Minggu, 27 Desember 2015

Breaking

Honestly, i get jealous everytime.
Everytime when i listen her name so clearly and so fast breaking my heart into pieces.
Everytime when you look deep into my eyes and say "i can't love you everytime like you do"
I get jealous. And i never got this feeling before. Because i had under control, i had fall into the dark of being your lover.
But i know, i love it, i'm sure my heart will grow up-up-and up until you catch it in front of people who breaking my heart so badly this time.

Sabtu, 26 Desember 2015

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu..
Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat
Disampaikan awan kepada hujan)
Yang menjadikannya tiada
(Sapardi Joko Damono)

Pusara Cinta

Aku kembali melirik Zayan bersama kelima anakku. Adhis, Bila, dan si kembar Cheysaa, Danis, dan Elsa. Mereka sedang bermain dan belajar melukis bersama ayahya, sebuah ritual yang dilaksanakan keluarga kami ketika suntuk dan butuh hiburan. Minggu keempat bulan Desember. Akhir pekan sekaligus akhir tahun yang membuat keluargaku semakin dekat karena liburan. Tidak ada kemacetan, karena tahun ini, tepat 2 tahun usia pernikahanku dengan Zayyan. Kami hanya akan mengunjungi pusara tempatku menikah, hanya untuk mengenang hari hebat setelah penantian 15 tahun terindah dalam hidupku. 

--------------------------------------------------------------------------------------
"Kerjakan semuanya. Laporan ini harus dikirim ke emailku jam 11 malam ya, Ri.. Aku percaya kepadamu"
Lelaki tua itu akhirnya meninggalkan ruanganku dan meninggalkan setumpuk laporan keuangan yang harus kukerjakan ulang. Seperti biasa, lemburan di malam minggu. 

"Lembur lagi, nggak capek? Usiamu sudah 39 tahun dan masih saja mau diperbudak. Ririiii ririii, kapan kamu nikah? sudah pinter begitu, cekatan lagi", Satu - satunya teman baikku di kantor ini, Derinda mulai gerah dengan tabiatku yang melupakan kebiasaan remaja. 

"Sudah biasa juga kan? Lagi pula aku tidak memikirkan menikah saat ini, Der. Pekerjaan ini cukup saja membuatku merasa memiliki suami dan anak anak yang imut seperti kau dan keluargamu", Jawabku asal asalan. Reaksinya seperti biasa, Derinda kemudian pergi dan menyunggingkan senyum pahit ala ibu - ibu muda melihat kawannya seperti perawan tua.

Sepi. Suasana seperti ini yang aku suka. Melihat matahari mulai terbenam di ufuk barat, menjanjikan pagi - pagi yang selalu indah kepada makhluk. Aku terdiam memikirkan ini lagi. 15 tahun sudah aku memilih jalan hidupku. 
--------------------------------------------------------------------------------------

Setelah divonis tidak akan bisa bertahan dengan kehamilan, aku memutuskan mengakhiri kisah cintaku yang telah berlangsung 5 tahun. Bagaimana bisa seorang lelaki yang kau ajak berimajinasi dengan keluarga besar mampu bahagia ketika tahu kau tidak bisa hidup jika hamil? 
Aku sedih. Aku seperti kehilangan sepenuhnya hatiku, yang sebelumnya kupersiapkan untuk mencintai keluargaku sendiri bagaimanapun keadaannya. Aku telah terlalu jauh memimpikan kebahagiaan bersama kekasihku. Sampai aku tidak bisa mengelak akan kepastian pernihakan dengannya. 

"Aku tidak bisa memilikimu, Yan. Aku telah memilih untuk berkarier. Aku bukan wanita yang baik untuk kaunikahi. Segeralah nikahi Elsa, maka mimpiku dan mimpimu akan bersatu dan kaunikmati bersama wanita yang mencintaimu." Dengan isak tangis, awan menemaniku berjalan menuju pintu kebahagiaan baru untukku. Persis ketika matahari terbenam, ketika janjinya kembali dikumandangkan dengan angin sepoi untuk pagiku yang baru.
Baru kali ini aku melihatnya diam, reaksinya begitu dingin dan terluka karena hamparan salju telah mencair menjadi samudra dalam. Maafkan aku. 

Dengan itu, maka berakhirlah semua mimpiku yang lama. Aku mulai menata kembali hidupku untuk bisa menjadi wanita yang diimpikan. Setidaknya berusaha terbiasa dengan ranjang yang bisa kutiduri semauku, dan buku - buku yang bebas kutaruh di depan tv atau di dapur. Aku bebas, dan aku akan bahagia di dalam penjara mimpi - mimpiku sendiri. 

