Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2015

Pusara Cinta

Aku kembali melirik Zayan bersama kelima anakku. Adhis, Bila, dan si kembar Cheysaa, Danis, dan Elsa. Mereka sedang bermain dan belajar melukis bersama ayahya, sebuah ritual yang dilaksanakan keluarga kami ketika suntuk dan butuh hiburan. Minggu keempat bulan Desember. Akhir pekan sekaligus akhir tahun yang membuat keluargaku semakin dekat karena liburan. Tidak ada kemacetan, karena tahun ini, tepat 2 tahun usia pernikahanku dengan Zayyan. Kami hanya akan mengunjungi pusara tempatku menikah, hanya untuk mengenang hari hebat setelah penantian 15 tahun terindah dalam hidupku. 

--------------------------------------------------------------------------------------
"Kerjakan semuanya. Laporan ini harus dikirim ke emailku jam 11 malam ya, Ri.. Aku percaya kepadamu"
Lelaki tua itu akhirnya meninggalkan ruanganku dan meninggalkan setumpuk laporan keuangan yang harus kukerjakan ulang. Seperti biasa, lemburan di malam minggu. 

"Lembur lagi, nggak capek? Usiamu sudah 39 tahun dan masih saja mau diperbudak. Ririiii ririii, kapan kamu nikah? sudah pinter begitu, cekatan lagi", Satu - satunya teman baikku di kantor ini, Derinda mulai gerah dengan tabiatku yang melupakan kebiasaan remaja. 

"Sudah biasa juga kan? Lagi pula aku tidak memikirkan menikah saat ini, Der. Pekerjaan ini cukup saja membuatku merasa memiliki suami dan anak anak yang imut seperti kau dan keluargamu", Jawabku asal asalan. Reaksinya seperti biasa, Derinda kemudian pergi dan menyunggingkan senyum pahit ala ibu - ibu muda melihat kawannya seperti perawan tua.

Sepi. Suasana seperti ini yang aku suka. Melihat matahari mulai terbenam di ufuk barat, menjanjikan pagi - pagi yang selalu indah kepada makhluk. Aku terdiam memikirkan ini lagi. 15 tahun sudah aku memilih jalan hidupku. 
--------------------------------------------------------------------------------------

Setelah divonis tidak akan bisa bertahan dengan kehamilan, aku memutuskan mengakhiri kisah cintaku yang telah berlangsung 5 tahun. Bagaimana bisa seorang lelaki yang kau ajak berimajinasi dengan keluarga besar mampu bahagia ketika tahu kau tidak bisa hidup jika hamil? 
Aku sedih. Aku seperti kehilangan sepenuhnya hatiku, yang sebelumnya kupersiapkan untuk mencintai keluargaku sendiri bagaimanapun keadaannya. Aku telah terlalu jauh memimpikan kebahagiaan bersama kekasihku. Sampai aku tidak bisa mengelak akan kepastian pernihakan dengannya. 

"Aku tidak bisa memilikimu, Yan. Aku telah memilih untuk berkarier. Aku bukan wanita yang baik untuk kaunikahi. Segeralah nikahi Elsa, maka mimpiku dan mimpimu akan bersatu dan kaunikmati bersama wanita yang mencintaimu." Dengan isak tangis, awan menemaniku berjalan menuju pintu kebahagiaan baru untukku. Persis ketika matahari terbenam, ketika janjinya kembali dikumandangkan dengan angin sepoi untuk pagiku yang baru.
Baru kali ini aku melihatnya diam, reaksinya begitu dingin dan terluka karena hamparan salju telah mencair menjadi samudra dalam. Maafkan aku. 

Dengan itu, maka berakhirlah semua mimpiku yang lama. Aku mulai menata kembali hidupku untuk bisa menjadi wanita yang diimpikan. Setidaknya berusaha terbiasa dengan ranjang yang bisa kutiduri semauku, dan buku - buku yang bebas kutaruh di depan tv atau di dapur. Aku bebas, dan aku akan bahagia di dalam penjara mimpi - mimpiku sendiri. 

