Selasa, 29 November 2016

Aku dan Ego.

Sekali lagi aku membaca kiasanmu dengan senyuman.
Bukan senyuman tentang bagaimana aku merasa menang dan merasa kamu adalah kalah. Tetapi bagaimana menyadari bahwa sebenarnya penerimaanmu adalah seperti keponakanku, yang terlampau manja, sok menjadi dewasa dengan menunggu, tapi tidak pernah tau hakekat hidup yang sebenarnya. Tidak mau berbagi kerinduan dengan kedamaian. Mengharap semua yang hilang akan selalu kembali.
Sama seperti adik kecil keponakanku.
.
.

“Sudah berapa lama kita bersama, Sayang?”
Rasanya pertanyaan ini terlampau sering terluka di dalam benakku. Semakin menjalar dan ingin kutanyakan namun tertelan lagi karena ini adalah bentuk keraguanku tentang kebersamaan. Aku tidak akan pernah menyakan seberapa jauh kita melangkah, karna disadari atau tidak, diterima atu tidak, diingkari ataupun disepakati, kita adalah dua manusia yang berjalan dengan kapasitas kita masing masing. Aku berjalan sejauh ini, dengan langkahmu yang juga menentukan tujuan sendiri..
Aku memperbaiki diriku; tidak akan pernah bisa terukur dengan seberapa jauhnya kamu ikut berjalan dan membenahi hidupku. Tidak. Aku dan kamu memiliki hidup yang berbeda. Sejauh ini, seletih ini, sebenarnya kita adalah tetap berbeda. Aku dan kamu hanya menyadari bahwa di persimpangan jalan nanti ada tangan yang harus di genggam, ada bahu yang dikuatkan, ada senyum yang paling tulus dan menjadi hal paling kurindukan, ada nasihat yang banyak kutunggu, dan ada pengalaman yang akan dengan parau kita ceritakan. Sebelum kita berjalan lagi, dan menemui persimpangan jalan dengan diri yang lebih layak.
.
.
Gadisku, kamu adalah satu dari sekian rindu yang tak terbalas. Aku adalah satu dari beribu nasihat yang sempat kau rindukan. Sejak dulu, ketika tanganku belum tergenggam dengan separu hidupku sekarang, aku berkali-kali melihatmu terjatuh dalam esensi yang sama. Terperangkap dan masih terus memikirkan hal yang sebenarnya adalah ilusi.
Jika memang lelakiku pernah memintamu untuk tinggal, aku mengerti. Aku selalu tau dari arti matamu, meskipun pun lelakiku tidak pernah kuminta menceritakannya. Bahasaku selalu paham bahwa arti dari semua ini adalah

