Jumat, 18 September 2015

Perayaan kesepian

Pagi ini
Langkah kakiku masih bising
Beradu dengan angin yang berhembus tak ingat tepian
Kata kata yang kusimpan sejak temaram
Menohok di tenggorokkan
Ingin segera berlari menuju ruang bebas,
Yang berkali kuulang dalam sajak

"Permisi" katanya
"Tetap disini, maka tak akan pernah aku sepi"
Jawabku ditelantarkan kesendirian
Maka kami menciptakan dimensi baru
Di dalam perayaan kesepian
Bersamaan dengan kerapuhan
Yang diibaratkan hujan oleh sapardi
Menahan sakit di ujung kerongkong
Meringis diam membungkus baka

Yogyakarta, 19 September 2015

Rabu, 01 Juli 2015

Pertemuan Pengakhiran

Siang itu
Mataku berkelambu mengikuti arah pandanganmu
Meneliti setiap kusen dalam ruangan
Menunggu detik yang tepat untuk beradu

Aku menungu dengan tenang
Gelisahku semalam membawa diriku begitu nyaman
Karena tak kulihat lagi berjuta bintang menari dalam alunan rindunya
Tak kudengar lagi alunan riang kasih sayang dalam tuturnya
Hanya sepi, dan menuntut pengakuan kebebasan

Ketika kata itu terucap
Seluruh darahku menggigil
Seluruh pandanganku mengabur
Namun senyumku mengembang
Menutupi jutaan rasa kecewa
Yang mengisyaratkan "baiklah" untuk "jangan"
Yang menyembunyikan "aku hancur" dengan "aku tak apa"

Memoriku menuntut kembali
7bulan 3 minggu yang lalu, kami bahkan berceloteh mengenai kasih sayang
Haruskah diingat?

Desi Atika
Yogyakarta, 30 Juni 2015
Thanks for everything you've shared to me. MRA.

Senin, 04 Mei 2015

Tidak Lagi

Mendengarkan angin
Mengisi keheningan waktu menyisir sepi
Di dalam keramaian kemataan

"Aku menunggu hingga peluh membanjir,
Hingga janji setia memang telah diutuskan"
Janji kesunyian kembali mengembang kepada sukmaku
Yang dipelihara kosong oleh galaksi
Yang dipenuhi hampa oleh atmosfer

Kembali ke dalam masa ini
Di mana takdir tak cukup mampu
Menuliskan berbagai alasan untuk menikmati
Di mana kisah menggoreskan berjuta pengalaman lama
Yang bahkan tak dapat paham kepada logika

Jogja, 5 mei 2015
Desi Dwi Siwi

Minggu, 22 Maret 2015

Sedang dalam masa hening.

Halo, jam 09.04
Kami sedang berada di dalam kelas. Seperti biasa, menikmati apa yang seharusnya didalami. Namun cara kami saat ini hanyalah menikmati apa yang membuat kami kadang menyesal, senang, padahal hanya pengharapan semu sebuah masa depan.
Aku sedang meresapi yang namanya menunggu, yang ditunggu - tunggu tanpa disadari semua umat manusia. Percaya kalau itu bisa saja melelahkan? Aku percaya. Tapi aku menolak mengadakan apa yang dimaksud kepercayaan akan kelelahan.

Kamu tau? Sebenarnya ini bukan masalah mudah untuk menyimpan semuanya, rapat namun menetes karena terikat angin. Pribadiku masih bertahan dengan pribadiku yang lama, tidak bisa terikat dengan apa yang namanya janji, apalagi harus digantungkan hanya karena hal sepele. Sejak kecil, banyak hal yang tidak kau ketahui. Aku tidak akan pernah bisa terkait dengan janji, apalagi tidak ditepati. Bukan salahmu jika melakukan ini.

Maaf membuatmu terjatuh beberapa kali, mungkin. Aku harap kau juga tahu kalau aku mengalami hal yang sama beberapa kali. Percaya akan apa yang dinamakan pengorbanan? Aku tidak merasakan aku melakukan apa itu pengorbanan. Aku hanya menerima ini sebagai salah satu wujud penerimaanku terhadapmu. Paham proses? Aku mengalaminya, tidak instan. Karena aku tidak mau munafik menampik apa yang kami sebut kenyataan. Aku marah,sesekali. Bukan kecewa karena sifatmu, tapi merenungi penerimaanku.

Ini sebabnya, kata maafmu justru membuatku semakin rentan. Takut ketika maafmu semakin menumpuk dan menjadi jengah. Aku takut, jelas. Bukan karena kehilangan, tapi penerimaanku justru membalik menjadi bumerang untukku sendiri.

Senin, 12 Januari 2015

It12.14 WIB
Selasa, 13 Januari 2015
Ruang kelas XI PMIIA 3
SMA N 2 Yogyakarta

Mendung.
Menanti gerimis.

Sampai saatnya lelah, kami semua akan menyadari bagaimana bumi berotasi.
Tidak sepenuhnya mulus. Kadang dia juga harus mengalah kepada awan dan titik air. Mungkin, karena iba melihat permohonan hujan kepadanya.
Siapa pula yang tidak kasihan kepada hujan, aku berfikir. Bagaimana semua titik titik itu rela dijatuhkan oleh awan, hanyak untuk kami para manusia yang mengancam meniadakannya lagi.
Harus berproses lagi-hanya untuk dijatuhkan kembali, luar biasa.

Di dalam sini, otak kami difokuskan kepada suatu masalah yang sama, matematika. Tapi namanya sma, kami bahkan tidak tau apa yang telah dituliskan di papan tulis yang di atasnya sudah tergantung gagahnya burung garuda.
Hanya kami dengarkan iringan bel yang menandakan kebahagiaan bagi semua siswa, hanya kami perhatikan "bunda" kami yang hari ini cantik dengan rok barunya. Dan aku, memilih menulis catatan entah-berantah ini.

Mulai hujan, gerimis sendu seperti "Bunda Ope" dalam imajinasi Tere Liye ketika sampai di Batavia. Suara sudah bercampur dengan berbagai pita yang nakal hendak disaingi hujan.

Kosong.

Kali ini aku tidak bisa mencatat. Lantaran tangan yang masih mengaduh, atau sedang menggaduh "?" Aku bersama yang lain, sebagian lain yang memilih memegang gadget menemani petir dan gulitanya pikiran. Games, chat, sudah terlampau banyak objek pilihan untuk nakal, jaman sekarang.

Hei hujannya sudah hampir reda, sekarang jam 13.08.
Cepat. Tidak lambat.

Air itu mungkin akan terus mengalir ke tempat yang asing sebelumnya. Sama seperti kami, yang menjalani saja apa yang ada di papan. Mendengarkan saja apa yang sudah diisyaratkan mulut manusia yang sedang berkuasa di zaman ini. Tanpa tau apa yang hendak kami gunakan dengan semua ini.
Tidak. Bukan cita cita yang aku maksudkan di sini.
Namun semuanya, ini semua. Kami terus digelontor dengan rumus rumus Kurikulum yang senantiasa berubah dengan berubahnya....entah.
Tapi tidak pernah jelas.

13.11 WIB
Ruang kelas XI PMIIA 3
SMA N 2 Yogyakarta


Memilikimu

Memililki adalah kehilangan yang buram

Memiliki adalah harapan terucap kepada pemilik tatapan sendu

Memiliki adalah kata yang tersampaikan dalam doa

Memiliki adalah cerita yang kaya akan hakekat

Namun aku memilikimu dalam arti yang berbeda

Karena aku memilikimu dalam jarak

Karena aku memilikimu dalam harapan

Yogyakarta, januari.
Desi Dwi Siwi AD

Rabu, 07 Januari 2015

Membekap Senja

Aku ingin menyimpan senjamu
Hanya aku
Hanya untukku yang matanya sayu berbingkai debu

Aku bermimpi menculik senja
Menggendongnya hanya untukku
Kubawa pulang untukku bertemu
Bertemu kau,
Yang desahnya tak jauh dari radar otak

Aku mengais doa
Agar aku diijinkan menoreh luka dipundakmu
Lalu kuiriis pelan bersamaan dosa inginnya memeluk

Lihatlah!
Aku mengintai senja untuk ada disampingmu
Rasakanlah!
Aku telah berhasil menorehkan luka kepada buih buih kehilangan

Aku ingin mengambil senja
Untukmu
Percayalah

Desi Dwi Siwi AD
Yogyakarta, 7 Januari 2015