Gelar master  telah kukantongi meskipun saat itu usiaku masih 24 tahun. Dengan nilai yang hampir sempurna, masa depan kerjaku begitu cerah. Diperebutkan sana - sini karena pengalamanku yang sudah tidak bisa diragukan. Apartemen kecilku telah menjadi istana, bersama para pembantu dan sopir yang menemaniku selama menjadi bagian dari janji matahari. Tidak ada yang pernah bertanya tentang bagaimana aku bisa tetap tinggal sendiri, bagaimana aku tetap bisa berkarier tanpa mempersoalkan tentang asmara. Karena mereka telah mendapatkan jawabannya. 

Sore itu ketika matahari terbenam, aku memasuki rumah dan disambut "keluargaku" yang tengah asyik menonton drama korea kesukaan mereka. 
"Non Riri, tadi ada undangan nikahan. Katanya dari temen sma nya dulu" Teriak Noni, masih dengan rambutnya yang kemilau. Nampaknya dia sedang centil, seminggu ini sudah 3 kali lebih dia ke salon hanya untuk keramas. 
"Oke, ini ya?" Pandanganku tertuju kepada undangan mewah pernikahan yang kupegang. 
Hatiku seakan teriris, mataku kembali pedih karena foto kemesraan yang tampak buram oleh mataku. Tubuhku limbung karena darahku mengeras diujung kerongkongan. Aku merasakannya, aku melihatnya, aku begitu mengerti apa yang kurasakan. 

Semua akhirnya paham. Bahwa cintaku telah pergi, menyisakah kasih sayang yang selalu kubagi dengan semua yang aku lihat. Mereka, keluarga baruku yang akan terus menemaniku sampai kapanpun. Tidak ada yang aku cintai, hanya mereka sudah lebih dari cukup. 

--------------------------------------------------------------------------------------
 Pukul 20.00. Aku masih saja berkutik dengan laptop dan mengecek semua laporan keuangan untuk menyelesaikannya sebelum pukul 23.00 malam ini. Sedikit lagi aku akan bisa mencari makan, batinku mengelus perut yang mulai menuntut. Tiba - tiba terdengar dering ponsel yang mengganggu konsentrasiku. Siapa? bukankah aku sudah memberi kabar bahkan lebih dari 5 kali kalau aku akan pulang larut? Ada saja yang menggangguku malam ini. 
Sedikit kesal, kuambil ponselku dan membuka pesan dari Surti. 

From : Surti 
Non, Segeralah pulang. Anak kembar dini-dina tiba - tiba menggigil tak tahu kenapa. Segeralah pulang, kami menunggu. 
Seketika kurasakan tulangku ngilu, aku tidak bisa lagi berfikir. Setelah memastikan pekerjaanku selesai dalam 10 menit, aku segera melawan rasa takutku menyusuri jalanan jakarta yang cukup lengang malam itu. Tidak bisa lagi berfikir tentang kemungkinan kemungkinan lain, pedal gas tidak pernah berkurang kutekan. Dini-Dina adalah anak surti yang keempat dan kelima. Kedua anak itu paling kusayang karena begitu iba aku melihatnya, sejak kecil mereka memang bukan anak yang normal, sakit - sakitan, dan psikisnya terganggu. Dengan mereka aku selalu semangat untuk tetap tinggal dalam penjara mimpiku, karena aku sadar bahwa mereka belum sempat bermimpi sampai akhirnya mereka merasa terpenjara. Aku bersyukur, Engkau menitipkan mereka di keluarga bahagiaku.

Pelik suara parau telah terdengar dari halaman rumahku. Aku bersuara dan berteriak dalam diam. Aku merasakan aura kehilangan, aku kembali kehilangan cintaku, aku kembali dipaksa mengikhlaskan rasa cintaku untuk kali ini. 

Langkahku begitu gontai menyaksikan air mata menggenangi kawasan rumah yang kusebut naungan kebahagiaan kami. Sendu, pemakaman dini - dina begitu ramai oleh tetangga dan kerabatku, mereka tau keadaanku yang selalu menceritakan motivasi hidup dengan dini dan dina sebagai inspirasinya. Bebat dukaku semakin dalam, aku tidak bisa meninggalkan pusara ini demi mimpiku selanjutnya, aku bahkan terlihat lebih kacau dibanding Surti yang baru saja kehilangan kedua anaknya. 