“….Tapi dia pernah memintaku untuk tinggal meskipun dia pergi. Agar dia bisa melihat betapapun aku mencintainya meskipun kehilangan. Agar dia bisa mengerti bahwa aku benar – benar mencintainya. Dan aku pernah berjanji untuk menunggu, sama seperti dia untuk tidak pernah pergi.”
Sekarang, bolehkah aku berbicara sebagai seorang sahabat lama?
Aku tidak akan melibatkan perasaanku dalam bait dibawah ini. Aku hanya mengerti meskipun lelakiku tidak pernah meminta mengerti. Aku tidak pernah tau sebenarnya adalah apa. Aku hanya menerka, ini lah yang terjadi dalam peliknya hubunganmu dengan janji yang kaubuat kala itu.
;
Aku memintamu berfikir sejenak.
Ketika dia memutuskan melihatmu menunggu, adakah janjinya untuk kembali dan menjemputmu?
Dikala itu, ketika romantisme masih membuatmu bahagia, adakah janjinya untuk kembali rindu setelah melihatmu menunggu dan menyakiti dirimu untuk tetap disini?
Adakah?
Karena aku hanya melihat matanya haus akan wanita yang benar – benar menyayanginya,
Selalu merasa tenang ketika dirinya melihat wanita yang dulu ia sayangi masih tetap berdiri menatapnya ketika dia merasa jenuh dan merindukan cinta lainnya.
Aku melihatnya dengan jelas. Berapa lama kau bersamanya? Apakah kau sudah menyadarinya ? atau hanya mengingkarinya?
Gadisku, janjinya untuk tidak pernah pergi tidak pernah terbukti.
Kau menyaksikan sendiri dan merasakan sendiri. Berapa ribu air mata yang kau alirkan dalam malam dan siangmu? Ada berapa dosa yang kau kumpulkan karena menyembunyikan luka?
Apa yang bisa kau cari lagi ?
Ketika yang –tidak akan pernah pergi- telah terbukti mati, kau sendiri yang menuliskan janji dalam hiruk pikuknya kehilanganmu dengan –ketika aku tinggal, dia akan kembali-
Bukan dia, sekali lagi…aku tidak pernah melihat itu dalam sosoknya. Bagiku, yang selama ini mengenalnya, aku mengerti bahwa arti kehilangan untuknya adalah siklus. Bagaimana yang datang akan pergi, yang hilang akan terganti. Ketika hilangmu ia rindukan karena sosok lain begitu jauh dari hiruk pikuk perasaannya, ia akan kembali melihatmu. Sekali lagi, memastikan bahwa dia adalah berharga dan satu – satunya di hatimu. Namun bukan kembali yang ia cari, namun semangat dan kesadarannya untuk kembali mencari sosok baru yang lebih dari dirimu.
Dia adalah lelakiku yang mencintai dengan logika. Dia adalah lelakiku yang mencintai bukan semata adalah bersama dan memaksa. Karena dia adalah sosok yang tidak akan pernah mengubah pendiriannya karena terpaksa.
Sekali lagi, berapa lama kau bersamanya?
Kenapa bisa kau melewatkan hal yang selalu ia tekankan dalam garis mata dan senyumnya?
Kehilangan baginya adalah buruk, gadisku. Jadi ketika pergi adalah pilihan terakhir, butuh jutaan detik lain yang menyadarkan bahwa pergi adalah kesalahan. Dan ketika dia bertemu dengan wanita yang tepat, tempat peraduan rindu dan keluh kesah, adalah pedih yang kau terima. Kasih sayangnya begitu besar, berkali lipat dibanding dengan kasihnya terhadapmu. Aku mengerti, karena aku merasakan. Kau tidak.
.
.
Sayang, sudah berapa rindu yang kita satukan ? aku meyakini bahwa aku dan kamu adalah rindu yang bersatu. Bukan sekedar keinginan untuk bertemu.
Aku meyayangimu kemarin sore. Seperti kembali dalam memori tahun lalu ketika orang tuamu masih ragu. Bagaimana aku dan segala tentangku. Selalu menayakan apakah aku adalah nakal atau baik. Selalu mencari apakah aku dewasa ataukah kekanakan. Sedang kamu? Menerima sambutan dari keluargaku karena semua sikapmu yang sungguh berbeda dari memori pilihanku yang dulu.
Mulai detik aku mencintaimu, aku tahu akan banyak rintangan yang mejadi satu saling mengisi benang kekosongan hubungan rajut kita. Sekian kali aku lupa rasanya menjadi baik dan egois dalam satu waktu. Aku mencintaimu, tapi banyak perasaan yang harus kita jaga sama sama. Tidak penting lagi perasaan cemburuku bagimu. Hanya untuk aku tenang dan menerima kondisimu ketika itu.
Taukah kamu? Sampai saat ini aku belajar begitu banyak hal tentang kita.
Bagaimana kau berjuang begitu keras untuk menyayangiku dengan rindu yang kulewatkan setiap malam dengan manja.
Bagaimana kamu menjagaku dalam aturan yang kusebut sayang.
Bagaimana nasihatmu untukku yang selalu membuat diam dalam sayang yang sama setiap mendengarnya.
Bagaimana pengorbananmu memelihara perasaanku yang terkadang lebih menyeramkan dibanding kucing di ujung jalan.
Bagaimana tentang cintamu yang terwujud dalam semua perlakuanmu.
Aku begitu berterima kasih atas itu. Cinta dan logikamu sejalan dengan logika tentang cintaku. Aku memahami bagaimana kita bisa diam dan saling sapa ketika itu. Dan aku memaknai bagaimana kita saling bergandengan dan diam dalam pelukan ketika air mataku selalu menuntut keluar kali ini. Kita adalah egoism yang dipersatukan karena waktu. Dan harapanku, waktu kita adalah tidak terbatas.
.
.
Akhir dari semua cerita yang pararel ini.
Gadisku, kembali lagi aku dan lelakiku merasa jenuh melihatmu masih disitu mengawasi kami yang tengah bertengkar, berdiam, mengaduh, mengeluh, saling memeluk, saling mengobati luka, menjaga rindu, mencuci hati, mengenali cinta bersama.
Kami adalah puing dalam cinta yang kausebut janji imajinasi. Aku adalah wanita yang terpaksa menjadi bait cinta sepadan dengan penerimaan karena ketakutannya mengenaliku sepertinya mengenalimu kini. Dan dia, adalah lelaki yang penuh luka. Dianggap penyebar pesona karena memisahkan sahabat lama, dianggap tidak bertanggung jawab dan bodoh karena membuang wanita cantik nan imut yang dengan tulus menyerahkan hampir tetesan darahnya. Bukan lagi dia, yang selalu mengumbar janji untuk selamanya, kini kabut dan janji itu berganti dengan trauma dan ketakutan pandangan buruk yang selama ini tidak pernah terpola justru terpatri dalam diri dan semua tentangnya.
Kami adalah rajutan sayang yang hangatnya selalu tidak kau harapkan. Sampai kapan kamu akan tetap diam dan berjuang dalam ketergantungan angin dan jemarinya menuntunmu?
Kenapa tidak kau mencoba memahami penerimaan dalam keegoisanmu sekali saja?
Kau selalu merangkai pola yang baru ketika mencoba untuk melupakan, untuk itu usahamu selalu sia sia termakan waktu. Tidak bisa katamu. Padahal usahamu adalah nihil karena pikiranmu adalah kembali dalam janji kosong yang rangkaiannya kau terka sendiri. Yang mengadakan apa yang tidak pernah terjadi. Menjalani apa yang tidak akan pernah terlaksana. Kau adalah batu, yang ketika bergerak membutuhkan kami untuk menghindar, yang ketika diam mengancam kami untuk mencari tempat lain.
Ayolah, berdamailah dengan masa lalu.
Kami akan bantu.
Dengan tidak akan pernah muncul sebagai stimulus besar dalam imajinasimu//

Yogyakarta,
Aku dan segenap perasaanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar