Jumat, 15 Desember 2017

Pengasingan

Daun daun masih bersemi
Dinaungi embun selapis 

Batang pohonnya menggigil,
Dingin meresap sampai xylem dan memintanya diam untuk meringkuk

Akarnya tidak bergeming
Dengan geliat cacing dalam mimpinya
Bersamaan akar lain yang merundung pilu

Terjaga dalam pengasingan 

Aku menjadi apa yang aku rindukan

Yogyakarta, desember 2017.

Rabu, 30 Agustus 2017

kesalahan wanita adalah,
menganggap tinggi apa yang remeh
dan menganggap remeh apa yang tinggi
.
.
sehingga kadang tanpa sadar kita terjebak dengan emosi dan ego permasalahan menumpuk yang akarnya sederhana, namun menindihkan semuanya kepada permasalahan hati.
menangis tapi tidak mau terlihat sedih.
tertawa tapi tidak selalu ingin dianggap bahagia.
ingin dimengerti tanpa perlu cerita dengan benar- benar terfokus.
belajar tidak menciderai kebahagiaan orang lain dengan membungkam diri sendiri.
.
.
lalu mengeluh kenapa tidak ada satupun jeda yang datang,
meminta topangan tanpa tau maksud dan tujuan.



Yogyakarta
dinamika ke egoisan yang sempurna dijalankan.
kamu tidak akan pernah merasa benar - benar diabaikan, sampai ketika
lidahmu kelu dan rintik matamu menuntut dibagi.

namun senyum dan matanya tidak ingin diusik,
berbicara didepan telinga yang mendengar imaji lain,
dan memulai cakap dengan balasan tak bernyawa.

ada kalanya memang begini,
tidak perlu manja untuk mengeluh karena akhirnya akan sama.
bukannya tidak adil, tapi memang hantaran
bukan empathy, tapi tiada jiwa lagi. 

Sabtu, 17 Juni 2017

Membunuhmu

Bukan suatu perkara besar sekarang melihatnya datang dan mengetuk.
Luka silam yang sama sama masih menganga. Tentang jiwa yang sama sama terluka. Kesalahan yang sama sama berbekas.
Tekadku telah bulat.
Aku telah membunuhnya.
Dalam.
Begitu dalam.