"Tinggalkan aku di sini, sebentar. Aku ingin menunggu matahari terbenam bersama mereka" 
Akhirnya aku sendiri di sini, kembali menunggu matahari terbenam agar janjinya mengikat janjiku untuk mimpi selanjutnya. 

"Kau kenapa?" Bisik seseorang tak jauh dari posisiku terduduk dan tergugu saat ini. 

"Aku..." baru saja akan menjawab, muncul sosok yang begitu kukenal. Dia mengenakan pakaian hitam dan membawa bunga segar di dalam keranjang. Wajahnya masih sama ditambah beberapa guratan yang unik mengutarakan perjalanan hidupnya. Dia Zayyan, mantan kekasih yang menyimpan mimpiku selama ini. 

"Riri? Kau kenapa? Kehilangan anak? maka samalah denganku, istriku baru saja meninggal 3 bulan yang lalu, menyisakan aku dan kelima anakku yang masih kecil. mereka terpukul, akujuga. Namun percayalah, semuanya akan berlalu karena waktu, cukupi sedihmu. Oiya, dimana suamimu? Rasanya ingin kupeluk dan kuucapkan terima kasih karena berhasil menemanimu sampai kariermu begitu tersohor sampai telingaku", Dia memeluk kata-katanya sembari tersenyum tulus mengahadapku. 

Aku terduduk, dihadapannya. Aku merasakan cintaku terkubur dengan sisa cinta lain yang masuk menuntut. Awan, Matahari terbenam, mengiringi mulutku bersenandung tentang kesedihan yang kututupi selama 15tahun aku menguburkan cintaku yang mati. Aku tergugu tak percaya dengan omonganku sendiri. Malaikat ini telah jahat mengirimkan catatannya kembali kedalam otakku. 
Zayyan hanya menunduk, mencerna dan  menunggu saatku diam karena usai bercerita. Sampai ketika surat itu kuambil dari tangannya. 

Kepada Riri
Hamparan semesta masih terbentang saat aku menuliskan ini, ketika akan lahir anak ketigaku lengkap dengan 2 bayi lagi yang akan mengisi keluargaku dan Zayyan. Kehadirannya harusnya membahagiakan kami, namun sepertinya tidak untukku seutuhnya. Ada kebahagiaan baru yang dititipkan Tuhan kepada bayi ini, bukan untukku tapi..untuk orang lain yang selama ini diam menyimpan kebahagiaan terbesarnya.
Genap sudah 5 bulan aku tau, aku akan meninggal jika aku mempertahankan ketiga bayi ini.
Maka dengan ini, aku tuliskan lembaran sayup kesedihan nuraniku. Aku dan Zayyan telah menikah, berkat permintaanmu akan pernikahan kami. Terima kasih mengijinkanku bahagia dengan lelaki yang kuanggap dewa semenjak usiaku masih 10 tahun. Lucu bukan? Kau yang tahu hal itu, jangan dibeberkan. hehe. Zayyan begitu paham dan mengerti apa sesungguhnya hakekat mencintai dan menyayangi. Dia, lelaki terhebat yang pernah kutemui, menikahi wanita yang tidak dicintainya hanya untuk melihat gurat kesedihan berkurang dari wanita yang amat dia cintai. Dia begitu tahu bahwa kau mengorbankan cintamu untuknya, maka dia kuburkan juga cintanya kepadamu. Dia menumbuhkan cintanya untukku, agar cintanya untukmu tetap tersimpan rapih didalam banker kekuatan jiwanya. 
Sekarang waktuku untuk pergi, aku senantiasa mengucapkan terima kasih untukmu. Berkat mu, mimpi terbesarku sudah tercapai. Hidup bahagia mewujudkan mimpi kalian yang tak akan pernah bisa menjadi kenyataan jika kau tidak tersakiti. Sekarang saatnya kau untuk mewujudkan mimpimu, menikahlah dengan Zayyan ketika pusaraku sudah harum oleh belukar dan bunga bermacam warna. 
Kakakku sendiri yang telah memvonismu tidak bisa hidup karena hamil, maaf akan kenyataan itu. Maka sekarang, giliranku mewujudkan mimpimu dulu bersama zayyan, tinggal bersama, menikah, dan memiliki 5 anak lucu yang akan kaunamakan sesuai abjad. Aku masih ingat betul bagaimana rasa sakitku ketika kau mengimajinasikannya bersama pria yang amat kucintai. Namun, sekarang aku telah begitu paham aka takdir. Kita memang ditakdirkan saling menggantikan, bukankah begitu?
Maka kutitipkan kelima anak kami dan Zayyan, Wujudkan mimpimu, dan doakan aku bahagia. Karna kebahagiaan duniaku telah lengkap, maka kubawakan bahagiamu dari surga di rahimku. Selamat tinggal.
Dengan ketulusan, Elsa 
Air mataku mengalir, tidak tahu diri melihat pusara-pusara yang menjadi akhir kehidupan telah menjadikan dirinya awal kebahagiaanku. Zayyan memelukku erat, aku bebas dari penjara. Aku memiliki kunci untuk penjara mimpiku kini.  




