Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2016

Esensi

Sekalipun, tidak akan pernah aku biarkan dirimu
terlelap dalam asa yang dipendam dalam - dalam.

Kau adalah harapan dalam lintasan pelangi di malamku,
juga pun sebagai hadiah dari rindu yang diucap ayah dan ibumu

Biarkanlah rapuhnya diriku membawamu bersama kita
Berjuang.

Mencari dan menelisik bagaimana esensi berjuang bersama
Menjaga dan memaknai betapa banyak darah yang kita paksa mengaliri jantung kita berdua
Lalu akhirnya, esensi ini adalah kekal
.
.
Leburan aku menjadi kamu adalah abadi
dalam lentera bahagia

Kamis, 24 November 2016

;

Aku tidak punya lagi semangat
Seluruh tubuhku terlalu menurut 
Pagi ini, aku kembali menggigil
Mataku menggambarkan refleksinya 
"Kenapa?"
Aku hanya sedang ingin diam, 
Sesaat

Senin, 27 Juni 2016

Tentang inspirasi kekosongan

Selamat malam, tentang inspirasi kekosongan akan mulai kuceritakan dari sini.
Inspirasi kekosongan adalah inspirasi yang selalu datang karena kosong, baik itu kosong karena hambar atau karena terlalu penuh. Inspirasi yang datang karena rindu yang menggerus atau sayang yang memuncak. Biasanya, ini akan terdengar seperti begitu rumit, namun untukku adalah sederhana.
Inspirasi kekosonganku adalah jalan rinduku yang tanpa batas. 
Inspirasi kekosonganku adalah sayang yang batasannya adalah hidup dan mati.
Inspirasi kekosonganku adalah dia yang mampu membawa nyawa dalam setiap pena dan kertasku.
Mengenai siapa sebenarnya? Dia adalah ketiga hal itu, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut karena perinciannya hanya akan membuat semakin kabur. Bagiku, rahasia adalah tetap rahasia. Dan inspirasi kekosongan, adalah perincian yang sangat abstrak untuk diutarakan. 
Jika nanti puisiku tidak bernyawa, maka rinduku mulai mengendur karena ditinggalkan. 
Dan suatu saat jika susunan kataku terasa pahit dipandang mata, adalah aku yang menulis meredam duka. 
Sampai kapanpun, inspirasiku adalah inspirasi kekosonganku yang meniupkan nyawa. Semoga semestinya memang begitu. 
Agar esok pagi, aku tidak pernah kehilangan nyawa dalam pena dan kertasku.
Tetap disini, dan menjadi inspirasi kekosonganku.

Sabtu, 02 April 2016

Rasa

Seberapa jauh tingkatan sayang?
Seberapa besar naluri mencintai?
2 pertanyaan yang nggak akan bisa dijawab dengan munafik.
Sayang = melepaskan.
Big no. At first, kamu perlu berjuang untuk apa yang kalian sebut pencapaian. Dan kalau kalian udah mutusin sayang, pencapaian kalian cuma satu. Bahagia sama orang itu, atau bahagia karna orang lain.
Em, tapi ngga ada salahnya melepaskan kalau memang akhirnya memang dituntut buat melepas. Sampe usahamu beneran harus dilipet, disimpen rapi rapi buat siapapun yang berhak untuk ngedapetin itu suatu saat.
Tapi....
Kita punya hati, yang diciptain sama Allah sebegitu rumitnya sampe bisa dijadiin alat untuk nyembunyiin semua perasaan untuk kita sendiri. Entah sedih. Entah seneng. Entah kecewa. Muaranya sama;ke hati.
Sayang=menjaga hati.
Aku ngrasa ini lebih cocok. Kalau kamu sayang seseorang, kamu nggak akan pernah peduli kemana dia akan pergi. Kamu nggak akan pernah kecewa dengan pilihannya untuk tinggal atau bertahan dengan masanya. Kamu punya begitu banyak "hadiah" buat dia, karna hati kita masih terlalu rumit untuk dibaca, hati kita punya ruang penyimpanannya sendiri untuk merangkai rindu setiap detik.
Hati yang dijaga akan jauh lebih berharga dibanding memilih melepaskan atau mempertahankan. Terlalu munafik.
Dan Pencapaian terbesar dari sayang, adalah hati kita sendiri. Tempat menyembunyikan keyakinan dan doa setiap detiknya. Tempat menaruh harapan dan menangkis godaan cinta lain, kesetiaan yang lebih bening ketimbang cinta suci yang menuntut kehadiran.
.
.
Biarkan aku berproses, aku ingin menjaga hatiku untuk-mu
.
.
Lalu, seberapa besar naluri mencintai?
Ketulusan cinta adalah hal yang abstrak. Kadarnya bisa berubah ubah sesuai selera. Dan selera bisa berubah karena banyak hal. Intinya?cinta tidak absolut.
Aku masih tidak mengerti penjabaran dari kata "aku begitu mencintaimu" dalam perbendaharaan kata. Karna jika dimaknai maknanya nol besar.
Mencintai adaalah suatu janji, seberapa pun kamu merasa bosan, seberapa pun kamu merasa tidak dihargai, seberapa pun kamu merasa sangat lemah dimata cinta, rasa itu tidak akan berkurang.. dia akan tetap sama.
Ini adalah masalah konsistensi diri
Sama seperti aku menikmati kopiku manis, tetapi membuangnya karena berubah menjadi pahit. Padahal manis memang tak akan bisa bertahan, karena lidah punya kapasitasnya sendiri.
Sedangkan, denganmu aku paham bagaimana kopiku akan terasa pahit dan hambar, akan terasa dingin dan butuh ganti karna rasanya.
Tapi aku akan tetap memegang cangkir kopiku, karna keputusanku untuk mencintai adalah bulat pejal, tidak bersudut dan tidak beruang. Menjadikan kopiku akan manis sepanjang waktuku, menguatkan diriku yang mulai menapak apa arti menjaga hati dan konsistensi diri.
.
.
 

Minggu, 22 Maret 2015

Sedang dalam masa hening.

Halo, jam 09.04
Kami sedang berada di dalam kelas. Seperti biasa, menikmati apa yang seharusnya didalami. Namun cara kami saat ini hanyalah menikmati apa yang membuat kami kadang menyesal, senang, padahal hanya pengharapan semu sebuah masa depan.
Aku sedang meresapi yang namanya menunggu, yang ditunggu - tunggu tanpa disadari semua umat manusia. Percaya kalau itu bisa saja melelahkan? Aku percaya. Tapi aku menolak mengadakan apa yang dimaksud kepercayaan akan kelelahan.

Kamu tau? Sebenarnya ini bukan masalah mudah untuk menyimpan semuanya, rapat namun menetes karena terikat angin. Pribadiku masih bertahan dengan pribadiku yang lama, tidak bisa terikat dengan apa yang namanya janji, apalagi harus digantungkan hanya karena hal sepele. Sejak kecil, banyak hal yang tidak kau ketahui. Aku tidak akan pernah bisa terkait dengan janji, apalagi tidak ditepati. Bukan salahmu jika melakukan ini.

Maaf membuatmu terjatuh beberapa kali, mungkin. Aku harap kau juga tahu kalau aku mengalami hal yang sama beberapa kali. Percaya akan apa yang dinamakan pengorbanan? Aku tidak merasakan aku melakukan apa itu pengorbanan. Aku hanya menerima ini sebagai salah satu wujud penerimaanku terhadapmu. Paham proses? Aku mengalaminya, tidak instan. Karena aku tidak mau munafik menampik apa yang kami sebut kenyataan. Aku marah,sesekali. Bukan kecewa karena sifatmu, tapi merenungi penerimaanku.

Ini sebabnya, kata maafmu justru membuatku semakin rentan. Takut ketika maafmu semakin menumpuk dan menjadi jengah. Aku takut, jelas. Bukan karena kehilangan, tapi penerimaanku justru membalik menjadi bumerang untukku sendiri.

Senin, 12 Januari 2015

It12.14 WIB
Selasa, 13 Januari 2015
Ruang kelas XI PMIIA 3
SMA N 2 Yogyakarta

Mendung.
Menanti gerimis.

Sampai saatnya lelah, kami semua akan menyadari bagaimana bumi berotasi.
Tidak sepenuhnya mulus. Kadang dia juga harus mengalah kepada awan dan titik air. Mungkin, karena iba melihat permohonan hujan kepadanya.
Siapa pula yang tidak kasihan kepada hujan, aku berfikir. Bagaimana semua titik titik itu rela dijatuhkan oleh awan, hanyak untuk kami para manusia yang mengancam meniadakannya lagi.
Harus berproses lagi-hanya untuk dijatuhkan kembali, luar biasa.

Di dalam sini, otak kami difokuskan kepada suatu masalah yang sama, matematika. Tapi namanya sma, kami bahkan tidak tau apa yang telah dituliskan di papan tulis yang di atasnya sudah tergantung gagahnya burung garuda.
Hanya kami dengarkan iringan bel yang menandakan kebahagiaan bagi semua siswa, hanya kami perhatikan "bunda" kami yang hari ini cantik dengan rok barunya. Dan aku, memilih menulis catatan entah-berantah ini.

Mulai hujan, gerimis sendu seperti "Bunda Ope" dalam imajinasi Tere Liye ketika sampai di Batavia. Suara sudah bercampur dengan berbagai pita yang nakal hendak disaingi hujan.

Kosong.

Kali ini aku tidak bisa mencatat. Lantaran tangan yang masih mengaduh, atau sedang menggaduh "?" Aku bersama yang lain, sebagian lain yang memilih memegang gadget menemani petir dan gulitanya pikiran. Games, chat, sudah terlampau banyak objek pilihan untuk nakal, jaman sekarang.

Hei hujannya sudah hampir reda, sekarang jam 13.08.
Cepat. Tidak lambat.

Air itu mungkin akan terus mengalir ke tempat yang asing sebelumnya. Sama seperti kami, yang menjalani saja apa yang ada di papan. Mendengarkan saja apa yang sudah diisyaratkan mulut manusia yang sedang berkuasa di zaman ini. Tanpa tau apa yang hendak kami gunakan dengan semua ini.
Tidak. Bukan cita cita yang aku maksudkan di sini.
Namun semuanya, ini semua. Kami terus digelontor dengan rumus rumus Kurikulum yang senantiasa berubah dengan berubahnya....entah.
Tapi tidak pernah jelas.

13.11 WIB
Ruang kelas XI PMIIA 3
SMA N 2 Yogyakarta


Minggu, 23 Juni 2013

Masih ingin bermain - main dengan sayang.
Masih ingin merajut kasih tanpa naungan.
Masih ingin menjadi secuil dari kepastian masa depan.

Tapi memang dasar, umur lebih tepat menyatakan.
Kasih tak lagi angan,
masa depan adalah perjuangan,
dan hidup atau mati menjadi slogan
Lihat saja, kepercayaanku terhadap kasihmu memang sangat nyata
Layaknya bumi yang bulat, tak ada keraguan untuknya
Tapi, sepertinya itu tak layak untuk hatiku menyapanya
Jangankan melihat dan bernaung di dalamnya
Harus menggenggam kenangan ini saja sudah membuatku kalut tak terkira

Tapi, seperti bara yang tak bisa terlepas dari abu
Aku sudah terperangkap dalam jebakanmu
Sekarang, melupakanmu saja adalah hal tergila untukku

Kerinduan ini, merajut sepi akan perpisahan.

Hanya lukisan tinta pena yang bisa kupersembahkan
Memang, tak bisa mengisahkan bagaimana kita bertemu
Memang, tak bisa mencari apa yang kita mau
Memang, tak bisa bercerita bagaimanakah kita bersama

Secarik luka yang kita buat bersama, 
Seolah tertutup oleh kesan manisnya kebahagiaan
Hatimu telah bercerita tentang busuknya aku
Hatimu telah bercerita tentang bagaimana hebatnya aku dalam impian syahduku
Hanya angan yang terbang membelit luka, hanya asa yang tergores kesan ma'af sekelebat angin

Benar, saat bertemu memang selalu menjadi kesan yang buruk
Saat bersama memang tak selalu bahagia
Berbagai konflik meredam emosi jiwa, dalam gejolak amarah

Namun, apa masih pantas aku menyebut kalian menyebalkan?
Disaat perpisahan telah menanti di ekor mata
Menjadi penanda keharusan kita berpisah
Menjadi individu baru lagi, di antara komunitas yang berbeda

Secarik kertas menjadi sangat berharga disaat angin mengancam untuk menerbangkannya
Bolehkan aku menyebut kalian teman?
Hanya sementara, selagi aku belum mau berpisah dengan kalian semua
Selagi aku masih rindu canda tawa kalian
Dengan cercaan, makian, dan tawa ejekan..Sangat manis 

Satu tahun sanngat berharga
Berbelit kerinduan yang sangat dalam dalam indahnya panorama suci
wajah wajah yang sangat indah, menorehkan kenangan yang sangat tajam
Kenangan indah ini akan selalu kukenang, 
bukan hanya lewat mimpi, tapi akan kutulis dalam haraapan masa depan


Selamat berjumpa lagi, Semoga kita bisa bertemu dalam keadaan yang sehat dan sukses!
(created by:desi. Ketika yang berharga tak selalu manis, tapi kesan torehkan perasaan rindu)
For all member 92 Bhawara50. love you!


Hanya kosakata umum yang didefinisikan lewat sepi.


  • Senja : Ketika mentari kembali ke peraduan, ketika bulan bersiap menjadi raja malam, dan disaat bintang bintang bersiap untuk berpesta.
  • Idola : Manusia yang indah, berlian asa dan perasaan. Ditentang untuk melebihi ruang pengharapan, namun menguasai pengendalian impian dan kebahagiaan. Inspirasi, setitik dari adanya keindahan di setiap renik gelap dalam kehidupan.
  • Cinta : Belum bisa tertulis, belum bisa terlukis, belum mampu merasakan. Hanya mengintip dari balik celah kecil di antara tembok yang mulai rapuh, menentang keinginan syahdu yang menjadi naluri insan. Menakutkan, jika terbayang harus ada air mata sebagai salah satu komposisinya.
  • Senyuman : sekecil pengharapan, penggambaran kebahasiaan, dan penciptaan keindahan. Ternaung menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bukan hanya asa, tapi akan menjadi impian, ketulusan, dan naluri kebahagiaan.
Created by desi. Disaat syahdu senja menyibakkan lentera inspirasi.