Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 April 2017

Tirai Nirwana

Tatapanmu jauh menusuk
Merobek epitel,  menggapai basal basement
Mencari memaknai
Apa yang kudambakan dan kurengkuhkan dalam diri
Duhai lelaki,
Remah-remah sayap yang kupatahkan
Pagi ini kembali tumbuh semakin indah
Dengan tangisan semalam suntuk
Dan sedikit sinar hangat rindu doaku
Aku lah penadah duka
Aku lah Pengalir nestapa
Namun kaya karena arusnya
Tetap dijamah karena alurnya
Sepanjang tirai nirwanaku terbuka
kekokohanku menggapaimu
Tanpa bisa berdalih kesabaran adalah duka
Namun berjuta kali lagi aku merasa
Lihatlah mataku,
Tirai nirwanaku adalah kamu



Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Tanpa -Sendiri

Bukan tentang kita.
Rambut yang kubiarkan tergerai sore ini
Menggoda angin yang tak kurang genit menyapa senja
Estetikku hancur,
Tapi aku tetap rindu pada sepoinya

Bukan juga tentang kita. 
Kisah klasik tentang romeo dan juliette yang melegenda
Tidak membuatku berkutik dari hidung kucing kecilku
Ekornya yang mengenai tanganku
Haus akan kasih sayang yang kusampaikan lewat tangan
Semudah itu hariku layu, 
Melihat kucing kecilpun menuntut perhatian

Ini juga tetap bukan tentang kita. 
Lampu-lampu kota yang kubiarkan menyala dalam alarm malam
Menemaniku dalam bidik rindu yang kupertajam lewat senyuman
Malam ini,
Sekali lagi bukan tentang kita
Karena tetap saja;
Artian ceritaku tentang impian adalah rahasia dalam denyutan nafas yang kuciptakan
Sendiri. 

Yogyakarta, 19 April 2017
(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)
Persembahan untuk iftita,
Yang lahir tepat dihari aku mencari oksigen sendiri untuk bernafas. 

Hakekat

Badai malam ini teduh
Sekedar menghangatkan kuku kukuku memutih pucat
Menjadi selimut rambut tanganku yang kegelian
Kumaknai hipotermi sebagai kehangatan

Tempo hari,
Aku masih melihat hujan dikala malam adalah sendu
Momok petir yang mengancam gulitaku membahana
Perangai bulan yang setia-pun dijamah
... kerapuhan kelam

Ternyata begitu saja penerimaan
Seperti cengkeraman yang berubah menjadi kekuatan
Tak ada lagi goncangan yang melambangkan permusuhan
Akulah bahagia dalam diriku
Akulah dewi mentari bagi hidupku!

Yogyakarta,  19 April 2017
Desi dwi siwi atika dewi

Selasa, 21 Februari 2017

Elegi

(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)

Kaki bersila murung dibawah remang lampu kota
Pejalan kaki dijajah kaki lima di trotoarnya sendiri
Motor mobil berhamburan
Sepeda merajuk meminta kebebasan

Aku melihatmu,
Di sudut bulan membelakangi matahari
Sedang diam mengunci pilu
Enggan menengok menumpahkan betapa derasnya rinai di dalammu
Di dalammu, aku pun bersandar.

Sekuat apakah penantianmu akan bidikan angin kesepian, sayang?
Bukankah adalah aku jawaban dalam remah tawa dan candamu siang tadi?

Berikan tanganmu, asma kita adalah satu
Lepas kaitan siksamu,
Jemput apa yang menjadi pintu hidup mu dan aku.
Diamlah, bersabar.
Elegi kali ini adalah uji
..
Aku untukmu adalah waktu.


Yogyakarta, 21 februari 2017.

Selasa, 31 Januari 2017

Rintik Hujan

Kembali menyapa,
Rintik hujan ini datang dalam kenangan yang aku gambarkan
Melewati rindu yang kusejajarkan dengan doa,

Melipat raga, aku memejamkan mata
Melihat seringaimu malam itu
Aku lupa akan Lelah
Aku telah bebas dalam neraka pilu yang diseimbangkan dengan nelangsa
Magis,memang.

Dalam hangatnya pelukku
Aku sibuk mencarimu di sela rintik hujan malam ini
Rasanya, baru kemarin aku melihatnya bercermin
"Ganteng ya"
Lalu aku mematung menjadikanku batu karena lelah memuji

Kurasa,
rintik hujan ini puas memaksaku kembali dalam konotasi
Kamu adalah rintik hujan yang dikirimkan halus dalam rinduku
Menggelar pertunjukan berbagai suara dalam imajinata
Tidak berhenti mengaliri sawah kami meski dingin

Dan kepadamu, rintik hujan yang kupeluk hangat - hangat
Sebesar apapun buihmu dalam malam dan pagiku
Aku mencintaimu.