Gelar master  telah kukantongi meskipun saat itu usiaku masih 24 tahun. Dengan nilai yang hampir sempurna, masa depan kerjaku begitu cerah. Diperebutkan sana - sini karena pengalamanku yang sudah tidak bisa diragukan. Apartemen kecilku telah menjadi istana, bersama para pembantu dan sopir yang menemaniku selama menjadi bagian dari janji matahari. Tidak ada yang pernah bertanya tentang bagaimana aku bisa tetap tinggal sendiri, bagaimana aku tetap bisa berkarier tanpa mempersoalkan tentang asmara. Karena mereka telah mendapatkan jawabannya. 

Sore itu ketika matahari terbenam, aku memasuki rumah dan disambut "keluargaku" yang tengah asyik menonton drama korea kesukaan mereka. 
"Non Riri, tadi ada undangan nikahan. Katanya dari temen sma nya dulu" Teriak Noni, masih dengan rambutnya yang kemilau. Nampaknya dia sedang centil, seminggu ini sudah 3 kali lebih dia ke salon hanya untuk keramas. 
"Oke, ini ya?" Pandanganku tertuju kepada undangan mewah pernikahan yang kupegang. 
Hatiku seakan teriris, mataku kembali pedih karena foto kemesraan yang tampak buram oleh mataku. Tubuhku limbung karena darahku mengeras diujung kerongkongan. Aku merasakannya, aku melihatnya, aku begitu mengerti apa yang kurasakan. 

Semua akhirnya paham. Bahwa cintaku telah pergi, menyisakah kasih sayang yang selalu kubagi dengan semua yang aku lihat. Mereka, keluarga baruku yang akan terus menemaniku sampai kapanpun. Tidak ada yang aku cintai, hanya mereka sudah lebih dari cukup. 

--------------------------------------------------------------------------------------
 Pukul 20.00. Aku masih saja berkutik dengan laptop dan mengecek semua laporan keuangan untuk menyelesaikannya sebelum pukul 23.00 malam ini. Sedikit lagi aku akan bisa mencari makan, batinku mengelus perut yang mulai menuntut. Tiba - tiba terdengar dering ponsel yang mengganggu konsentrasiku. Siapa? bukankah aku sudah memberi kabar bahkan lebih dari 5 kali kalau aku akan pulang larut? Ada saja yang menggangguku malam ini. 
Sedikit kesal, kuambil ponselku dan membuka pesan dari Surti. 

From : Surti 
Non, Segeralah pulang. Anak kembar dini-dina tiba - tiba menggigil tak tahu kenapa. Segeralah pulang, kami menunggu. 
Seketika kurasakan tulangku ngilu, aku tidak bisa lagi berfikir. Setelah memastikan pekerjaanku selesai dalam 10 menit, aku segera melawan rasa takutku menyusuri jalanan jakarta yang cukup lengang malam itu. Tidak bisa lagi berfikir tentang kemungkinan kemungkinan lain, pedal gas tidak pernah berkurang kutekan. Dini-Dina adalah anak surti yang keempat dan kelima. Kedua anak itu paling kusayang karena begitu iba aku melihatnya, sejak kecil mereka memang bukan anak yang normal, sakit - sakitan, dan psikisnya terganggu. Dengan mereka aku selalu semangat untuk tetap tinggal dalam penjara mimpiku, karena aku sadar bahwa mereka belum sempat bermimpi sampai akhirnya mereka merasa terpenjara. Aku bersyukur, Engkau menitipkan mereka di keluarga bahagiaku.

Pelik suara parau telah terdengar dari halaman rumahku. Aku bersuara dan berteriak dalam diam. Aku merasakan aura kehilangan, aku kembali kehilangan cintaku, aku kembali dipaksa mengikhlaskan rasa cintaku untuk kali ini. 

Langkahku begitu gontai menyaksikan air mata menggenangi kawasan rumah yang kusebut naungan kebahagiaan kami. Sendu, pemakaman dini - dina begitu ramai oleh tetangga dan kerabatku, mereka tau keadaanku yang selalu menceritakan motivasi hidup dengan dini dan dina sebagai inspirasinya. Bebat dukaku semakin dalam, aku tidak bisa meninggalkan pusara ini demi mimpiku selanjutnya, aku bahkan terlihat lebih kacau dibanding Surti yang baru saja kehilangan kedua anaknya. 

"Tinggalkan aku di sini, sebentar. Aku ingin menunggu matahari terbenam bersama mereka" 
Akhirnya aku sendiri di sini, kembali menunggu matahari terbenam agar janjinya mengikat janjiku untuk mimpi selanjutnya. 

"Kau kenapa?" Bisik seseorang tak jauh dari posisiku terduduk dan tergugu saat ini. 

"Aku..." baru saja akan menjawab, muncul sosok yang begitu kukenal. Dia mengenakan pakaian hitam dan membawa bunga segar di dalam keranjang. Wajahnya masih sama ditambah beberapa guratan yang unik mengutarakan perjalanan hidupnya. Dia Zayyan, mantan kekasih yang menyimpan mimpiku selama ini. 

"Riri? Kau kenapa? Kehilangan anak? maka samalah denganku, istriku baru saja meninggal 3 bulan yang lalu, menyisakan aku dan kelima anakku yang masih kecil. mereka terpukul, akujuga. Namun percayalah, semuanya akan berlalu karena waktu, cukupi sedihmu. Oiya, dimana suamimu? Rasanya ingin kupeluk dan kuucapkan terima kasih karena berhasil menemanimu sampai kariermu begitu tersohor sampai telingaku", Dia memeluk kata-katanya sembari tersenyum tulus mengahadapku. 

Aku terduduk, dihadapannya. Aku merasakan cintaku terkubur dengan sisa cinta lain yang masuk menuntut. Awan, Matahari terbenam, mengiringi mulutku bersenandung tentang kesedihan yang kututupi selama 15tahun aku menguburkan cintaku yang mati. Aku tergugu tak percaya dengan omonganku sendiri. Malaikat ini telah jahat mengirimkan catatannya kembali kedalam otakku. 
Zayyan hanya menunduk, mencerna dan  menunggu saatku diam karena usai bercerita. Sampai ketika surat itu kuambil dari tangannya. 

Kepada Riri
Hamparan semesta masih terbentang saat aku menuliskan ini, ketika akan lahir anak ketigaku lengkap dengan 2 bayi lagi yang akan mengisi keluargaku dan Zayyan. Kehadirannya harusnya membahagiakan kami, namun sepertinya tidak untukku seutuhnya. Ada kebahagiaan baru yang dititipkan Tuhan kepada bayi ini, bukan untukku tapi..untuk orang lain yang selama ini diam menyimpan kebahagiaan terbesarnya.
Genap sudah 5 bulan aku tau, aku akan meninggal jika aku mempertahankan ketiga bayi ini.
Maka dengan ini, aku tuliskan lembaran sayup kesedihan nuraniku. Aku dan Zayyan telah menikah, berkat permintaanmu akan pernikahan kami. Terima kasih mengijinkanku bahagia dengan lelaki yang kuanggap dewa semenjak usiaku masih 10 tahun. Lucu bukan? Kau yang tahu hal itu, jangan dibeberkan. hehe. Zayyan begitu paham dan mengerti apa sesungguhnya hakekat mencintai dan menyayangi. Dia, lelaki terhebat yang pernah kutemui, menikahi wanita yang tidak dicintainya hanya untuk melihat gurat kesedihan berkurang dari wanita yang amat dia cintai. Dia begitu tahu bahwa kau mengorbankan cintamu untuknya, maka dia kuburkan juga cintanya kepadamu. Dia menumbuhkan cintanya untukku, agar cintanya untukmu tetap tersimpan rapih didalam banker kekuatan jiwanya. 
Sekarang waktuku untuk pergi, aku senantiasa mengucapkan terima kasih untukmu. Berkat mu, mimpi terbesarku sudah tercapai. Hidup bahagia mewujudkan mimpi kalian yang tak akan pernah bisa menjadi kenyataan jika kau tidak tersakiti. Sekarang saatnya kau untuk mewujudkan mimpimu, menikahlah dengan Zayyan ketika pusaraku sudah harum oleh belukar dan bunga bermacam warna. 
Kakakku sendiri yang telah memvonismu tidak bisa hidup karena hamil, maaf akan kenyataan itu. Maka sekarang, giliranku mewujudkan mimpimu dulu bersama zayyan, tinggal bersama, menikah, dan memiliki 5 anak lucu yang akan kaunamakan sesuai abjad. Aku masih ingat betul bagaimana rasa sakitku ketika kau mengimajinasikannya bersama pria yang amat kucintai. Namun, sekarang aku telah begitu paham aka takdir. Kita memang ditakdirkan saling menggantikan, bukankah begitu?
Maka kutitipkan kelima anak kami dan Zayyan, Wujudkan mimpimu, dan doakan aku bahagia. Karna kebahagiaan duniaku telah lengkap, maka kubawakan bahagiamu dari surga di rahimku. Selamat tinggal.
Dengan ketulusan, Elsa 
Air mataku mengalir, tidak tahu diri melihat pusara-pusara yang menjadi akhir kehidupan telah menjadikan dirinya awal kebahagiaanku. Zayyan memelukku erat, aku bebas dari penjara. Aku memiliki kunci untuk penjara mimpiku kini.  




Selasa, 17 Desember 2013

Move, move, move on!

"Cie disyaa, senyum-senyum mulu sambil natap hp gitu. Lagi dapet moodbooster ciyee" seru norma dengan suaranya yang ampun badai..bikin telinga seketika mau pecah.
"Apaan sih, nor! Bikin kaget aja. Ya menurutmu aku gila apa ketawa-ketawa tanpa sebab. Ahihihi" lagaknya sih sebel, tapi mimik cerianya yang setiap kali muncul kalo dia lagi bahagia karna hal yang berhubungan sama cowok itu muncul lagi. Selalu bikin orang penasaran. Sebenernya siapa sih yg lagi deket sama dia..walaupun tanpa disuruh cerita, pasti bentar lagi dia juga bakalan cerita sendiri.

Banyak banget hal yang biasanya diobrolin sama 2 sahabat yang selalu bareng itu. Mulai dari hal hal yang biasa, sampe hal hal yang nggak penting. Bahkan masalah cinta. Norma, yang orangnya manis, cantik, tapi pinter banget selalu dideketin sama cowok-cowok ganteng. Tapi norma itu orangnya ya bosenan, jadi dia ya santai -santai aja masalah itu. Palingan dia cuma galau karna suka bimbang mau bener2 ngejalanin hubungan apa harus berhenti karna kadang gampang bosen. Dia bilang dia belum dapet seseorang yang pas di hatinya. Cielaaaah, alay amat. Sedangkan, disya.. dia tu orangnya ya biasa biasa aja gitu. Disukai sama cowok kadang -kadang doang, itu aja pasti dianya nggak suka sama tu cowok. Giliran dia suka sama cowok, eh cowoknya phpin dia lah, nggak peka lah, dan kadang malah nggaksuka beneran sama disya. Kadang dia suka galau, sok galau. Tapi banyak orang bilang kalo disya ini memang pinter nyembunyin semua yang dia rasain,  setiap ketemu bawaannya seneeng aja. Soalnya, dia emang nggakbisa gampang berbagi cerita ke orang lain yang nggak begitu deket sama dia.
"Masih sama, nor. Masih sama dia, masih sama yang namanya fikri. Dianya nggak peka, apa aku yang kepedean ya?" Tiba-tiba mukanya jadi asem kecut nggak karuann gitu pasca ngucapin bebetapa kata yang menurut norma sangat tragis-_-
"Lhoh! Fikri yang itu? Yang kuliah di kedokteran itu kan? Yang cita-citanya malah jadi penjual kaki lima supaya memakmurkan pengguna jalan?"
"Iya, yaampun. Udah lama banget ya? Kurang setia apa cobak~"
"Dis, dis.. ngapain nungguin orang kayak gitu. Sekarang atau besok kan ya sama aja kamu bakalan geloo. Tapi ya gimana ya, dia tu menurutku baik sih dis, aku sih dukung2 aja kalo kamu sama dia. Yaaah, biarin berjalan dengan sendirinya aja, tapi jadiin santai aja ya. Jangan terlalu dipikirin. Dia kan deket dan baik sama semua orang. 5 tahun kek 6 tahun kek, kehitung kamu suka sama dia..tetep sama aaja kalo dianya belum nanyain kepastian" ini nih nasehatnya yang paling ngena~

