Rabu, 30 Agustus 2017

kamu tidak akan pernah merasa benar - benar diabaikan, sampai ketika
lidahmu kelu dan rintik matamu menuntut dibagi.

namun senyum dan matanya tidak ingin diusik,
berbicara didepan telinga yang mendengar imaji lain,
dan memulai cakap dengan balasan tak bernyawa.

ada kalanya memang begini,
tidak perlu manja untuk mengeluh karena akhirnya akan sama.
bukannya tidak adil, tapi memang hantaran
bukan empathy, tapi tiada jiwa lagi. 

Sabtu, 17 Juni 2017

Membunuhmu

Bukan suatu perkara besar sekarang melihatnya datang dan mengetuk.
Luka silam yang sama sama masih menganga. Tentang jiwa yang sama sama terluka. Kesalahan yang sama sama berbekas.
Tekadku telah bulat.
Aku telah membunuhnya.
Dalam.
Begitu dalam.

Sabtu, 20 Mei 2017

Malam ini aku kembali melihat kebelakang, tentang kesalahan dan kebenaran. Apa yang aku temukan sekarang? Berbagai hal yang baru berkecamuk, menjadi satu dalam perasaan tak berperi dan menjadi simfoni. Aku memahami bagaimana siklus dan pengharapan, tapi tentang itu semua..bahkan sampai sekarangpun aku bingung bagaimana harus memulai bahkan hanya untuk berfikir.

Rabu, 19 April 2017

Tirai Nirwana

Tatapanmu jauh menusuk
Merobek epitel,  menggapai basal basement
Mencari memaknai
Apa yang kudambakan dan kurengkuhkan dalam diri
Duhai lelaki,
Remah-remah sayap yang kupatahkan
Pagi ini kembali tumbuh semakin indah
Dengan tangisan semalam suntuk
Dan sedikit sinar hangat rindu doaku
Aku lah penadah duka
Aku lah Pengalir nestapa
Namun kaya karena arusnya
Tetap dijamah karena alurnya
Sepanjang tirai nirwanaku terbuka
kekokohanku menggapaimu
Tanpa bisa berdalih kesabaran adalah duka
Namun berjuta kali lagi aku merasa
Lihatlah mataku,
Tirai nirwanaku adalah kamu



Desi Dwi Siwi Atika Dewi

Tanpa -Sendiri

Bukan tentang kita.
Rambut yang kubiarkan tergerai sore ini
Menggoda angin yang tak kurang genit menyapa senja
Estetikku hancur,
Tapi aku tetap rindu pada sepoinya

Bukan juga tentang kita. 
Kisah klasik tentang romeo dan juliette yang melegenda
Tidak membuatku berkutik dari hidung kucing kecilku
Ekornya yang mengenai tanganku
Haus akan kasih sayang yang kusampaikan lewat tangan
Semudah itu hariku layu, 
Melihat kucing kecilpun menuntut perhatian

Ini juga tetap bukan tentang kita. 
Lampu-lampu kota yang kubiarkan menyala dalam alarm malam
Menemaniku dalam bidik rindu yang kupertajam lewat senyuman
Malam ini,
Sekali lagi bukan tentang kita
Karena tetap saja;
Artian ceritaku tentang impian adalah rahasia dalam denyutan nafas yang kuciptakan
Sendiri. 

Yogyakarta, 19 April 2017
(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)
Persembahan untuk iftita,
Yang lahir tepat dihari aku mencari oksigen sendiri untuk bernafas. 

Hakekat

Badai malam ini teduh
Sekedar menghangatkan kuku kukuku memutih pucat
Menjadi selimut rambut tanganku yang kegelian
Kumaknai hipotermi sebagai kehangatan

Tempo hari,
Aku masih melihat hujan dikala malam adalah sendu
Momok petir yang mengancam gulitaku membahana
Perangai bulan yang setia-pun dijamah
... kerapuhan kelam

Ternyata begitu saja penerimaan
Seperti cengkeraman yang berubah menjadi kekuatan
Tak ada lagi goncangan yang melambangkan permusuhan
Akulah bahagia dalam diriku
Akulah dewi mentari bagi hidupku!

Yogyakarta,  19 April 2017
Desi dwi siwi atika dewi

Selasa, 21 Februari 2017

Elegi

(Desi Dwi Siwi Atika Dewi)

Kaki bersila murung dibawah remang lampu kota
Pejalan kaki dijajah kaki lima di trotoarnya sendiri
Motor mobil berhamburan
Sepeda merajuk meminta kebebasan

Aku melihatmu,
Di sudut bulan membelakangi matahari
Sedang diam mengunci pilu
Enggan menengok menumpahkan betapa derasnya rinai di dalammu
Di dalammu, aku pun bersandar.

Sekuat apakah penantianmu akan bidikan angin kesepian, sayang?
Bukankah adalah aku jawaban dalam remah tawa dan candamu siang tadi?

Berikan tanganmu, asma kita adalah satu
Lepas kaitan siksamu,
Jemput apa yang menjadi pintu hidup mu dan aku.
Diamlah, bersabar.
Elegi kali ini adalah uji
..
Aku untukmu adalah waktu.


Yogyakarta, 21 februari 2017.