Rabu, 30 Oktober 2013

Lagi nyaman sama satu lagu karna berada dalam satu kondisi yang sama. Pernah ngerasain? Oke, ini masih kelanjutan cerita kemaren. Cerita yang belum ada ujungnya, masih dalam tahap konflik yang belum ketemu alasan dan penyelesaiannya.
Nadya Fatira dengan suaranya yang lembut udah serasa ngerti banget apa yang lagi penulis rasain, bukan lebay. Taapi dalam masa yang emang alay.

Lirik lagu : Kata Hati
Nadya Fatira

Sore senja di sudut Jogja 
Terucap doa kau tau isi hati ini 
Dan bila itu tak terungkap
Tetap ku nikmati, rasa jatuh sendiri 
Tak mampu ku ungkap segalanya
 
Izinkan ku renungkan 
Sgala rasa… 
Biarkan kata hati bicara 
Dan bila kita tercipta 
Untuk bersama 
Biarkan kata hati yang tunjukkan
 
Mungkin nanti akan ku sesali
Hari ini ku diam dan tak lakukan
Tak mampu ku ungkap segalanya
 
Izinkan ku renungkanSgala rasa… 
Biarkan kata hati bicara 
Dan bila kita tercipta 
Untuk bersama 
Biarkan kata hati yang tunjukkan

Lagu yang menceritakan tentang seseorang yang lagi suka sama orang lain, tapi nggak bisa ngungkapin perasaannya. Akhirnya, dia milih buat diam, dan nunggu. hehe:)
"Ada saatnya, dimana kita percaya akan satu hal. Semua yang dimulai dari fisik, akan berakhir karena fisik juga. Hati menjadi penentu, saat hati haus akan kasih sayang"

Cahaya 

Secercah cahaya bintang
Mengayomi kehidupan malam
Yang senantiasan gelap, menempatkan keterpurukan
Mengayun mengulas kepahitan di relung sukma

Sampai kapan lagi mau kau tunjukkan hebatnya auramu?
Mengurung tatapan rindu,
Berceloteh riang ditengah harap,
Dan menunggu sebuah kata yang menyimpan janji

Kalau dunia dikuasai cendekia
Sekalipun saja, tak akan pernah goyah keterpurukan ini
Menjelma menjadi kutukan terburuk semua insan
Menggenggam udara hampa yang terbungkus luka

Namun, jiwa yang sepi tak akan pernah kosong
Mungkin, lebih banyak dari jumlah bintang yang berdansa di keheningan malam
Seperti cahaya yang terlihat diam, 
hanya diam, hanya berusaha menerangi,
bukan berusaha meminta awan untuk sekedar beristirahat :)

created by : Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Rabu, 23 Oktober 2013

"Pelangi, Matahari berpijak. Ayo cepat kabur menembus luka"



Ketika matahari kembali datang untuk menguas senja, 
tersirat pelangi memancar bercerita tentang indahnya alam semesta.
Kukoyahkan sejenak alunan senja biru di kota tua,
mengukuhkan kembali pancaran mata, 
apalah daya, pancaran mataku tak ckup menelan indahnya alam semesta.
Kupejamkan sejenak, 
Hening menembus sukma
Air mengalir menoreh luka akan alam semesta
Matahari berpijak, menghapus pelangi terindah lukisan jemari sukmaku
Aku berjanji, kalaupun harus mengais rindu akan pelangi,
Sinarmu kan kuterjunkan didalam hati
membekas luka, namun menentramkan abadi

Selasa, 25 Juni 2013

"Kalau perkataanmu itu penuh dengan cibiran manja, takkan kusampaikan kepada hati.
Tapi saat itu, kau sampaikan lewat senyuman pahit, terimakasih atas duri racun sukma yang kaukirim"

Naluri Luka Seorang Sepi

Kalau harus menatap,
matamu memang sangat menyala, tajam memikat sukma
mentari saja enggan menggangu pandangan
bulan harus memilih muncul jika kelopakmu terpejam

Kalau harus meraba,
kulitmu halus mengemban sutra
membelalakkan mata, hingga ke mata hati
mengoyak setiap desakan angin yang lewat
semilirnya serasa hilang karena halusnya

Kalau harus berkata,
bibir ini harus mengaduh kesekian kalinya
harus berfikir berjuta kalinya
harus menyapa dinding kaca bertahun - tahun lamanya

Kalau memang tak bisa,
akan kuremuk naluri sukma yang tergores air mata luka
bahkan kuterjunkan batu bongkahan ke penghujung tebing 
atau akan kupersembahkan rafflessia untuk elisabeth

Tapi puisi hanya bisa mengibaratkan,
tak akan banyak berbuat
tak akan banyak membantu
bahkan sampai habis naruli luka seorang sepi

Created by : Desi Dwi Siwi Atika Dewi
"Jangan menangis, aduhanmy saja sudah sangat ironis."