Selasa, 31 Januari 2017

Rintik Hujan

Kembali menyapa,
Rintik hujan ini datang dalam kenangan yang aku gambarkan
Melewati rindu yang kusejajarkan dengan doa,

Melipat raga, aku memejamkan mata
Melihat seringaimu malam itu
Aku lupa akan Lelah
Aku telah bebas dalam neraka pilu yang diseimbangkan dengan nelangsa
Magis,memang.

Dalam hangatnya pelukku
Aku sibuk mencarimu di sela rintik hujan malam ini
Rasanya, baru kemarin aku melihatnya bercermin
"Ganteng ya"
Lalu aku mematung menjadikanku batu karena lelah memuji

Kurasa,
rintik hujan ini puas memaksaku kembali dalam konotasi
Kamu adalah rintik hujan yang dikirimkan halus dalam rinduku
Menggelar pertunjukan berbagai suara dalam imajinata
Tidak berhenti mengaliri sawah kami meski dingin

Dan kepadamu, rintik hujan yang kupeluk hangat - hangat
Sebesar apapun buihmu dalam malam dan pagiku
Aku mencintaimu.

(Inspirasi Kekosongan-a)
Yogyakarta, 31 Januari 2017

Naungan

Naungan kebahagiaanku,
Maka lihatlah malam ini 
Sinar matamu menerangi malam biduan umat
Senyumu bahkan menjadi bulan yang ditatap mereka yang merasa dekat
Namun tanganmu tetap memilih diam, 
menyembunyikan aku yang terlelap dalam pikat

Naungan kesedihanku, 
Maka songsonglah janji kita
Dalam wajah rindu yang kugambarkan begitu pelik
Penuh kontra yang kita namakan pendewasaan
Aku tidak akan pernah lelah menjadikanmu alasanku,
dalam tangis diam dan peluh dukaku 

Sekali lagi,
Demi rintik hujan yang datang menentramkan malam
Tetaplah ada dalam harapan dan ingatanku
Karena kamu
Selamanya kamu
Adalah naungan dari segala asa yang kusimpan rapat dalam memori

(Inspirasi Kekosongan-a)
Yogyararta, 31 Januari 2017

Penadah Duka

Kembali bersama duka,
Sri Ningsih mengabur dalam hujan air mata

Sekelebat beban masa lalumu kembali datang
Hilir mudik disepanjang perjuanganmu
mengemis makan dan kesejahteraan

Aku menangis mengenang
Betapa banyak rindu yang kau tanam
Berapa kali luka menganga menjadi topangan
Berair lah bah dalam rumah yang kau perjuangkan

Untukmu, Sri ningsih
Tetaplah berbahagia dalam dukamu
Tetaplah menjadi senyum dalam perihmu

(Sri Ningsih, Tentang Kamu. Tere-liye)
yogyakarta, 31 Januari 2017