Yogyakarta, 31 Januari 2017

Naungan

Naungan kebahagiaanku,
Maka lihatlah malam ini 
Sinar matamu menerangi malam biduan umat
Senyumu bahkan menjadi bulan yang ditatap mereka yang merasa dekat
Namun tanganmu tetap memilih diam, 
menyembunyikan aku yang terlelap dalam pikat

Naungan kesedihanku, 
Maka songsonglah janji kita
Dalam wajah rindu yang kugambarkan begitu pelik
Penuh kontra yang kita namakan pendewasaan
Aku tidak akan pernah lelah menjadikanmu alasanku,
dalam tangis diam dan peluh dukaku 

Sekali lagi,
Demi rintik hujan yang datang menentramkan malam
Tetaplah ada dalam harapan dan ingatanku
Karena kamu
Selamanya kamu
Adalah naungan dari segala asa yang kusimpan rapat dalam memori


Yogyararta, 31 Januari 2017

Sabtu, 26 November 2016

Esensi

Sekalipun, tidak akan pernah aku biarkan dirimu
terlelap dalam asa yang dipendam dalam - dalam.

Kau adalah harapan dalam lintasan pelangi di malamku,
juga pun sebagai hadiah dari rindu yang diucap ayah dan ibumu

Biarkanlah rapuhnya diriku membawamu bersama kita
Berjuang.

Mencari dan menelisik bagaimana esensi berjuang bersama
Menjaga dan memaknai betapa banyak darah yang kita paksa mengaliri jantung kita berdua
Lalu akhirnya, esensi ini adalah kekal
.
.
Leburan aku menjadi kamu adalah abadi
dalam lentera bahagia

Kamis, 24 November 2016

Surat Cinta Tanpa Dusta

Beberapa kali aku menemukanmu
Dalam sajak yang dikirim lentera tanpa pengampunan
Menciderai satu demi satu ingatan yang ingin kupikunkan saja

Lalu aku menatapmu lagi,
"Seberapa besarkah keyakinanku?"
Seperti Senja sore tadi yang kembali menjanjikan esok
Apakah jika pilihan rapuh kelak kita adalah perpisahan, janjimu juga sama ?
Persepsiku terlalu dalam mencacar lukamu

Demi neptunus yang menganga membaca suratku!
Janganlah pergi sebelum mati rindumu
Singgahlah sampai nadiku terdiam dalam senyap bongkahan
Karena dalam relungku terpatri bayangan matamu
Karena puisiku selalu haus kiasan indah rinduku padamu. 

Yogyakarta, 16 Sept 2016
Dalam sajakku; 


Kamis, 14 April 2016

Ingin

Aku ingin mengikatmu di ranting tubuhku
Hingga aku bisa tetap menyentuhmu,
Selagi menjaga daun daun hijauku
Aku ingin mengikatmu di ranting tubuhku
Agar pergimu adalah angin yang kencang
Agar pergimu adalah hujan badai
Agar pergimu adalah keropos dalam badan
Adalah takdir.
Teriring doa memiliki dengan sepoi angin malamku;lagi lagi aku mencintaimu.
Yogyakarta, 14 april 2016

Dialog sore hari

Dialog sore ini
Kutemukan di antara sejuta bahasa kita,
Tentang kasih sayang
Tentang cinta yang kupancarkan dalam sinar mataku
Dialog sore ini
Kuselipkan antara gulungan ombak
Membasahi mata kaki kita yang riuh
Karena terjalnya pasir putih
Dialog sore ini
Kukirimkan melewati sore yang menanti malam
"Lalu apa yang bisa kau pikirkan selain mencintaiku, bodoh?"
Kau bertanya dengan sindiran sayang
"Menunggumu mencintai dan menjadikanku satu dalam hidupmu"
Rembulan tersenyum
Yogyakarta.
14 april 2016

Sabtu, 09 April 2016

Koyak

Kujatuhkan api perapian
Panasnya manjalar hingga nadiku mendidih
Menggerakkan seluruh jiwa yang kuredam tanpa bisikan
Aku mencintaimu, Fazan!
Doaku mengharapkanmu
Rinduku mencaci habis alasanmu
Buta saja aku tanpamu
Aku tergegas
Berlari menemui fajar tanpa iringan puisi
Aku hanya ingin menjelaskan
Bagaimana nadiku mendidih oleh api perapian
Bagaimana rinduku mengalir menikam hatiku setiap detiknya
Didihkan rinduku dalam alunan sendu cintamu, mentari
Agar kutemui esok lusa dia bahagia melihat tubuhku koyak dimakan cinta
Yogyakarta, 10 April 2016

Kamis, 31 Maret 2016

Titik.koma,

Kita adalah titik dan koma
Yang membatasi dan menggabungkan
Kita bukan tanda hubung
Yang adanya membuat spasi menjadi tidak berguna
Memilih masuk di antara dua kata yang jajarnya tak selalu bermakna
Tetapi kita adalah titik dan koma
Yang selalu ingat akan jarak
Meneegaskan adanya akhir untuk cerita baru kita lagi
Tetap saja menjadi titik koma
Maka maknaku akan selalu butuh kehadiranmu
Dan kehadiranmu akan memaknai keberadaanku

Yogyakarta,
1 April 2016

Kamis, 17 Maret 2016

Sepasang Cicak

Mataku mengiringi langkah kaki
Piring dan gelas berdenting jelas disamping telinga kananku

