Sabtu, 08 Juli 2017

Rembulanku Jatuh

rembulanku jatuh kemarin,
Ketika aku meneteskan bening yang maknanya hierarki
Bersamaan dengan lunglainya tubuhku menghadap mentari

dalam doaku, 
Oh Tuhanku..
Begitu pahit mencabut belati dari tanah yang tersembunyi
Begitu menyayat mendengarkan diari hujan yang berulang kali disakiti awan
Begitu sulit menjelma menjadi kura kura yang tempurungnya tak paham akan kesakitan.

dalam nurani air mataku, 
Keraguan membuncah mengekang nestapa yang kulayangkan 
Berbagai elegi diri dan nurani perempuanku tercabik terlalu cepat

rembulanku jatuh kemarin, 
Aku yakin mendapatnya jatuh tanpa selipan selipan bintang
Mendaratkannya dengan keyakinan 
Mengajaknya lari dalam keraguan dan mengerti hakekat penerimaan
rembulanku telah sempurna jatuh, 
Di matamu.
Di dalam matamu.
Di dalam matamu yang kemudian kau alirkan menuju panji panji hidupmu. 

Yogyakarta, Desi Dwi Siwi Atika Dewi
8 Juli 2017.
(Inspirasi kekosongan-A)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar