Sabtu, 26 Desember 2015

Aku dan Jemari

Archapada masih kokoh berdiri
Ketika aku merasakan indahnya mengenang kekaguman
Lentera merah padam, rembulan terang benderang
Hanya aku dan jemariku mengerti

Toba masih setia dengan samosir-nya
Berbukit menengahi penghianatan
Ikan dan angsa masa baru sedang menikmati indah kebohongan
Menatapku yang tersenyum merasakan kerinduan
Hanya aku dan jemariku melihat

Merapi belum mau berjajar dengan jaya wijaya
Walaupun aku ingin melihat salju dari jogja
Agar bisa selalu melihatmu dari "putih" yang terjaga alam
Diam sembari menyesap peluh iringan perjuangan
Hanya aku dan jemariku berjuang

Hanya aku
ditemani jemari yang kau kuatkan
dengan mineral murah kepercayaan

Yogyakarta, 26 Desember 2015

Selasa, 22 Desember 2015

Menangislah Kata

Menangislah kata
Ketika nalurimu tidak lagi cukup
Mengubah kesepian remah menjadi keramaian sunyi
Berjajar disana mencoba mengukir;
Kasih cinta hujan kepada awan
Kami mengisi hidup dengan kata kata
Berlogika seperti katamu dulu
Bermakna seperti kataku
Aah Aku sampai lupa. Apa katanya?
Apakah menguras keingintahuan api kepada kayu tentang kesederhanaan?
Apakah membungkam kelogisan kayu terhadap api tentang kasih sayang?
Persaingan kata-mu mengais rinduku
Perjanjian kata-mu mencuri titik butaku
Kata - katamu yang tak berguna itu
Membuatku jatuh merasakan keberdayaan
Yang melayang karena kejujuran
Yang menguap oleh kesadaran
Sadarkah kau?
Karena kata - kataku mulai menangis.
Menangislah kata
Yogyakarta, 23 desember 2015

Temani Aku

Temani aku,
Dikala mentari memilih pulang ke peraduan
Membawa sepotong hati
Yang kau telantarkan sendiri
Temani aku,
Bersama kata yang merangkak
Menghias kertas kusam terlipat
Yang akhirnya dicuri oleh memori
Temani aku,
Sampai tintaku mengering
Lelah menulis frasa frasa kiasan
Penggambaran kebahagiaan
Dibalik kehilangan yang curam
Yogyakarta, 15 desember 2015

Jumat, 18 September 2015

Perayaan kesepian

Pagi ini
Langkah kakiku masih bising
Beradu dengan angin yang berhembus tak ingat tepian
Kata kata yang kusimpan sejak temaram
Menohok di tenggorokkan
Ingin segera berlari menuju ruang bebas,
Yang berkali kuulang dalam sajak

"Permisi" katanya
"Tetap disini, maka tak akan pernah aku sepi"
Jawabku ditelantarkan kesendirian
Maka kami menciptakan dimensi baru
Di dalam perayaan kesepian
Bersamaan dengan kerapuhan
Yang diibaratkan hujan oleh sapardi
Menahan sakit di ujung kerongkong
Meringis diam membungkus baka

Yogyakarta, 19 September 2015

Rabu, 01 Juli 2015

Pertemuan Pengakhiran

Siang itu
Mataku berkelambu mengikuti arah pandanganmu
Meneliti setiap kusen dalam ruangan
Menunggu detik yang tepat untuk beradu

Aku menungu dengan tenang
Gelisahku semalam membawa diriku begitu nyaman
Karena tak kulihat lagi berjuta bintang menari dalam alunan rindunya
Tak kudengar lagi alunan riang kasih sayang dalam tuturnya
Hanya sepi, dan menuntut pengakuan kebebasan

Ketika kata itu terucap
Seluruh darahku menggigil
Seluruh pandanganku mengabur
Namun senyumku mengembang
Menutupi jutaan rasa kecewa
Yang mengisyaratkan "baiklah" untuk "jangan"
Yang menyembunyikan "aku hancur" dengan "aku tak apa"

Memoriku menuntut kembali
7bulan 3 minggu yang lalu, kami bahkan berceloteh mengenai kasih sayang
Haruskah diingat?

Desi Atika
Yogyakarta, 30 Juni 2015
Thanks for everything you've shared to me. MRA.

Senin, 04 Mei 2015

Tidak Lagi

Mendengarkan angin
Mengisi keheningan waktu menyisir sepi
Di dalam keramaian kemataan

"Aku menunggu hingga peluh membanjir,
Hingga janji setia memang telah diutuskan"
Janji kesunyian kembali mengembang kepada sukmaku
Yang dipelihara kosong oleh galaksi
Yang dipenuhi hampa oleh atmosfer

Kembali ke dalam masa ini
Di mana takdir tak cukup mampu
Menuliskan berbagai alasan untuk menikmati
Di mana kisah menggoreskan berjuta pengalaman lama
Yang bahkan tak dapat paham kepada logika

Jogja, 5 mei 2015
Desi Dwi Siwi

Minggu, 22 Maret 2015

Sedang dalam masa hening.

Halo, jam 09.04
Kami sedang berada di dalam kelas. Seperti biasa, menikmati apa yang seharusnya didalami. Namun cara kami saat ini hanyalah menikmati apa yang membuat kami kadang menyesal, senang, padahal hanya pengharapan semu sebuah masa depan.
Aku sedang meresapi yang namanya menunggu, yang ditunggu - tunggu tanpa disadari semua umat manusia. Percaya kalau itu bisa saja melelahkan? Aku percaya. Tapi aku menolak mengadakan apa yang dimaksud kepercayaan akan kelelahan.

Kamu tau? Sebenarnya ini bukan masalah mudah untuk menyimpan semuanya, rapat namun menetes karena terikat angin. Pribadiku masih bertahan dengan pribadiku yang lama, tidak bisa terikat dengan apa yang namanya janji, apalagi harus digantungkan hanya karena hal sepele. Sejak kecil, banyak hal yang tidak kau ketahui. Aku tidak akan pernah bisa terkait dengan janji, apalagi tidak ditepati. Bukan salahmu jika melakukan ini.

Maaf membuatmu terjatuh beberapa kali, mungkin. Aku harap kau juga tahu kalau aku mengalami hal yang sama beberapa kali. Percaya akan apa yang dinamakan pengorbanan? Aku tidak merasakan aku melakukan apa itu pengorbanan. Aku hanya menerima ini sebagai salah satu wujud penerimaanku terhadapmu. Paham proses? Aku mengalaminya, tidak instan. Karena aku tidak mau munafik menampik apa yang kami sebut kenyataan. Aku marah,sesekali. Bukan kecewa karena sifatmu, tapi merenungi penerimaanku.

Ini sebabnya, kata maafmu justru membuatku semakin rentan. Takut ketika maafmu semakin menumpuk dan menjadi jengah. Aku takut, jelas. Bukan karena kehilangan, tapi penerimaanku justru membalik menjadi bumerang untukku sendiri.