Ada dua cicak di pojok sana
Menatap dengan ilusi yang abstrak kubaca
Tatapan kami bertemu dalam curiga
"Sedang apa kau cicak menjijikan"
Aku bergidik sambil mengeram dalam imajinasi

Sepasang cicak dengan dua mata sedang menatapku
Rasaku tak enak
Gundahku terbaca sudah
Urat nadiku diiris oleh perasaan cemas yang sudah kubawa sedari pagi
Menyatu dalam tubuhku yang lulainya candu

Dua ekor cicak menjauh
Mulai lelah menjamah pikiranku

Olive, Yogyakarta
18 Maret 2016

Nyanyian Senja

Aku melihatmu dalam jarak
Begitu nyata
Begitu rakus ingin kugenggam
Aku menciummu dengan angin
Melihatmu bersolek mengikat cakrawala sore ini
Menikmati sambutan awan kepada rembulan
Mencicipi secangkir kopi bersama merpati yang singgah senja ini
Aku disini saja
Melihat semuanya terjadi
Mengawasimu dalam rindu tak berujung
Mencintaimu dalam kisah yang tak pernah tertulis
Yogyakarta, 17 Maret 2016

Sesekali

Sesekali,
Ijinkan aku bercermin
Dalam kristal luka yang kautanam
Sesekali,
Sambutlah aku dengan ikhlas topanganmu
Belai aku dengan indah rindumu
Sesekali,
Bimbing aku masuk dalam nafasmu
Genggam nadiku di dalammu
Tutup kelopak mataku dalam cintamu
Yogyakarta,
17 Maret 2016


"I will be there, until my words are too late to make my feeling gets better"

Bercinta dengan Semu

Sore ini
Cakrawala menyembunyikan kilau mentari
Awan berlari, bergoyang klasik
menuju riuhnya permainan merpati
Mobil mobil mengitari ramai jalanan kota senja
Menyembunyikan koruptor kelas kakap yang berjas hitam dalam badannya
Anginpun berbisik,
tentang cerita anggun dari amplop surat kesepian,
pagi tadi
Aku terduduk dalam alunan ramai sambutan rembulan
Memandang kubangan air didepanku
Yang akan menghias pakaianku ketika terpaksa terinjak
Bukan heran,
Otakku bahkan sedang kacau
Berfikir tentang cerita angin
"Aku bercinta denganmu, semu
Aku memilikimu, semu
Lalu kau pergi dalam darah yang kupompa mati-matian setiap detiknya"
Untuk apa? Katanya
"Untuk menjadikanmu utuh dalam diriku
Tapi tak apa,
Karna cintaku masih berbalas semu
Tetaplah ada dalam kesemuan pikiranku"
Bukankah itu surat untukmu, Tuhan ?
Aku menulisnya semalaman untuk kau kabulkan
Yogyakarta, 17 maret 2016

Rabu, 16 Maret 2016

Menikahimu

Kunikahi sudah kepahitan hidupmu
Dengan ari ari yang kini kubawa berlari disampingmu
Jangan berhenti!
Katamu ketika jarak kita semakin dekat dengan nadi yang kupotong berulang
Sudah berapa lama aku menikahimu?
Dengan mata yang kutuntun melagu
Bercerita dengan mulut yang kuhisap dengan nyanyian
Sampai jemariku yang kau genggam erat tanpa jeda
Hingga kini,
Perasaanku tak kunjung reda
Ujung yang kutemukan telah berlanjut kepada dinding betonnya
Aku selalu melihat indah,
Di bawah
Di ujung kasih perjanjian masa depan kita
Walaupun darah kakiku mengalir menemani jeritan kakiku merangkak naik
Yogyakarta,
15 Maret 2016.
H-19 UN 2016.

Minggu, 13 Maret 2016

Wanita Murahan

Tak ada yang bilang padaku
Sayang tak perlu tau
Cinta tak perlu mengumbar
Pacaran tak harus bergandengan

Tak ada yang bilang padaku
Sukmaku yang selama ini berlabuh padamu
Menjanjikan rindu yang kutitipkan pada dahan cintamu yang kemilau

Panggil aku murahan, sayang
Dengan matamu yang rayunya candu
Pegang rinduku dengan kerlingan nakalmu
Karena ini semua adalah frustasiku dalam dirimu

Panggil aku murahan, tuan
Karna tak ada yang bilang padaku
Bahwa ini adalah keresahan siksanya cinta

Hi, selamat usek semuanya!
Yogyakarta,
14 Maret 2016

Rabu, 27 Januari 2016

Perjalanan Senja

Aku menyaingi senja,
Menunggumu
Dalam kalut dan kabut,
Menyesap rindu yang kutitipkan kepada angin

Aku mencintaimu,
Mengenang waktu menunggu senja
Aku menyayangimu,
Menerima rinduku sendiri
Menikmati hempasan angin yang menerbangkan kecewaku

Hingga saat ini,
Rasaku menjamur
Melalui perjalanan waktu menunggu senja
Untukmu saja,
Untuk rasa sayangku saja..

Yogyakarta, 28 Januari 2015
Desi Dwi Siwi Atika Dewi