Rabu, 19 April 2017

Bersama rasaku pagi ini, 
Terkirim surat kepada naungan kebahagiaanku
Sang inspirasi kekosongan

Selamat pagi,  naungan rinduku
Tentang apa yang kita bicarakan tempo lalu
Aku kembali mengiris dalam pemaknaan tentang kamu
Tentang apa yang kita sebut kasih sayang
Tentang apa yang kita sebut masa depan

Sayang, 
Lalu apa yang kautanam dalam hatiku,
kalau bukan tentang masa depanmu dan aku?
Berapa lama aku perlu tahu bahwa aku memilikimu?

Demi nirwana yang mengalirkan bahagia
Aku tak pernah lagi menganggap perpisahan adalah duka
Karna muaraku adalah ke-asa-anmu untuk yang kau sebut dalam doamu

Ketika nanti aku pergi,
Ketika nanti kamu menjauh,
Bolehkah doaku tetap terpanjat?
Bolehkah aku mengharapkan hanya sementara?
Kalau kau tanya seperapa dalam, bukan itu
Tapi tanpa batasan.
Aku berusaha, mengukurnya.
Tapi akhirnya selalu begitu,  lelahku menyerah tanpa makna. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar