Jumat, 25 November 2016

Cerita Arjuna



Selamat malam, 


Malam ini aku akan membagi cerita bagaimana melintasi rindu dan patah hati dalam satu waktu untuk memenangkan hati seorang arjuna.

Setahun lalu, masih sama saja aku dan kamu adalah teman baik yang membagi kertas ulangannya untuk diisi. Masih ingat ketika jemarimu masih saja mengeluh ketika tanganku mengaduh dalam balutan pen. “tolong tuliskan sedikit, dong!”

Setahun yang lalu, tatapan matamu masih saja menjauh. Dengan aku yang menyorot diriku dalam kebimbangan jalan mana yang aku impikan. Kita masih sama – sama memperjuangkan apa yang kita sebut kasih sayang. Bedanya, kau terpaksa menelan putus asa dan mengajakku berlari, namun aku memilih diam sejenak melihat mata sayu yang terdiam disudut melihat jemarimu menggenggamku begitu erat. Percayalah, rasaku ketika itu bukanlah sayang yang sebesar cintanya kepadamu. Bukan juga sayang yang bisa kau janjikan kesetiaannya. Mataku masih ragu melihat jemarimu. 

Ini adalah tentang pilihan. Begitu sulitnya menjadi pemenang di antara jarum yang jahitannya lebih rapih dan halus. Bagaimana menjadi bulan ditengah bintang yang gemerlapnya merata dan meraja. Bagaimana mungkin lagi menggantikan matahari hanya dengan lampuku yang redup dikala listrik muka bumi padam. Aku takut tidak akan pernah bisa lagi menggantikan. karenanya.

Berjalannya waktu, aku memilih terdiam dalam asa yang mulai menemukan empunya. Aku melihatmu begitu sejati dalam nadiku setiap malam menjemput mimpiku. Namun bagaimana bisa ketika pagi adalah tangis yang kujumpai. Menderitanya rindu dan membagi kasih. Bagaimana bisa aku tidak rela tentang cerita masa lalumu. Aku, dalam sadar dan lamunanku jelas teringat bagaimana wajah itu memohon untuk aku “Jangan sayang banget sama aku, ya?” Ketika aku telah menjadi rindu yang kau ajak berdamai dengan masa lalu. Bagaimana rasa ragu itu begitu cepat menyerap semua energy kepercayaanku. Karena bagimu, aku adalah yang kedua. 


Sejatinya, energy adalah kekal.  Namun bagiku begitu sulit mengumpulkan berjuta energy untuk menyembunyikan rasa sakit. Ketika perasaanmu kau jaga untuk rasa sakit yang lainnya. Ketika berulang kali akujuga terluka ketika kau menutup luka lama dalam punggungmu. Aku masih saja sama, menjadi bahagia karena ada dalam sisimu. Tapi raguku di ubun – ubun. Ungkapan sayangku adalah obat penenang bagi jiwaku yang memberontak kala itu. 

Arjuna tetaplah arjuna. Berbagai rindunya mematok janji yang membuatku mengalun merdu dalam sayang dan cintanya. Berjuta kali aku memandangku adalah rindu yang tak akan pernah usai karena ucapan dan tatapan matanya. Aku mulai lupa hakekat berbagi. Dalam kehidupanku, aku hanya melihat menjadi kekal dalam cinta, hanyalah tersisa ketegasan dan keegoisan. Arjunaku adalah milikku. Dan raguku adalah milikku. Dalam waktu itu, aku melihat bagaimana mataku mengering dan peluhku menetes mengatasi ragu yang kurangkai menjadi percaya. Tentang kamu, aku begitu rindu menjadi kekal dalam matamu, aku begitu merindu aroma sayang yang membuat raguku hilang bentuk dan tersihir dalam api perapian malam itu. 

Maafkan aku bila sekarang enggan mengulang bagaimana sakitnya terbagi dan melihatmu menjaga perasaan gadis lain lagi. Maafkan aku jika memintamu tetap begini. Menjagaku entah untuk yang keberapa kali aku menahan jatuh dalam topanganmu. Hanya terima kasih dan salam cinta yang bisa aku sematkan dalam darah dan jantungmu. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya jika kau mau.
Maafkan aku juga kepada hati yang begitu sakit melihatku. Karena kau tau? Bagaimana cinta bisa semakin memdudar karena dipaksakan. Aku tidak akan pernah merelakan arjunaku dalam lembah dingin yang kembali memintaku berhenti menyayanginya. Bagaimana perasaanmu membuatnya jatuh dalam elegi yang tidak akan pernah kumaafkan keberadaannya. Menangis dalam peraduan dan menyisakan pilu di dalam sana. Maka tatalah kehidupanmu dengan baik, dengan pemilihmu yang baru. Jangan lagi ada di antara mataku, aku terluka. Sama sepertimu. Memang lebih baik aku dan kamu tetap diam dalam keasingan. Agar rindumu menjadi angin yang terlupakan, dan kesedihan akan keterpaksaan selama ini bisa kau hilangka dalam imajinasi kecilmu. Ini tentang pilihan. Dan untukmu, maafku selalu terucap dalam doa dan permohonanmu. Namun ingatlah, ketika pilihan menjauh adalah takdir, maka jangan lagi datang untuk menjadi takdir baru yang membuatnya semakin rumit. Aku tau kau semakin paham. Semoga bahagia dengan jalanmu. 

Dan untuk arjuna dalam ceritaku. Apakah kita akan selamanya ? Ataukah terpisah di ujung jalan nanti? Masalah kita kini adalah mempersiapkan bagaimana jalan untuk ditempuh nanti, seberapa tau kita tentang tujuan akhir dalam hidup kita? Membelok atau masih terus? Berlanjut atau menyimpang ? Bersama atau harus terpisah ? Apakah masih penting sekarang jika aku melihat matamu dalam impianku? Adalah rindu yang memisahkan jarak. Adalah cinta yang meniadakan ragu. Adalah jalan yang menentukan akkhir. Saat ini, aku mencintaimu sepertimu pun kepadaku. Aku tidak butuh kepastian untuk tetap berjalan beriringan denganmu. Ketika akhir kita adalah bahagia seperti kala ini, lupakan aku yang pernah ragu dalam hidupmu. Namun, ketika akhir kita tetaplah berbeda, ingat selalu apa yang aku tanamkan kepadamu. Jangan pernah anggap aku pernah menjadi bagian dari separuh hidupmu, agar kita bisa tetap menjalani hidup berdua, bahagia dengan kehidupan kita masing – masing kelak. 


Aku tidak pernah memintamu untuk disini selamanya. Aku hanya memintamu jangan pernah meninggalkanku berjuang sendirian. 


Aku tidak ingin engkau menahan dirimu untuk pergi ketika jalan terbaik adalah menjadi asing. Aku hanya memohon agar dalam jalannya temanilah aku mencari pintu keluar dan mencoba bersama sekali waktu. 


Aku tidak akan merusak keinginanmu untuk mencari yang melebihi aku. Aku hanya merindukanmu menerimaku ketika aku adalah benar baik bagimu. 


Maka dalam cerita ini, tidak akan ada epilog. Yang ada hanyalah jalan kita, bagaimana kita akan terus mencoba bersama meskipun pikiran kita sama sama tidak akan pernah berfokus. Aku masih memiliki naluri wanita, melihat lelaki tampan bertebaran. Kaupun juga, melihat wanita cantik mempesona melirikmu dalam sekali waktu membuatmu tersenyum. Namun, bisakah kita menjaga semua? Maka epilog ini adalah tentang mencoba menjadi baik dalam aku dan kamu sebagai subjeknya. Sehingga alasan bertahan akan selalu ada dalam pikiran dan naluri kesetiaan aku dan kamu.

Yogyakarta,
25 November 2016.
Dengan sabar, aku mencintaimu yang selalu sabar menjadi arjunaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar