Senin, 27 Juni 2016

Tentang inspirasi kekosongan

Selamat malam, tentang inspirasi kekosongan akan mulai kuceritakan dari sini.
Inspirasi kekosongan adalah inspirasi yang selalu datang karena kosong, baik itu kosong karena hambar atau karena terlalu penuh. Inspirasi yang datang karena rindu yang menggerus atau sayang yang memuncak. Biasanya, ini akan terdengar seperti begitu rumit, namun untukku adalah sederhana.
Inspirasi kekosonganku adalah jalan rinduku yang tanpa batas. 
Inspirasi kekosonganku adalah sayang yang batasannya adalah hidup dan mati.
Inspirasi kekosonganku adalah dia yang mampu membawa nyawa dalam setiap pena dan kertasku.
Mengenai siapa sebenarnya? Dia adalah ketiga hal itu, tidak perlu dijelaskan lebih lanjut karena perinciannya hanya akan membuat semakin kabur. Bagiku, rahasia adalah tetap rahasia. Dan inspirasi kekosongan, adalah perincian yang sangat abstrak untuk diutarakan. 
Jika nanti puisiku tidak bernyawa, maka rinduku mulai mengendur karena ditinggalkan. 
Dan suatu saat jika susunan kataku terasa pahit dipandang mata, adalah aku yang menulis meredam duka. 
Sampai kapanpun, inspirasiku adalah inspirasi kekosonganku yang meniupkan nyawa. Semoga semestinya memang begitu. 
Agar esok pagi, aku tidak pernah kehilangan nyawa dalam pena dan kertasku.
Tetap disini, dan menjadi inspirasi kekosonganku.

Kamis, 14 April 2016

Ingin

Aku ingin mengikatmu di ranting tubuhku
Hingga aku bisa tetap menyentuhmu,
Selagi menjaga daun daun hijauku
Aku ingin mengikatmu di ranting tubuhku
Agar pergimu adalah angin yang kencang
Agar pergimu adalah hujan badai
Agar pergimu adalah keropos dalam badan
Adalah takdir.
Teriring doa memiliki dengan sepoi angin malamku;lagi lagi aku mencintaimu.
Yogyakarta, 14 april 2016

Dialog sore hari

Dialog sore ini
Kutemukan di antara sejuta bahasa kita,
Tentang kasih sayang
Tentang cinta yang kupancarkan dalam sinar mataku
Dialog sore ini
Kuselipkan antara gulungan ombak
Membasahi mata kaki kita yang riuh
Karena terjalnya pasir putih
Dialog sore ini
Kukirimkan melewati sore yang menanti malam
"Lalu apa yang bisa kau pikirkan selain mencintaiku, bodoh?"
Kau bertanya dengan sindiran sayang
"Menunggumu mencintai dan menjadikanku satu dalam hidupmu"
Rembulan tersenyum
Yogyakarta.
14 april 2016

Sabtu, 09 April 2016

Koyak

Kujatuhkan api perapian
Panasnya manjalar hingga nadiku mendidih
Menggerakkan seluruh jiwa yang kuredam tanpa bisikan
Aku mencintaimu, Fazan!
Doaku mengharapkanmu
Rinduku mencaci habis alasanmu
Buta saja aku tanpamu
Aku tergegas
Berlari menemui fajar tanpa iringan puisi
Aku hanya ingin menjelaskan
Bagaimana nadiku mendidih oleh api perapian
Bagaimana rinduku mengalir menikam hatiku setiap detiknya
Didihkan rinduku dalam alunan sendu cintamu, mentari
Agar kutemui esok lusa dia bahagia melihat tubuhku koyak dimakan cinta
Yogyakarta, 10 April 2016

Sabtu, 02 April 2016

Rasa

Seberapa jauh tingkatan sayang?
Seberapa besar naluri mencintai?
2 pertanyaan yang nggak akan bisa dijawab dengan munafik.
Sayang = melepaskan.
Big no. At first, kamu perlu berjuang untuk apa yang kalian sebut pencapaian. Dan kalau kalian udah mutusin sayang, pencapaian kalian cuma satu. Bahagia sama orang itu, atau bahagia karna orang lain.
Em, tapi ngga ada salahnya melepaskan kalau memang akhirnya memang dituntut buat melepas. Sampe usahamu beneran harus dilipet, disimpen rapi rapi buat siapapun yang berhak untuk ngedapetin itu suatu saat.
Tapi....
Kita punya hati, yang diciptain sama Allah sebegitu rumitnya sampe bisa dijadiin alat untuk nyembunyiin semua perasaan untuk kita sendiri. Entah sedih. Entah seneng. Entah kecewa. Muaranya sama;ke hati.
Sayang=menjaga hati.
Aku ngrasa ini lebih cocok. Kalau kamu sayang seseorang, kamu nggak akan pernah peduli kemana dia akan pergi. Kamu nggak akan pernah kecewa dengan pilihannya untuk tinggal atau bertahan dengan masanya. Kamu punya begitu banyak "hadiah" buat dia, karna hati kita masih terlalu rumit untuk dibaca, hati kita punya ruang penyimpanannya sendiri untuk merangkai rindu setiap detik.
Hati yang dijaga akan jauh lebih berharga dibanding memilih melepaskan atau mempertahankan. Terlalu munafik.
Dan Pencapaian terbesar dari sayang, adalah hati kita sendiri. Tempat menyembunyikan keyakinan dan doa setiap detiknya. Tempat menaruh harapan dan menangkis godaan cinta lain, kesetiaan yang lebih bening ketimbang cinta suci yang menuntut kehadiran.
.
.
Biarkan aku berproses, aku ingin menjaga hatiku untuk-mu
.
.
Lalu, seberapa besar naluri mencintai?
Ketulusan cinta adalah hal yang abstrak. Kadarnya bisa berubah ubah sesuai selera. Dan selera bisa berubah karena banyak hal. Intinya?cinta tidak absolut.
Aku masih tidak mengerti penjabaran dari kata "aku begitu mencintaimu" dalam perbendaharaan kata. Karna jika dimaknai maknanya nol besar.
Mencintai adaalah suatu janji, seberapa pun kamu merasa bosan, seberapa pun kamu merasa tidak dihargai, seberapa pun kamu merasa sangat lemah dimata cinta, rasa itu tidak akan berkurang.. dia akan tetap sama.
Ini adalah masalah konsistensi diri
Sama seperti aku menikmati kopiku manis, tetapi membuangnya karena berubah menjadi pahit. Padahal manis memang tak akan bisa bertahan, karena lidah punya kapasitasnya sendiri.
Sedangkan, denganmu aku paham bagaimana kopiku akan terasa pahit dan hambar, akan terasa dingin dan butuh ganti karna rasanya.
Tapi aku akan tetap memegang cangkir kopiku, karna keputusanku untuk mencintai adalah bulat pejal, tidak bersudut dan tidak beruang. Menjadikan kopiku akan manis sepanjang waktuku, menguatkan diriku yang mulai menapak apa arti menjaga hati dan konsistensi diri.
.
.
 

Kamis, 31 Maret 2016

Titik.koma,

Kita adalah titik dan koma
Yang membatasi dan menggabungkan
Kita bukan tanda hubung
Yang adanya membuat spasi menjadi tidak berguna
Memilih masuk di antara dua kata yang jajarnya tak selalu bermakna
Tetapi kita adalah titik dan koma
Yang selalu ingat akan jarak
Meneegaskan adanya akhir untuk cerita baru kita lagi
Tetap saja menjadi titik koma
Maka maknaku akan selalu butuh kehadiranmu
Dan kehadiranmu akan memaknai keberadaanku

Yogyakarta,
1 April 2016

Kamis, 17 Maret 2016

Sepasang Cicak

Mataku mengiringi langkah kaki
Piring dan gelas berdenting jelas disamping telinga kananku

Ada dua cicak di pojok sana
Menatap dengan ilusi yang abstrak kubaca
Tatapan kami bertemu dalam curiga
"Sedang apa kau cicak menjijikan"
Aku bergidik sambil mengeram dalam imajinasi

Sepasang cicak dengan dua mata sedang menatapku
Rasaku tak enak
Gundahku terbaca sudah
Urat nadiku diiris oleh perasaan cemas yang sudah kubawa sedari pagi
Menyatu dalam tubuhku yang lulainya candu

Dua ekor cicak menjauh
Mulai lelah menjamah pikiranku

Olive, Yogyakarta
18 Maret 2016