Iya, walaupun udah dikayak gituin, Disya tetep bertahan. Walaupun dianya ya berasa jadi orang terngenes sedunia. Tapi semuanya kan emang nggak begitu penting, toh disya juga masih sekolah.
"Haha, kalo cuma cari status sih, akuudah bisa jadian sama cowok lain. Yang lebih ngerti, yang lebih pengertian, yang lebih nggak cuek dibanding dianya sekarang" gitu mulu curhatannya.

Namanya burung, ya.. pasti ngerasa bodoh banget kalo harus cari ranting yang rapuh dan gatau mau jatuh apa tetep jadi rapuh sampe patah kalo ada angin gede. Pasti jauh lebih berfikir untuk cari tempat yang lebih baik, yang lebih layak. Tapi kalo ranting itu yang selama ini bikin dia senyum, bisa bikin dia kuat, kenapa harus pindah ke ranting yang kuaat yang diperebutin burung - burung lainnya?

"Nor, aku mutusin buat move on nih kayaknya. Aku berasa diusir pelan-pelan, dipaksa ngejauh, tapi terpaksa mendekat buat alasan temen. Dong kan? " gatau mendung atau beledek macem apa yang bikin disya tiba2 ngomong ini ke norma waktu mereka jalan bareng di mall pasca uas selesai.
"Ngomong apaa dis? Kamu udah berkali2 ngomong pengen move on sama aku. Tapi buktinya juga malah balik lagi,kan? Malah hubungannya semakin jauh. Udah kamu paling sama dia ujung2nya. Wkakaka" berasa pengen nelen nggaksih??-_-
"Nor, dia udah nyuruuh aku buat cepet-cepet taken malah. Dia nyuruh aku nyari cowok .-." Poker face.
"Hah? Gimana ceritanya tu orang. Jahat amat. Tapi ya coba turutin aja. Berarti selama ini kamu salah ngartiin kali. Dianya cuma mau jadi temen" kaliini langsung nengok dan mandang disya, lagi-lagi muka tragis.
"Iya, mungkin gitu, mungkin harus move on"

Setidaknya, keputusan belum tentu kewujud. Masih bisa berubah ditengah jalan, masih balik arah. Tapi setidaknya saat ini. Cuma itu doang, disya cuma gamau lagi buat berharap, belum bisa ngilangin rasa secara instan, tapi belum berfikir untuk nunggu lebih lama lagi.
"Iyaaa..move on. Tapi jangan lupa belajar juga kali" pesan penyemangat sebagai akhir dari semua penantian#tsaaaah. Fiktif, thanks

"Terselip nada pilu disetiap kekecewaan,
Tapi pasti ada harapan dibalik keterpaksaan.
Umur yang belia,
kasih yang menjamur,
manjadi tantangan setiap insan untuk berlomba.

Menangkis kecewa menebar harapan,
Mengesampingkan rindu bergegas maju
Menjadi harapan bagi kasih yang setia,
Menjaga dan menuntun langkah ini
Menuju cita dan harapanku"