Aku dan Jemari

Archapada masih kokoh berdiri
Ketika aku merasakan indahnya mengenang kekaguman
Lentera merah padam, rembulan terang benderang
Hanya aku dan jemariku mengerti

Toba masih setia dengan samosir-nya
Berbukit menengahi penghianatan
Ikan dan angsa masa baru sedang menikmati indah kebohongan
Menatapku yang tersenyum merasakan kerinduan
Hanya aku dan jemariku melihat

Merapi belum mau berjajar dengan jaya wijaya
Walaupun aku ingin melihat salju dari jogja
Agar bisa selalu melihatmu dari "putih" yang terjaga alam
Diam sembari menyesap peluh iringan perjuangan
Hanya aku dan jemariku berjuang

Hanya aku
ditemani jemari yang kau kuatkan
dengan mineral murah kepercayaan

Yogyakarta, 26 Desember 2015
(Inspirasi kekosongan-a-)

Kutukan Matahari Kepada Bintang


Biar kusampaikan
Angin mulai berbisik layaknya angin pantai
Mengutuk pribadimu yang mendayung sendu
Menimba jutaan kunang yang terpaksa menemani

Biar tersampaikan
Oleh angin yang kau paksa diam
Sebelum api menghangatkan kayu
Oleh api perapian yang kau paksa padam,
mengiringi gelapnya nuansa malam tanpa rembulan

Kulayangkan persembahan
Matahari kepada bintang
Untuk menggambarkan aura jalang binatang sebrang,
yang kausebut pengiring nyanyian sunyi gemparnya dunia

Yogyakarta, Agustus 2014
(Inspirasi kekosongan-a)

Malam, Rembulan

Malam, rembulan.

Hari ini ramai sekali tentang malam minggu terakhir di tahun 2015.

Kami di dalam rumah, aku-dan-otakku sendiri merasakan sensasi malam minggu sama saja seperti liburan pada masanya. Sampai sekarang aku bahkan belum paham apa makna malam minggu bagi setiap pasangan yang menggembor – gemborkan doa penangkal hujan ketika matahari tampak malu mengakui kekalahan kepada waktu. Bahkan, banyak sekali motor  dan mobil di jalan yang biasanya sepi karena malam semakin sayup. Rupanya, banyak sekali peraturan yang dilanggar secara naluriah di dunia ini. Adat yang menjamah menjadi kebiasaan dasar, tanpa anutan pasti dalam masyarakat beradat asimilasi.


Tapi malam ini otakku sedang diam, tidak ingin berfikir tentang penciptaan malam minggu kelabu dan malam minggu bersenandung. Aku ingin bercerita tentang kau, yang secara naluriah menjamah bagian terpenting, membuatku terpelanting tanpa pernah diketahui siapapun. Termasuk otakku.

Rembulan kini, membuatku mengingat sendiri bagaimana sebungkus permen berisi kenangan kini telah terisi separuhnya oleh hati yang seperempat ons mulai bersedia merasakan manisnya. Terima kasih, karena sudah mau mencicipi. “Kalau radangmu mengaduh, berhentilah” kataku sembari melihatmu lagi. Kulanjutkan saja menulis harapan – harapanku tentang tingginya harapan – harapan orang yang ada di sekelilingku. Bukan saja menyambut 2016, namun menyambut umurku yang mulai tau arti dipinang dan pantas untuk mengandung.

Aku ingin. Beberapa bulan lagi bisa mengatakan bahwa aku telah sukses diterima di universitas unggulan dan harapanku. Menyaksikan semua darahku berlari menjauh mengejar impian yang mulai mendekati kenyataan. Berlarian mengoyak panas membentuk barisan agar semua tau aku pernah hitam karna bahagia. Mengumandangkan ahli sarjana sebagai panutan yang disejajarkan dengan albert Einstein agar suksesku bisa nyata. Melihat semuanya begitu nyata dan mengundang ribuan harapan lain yang menggantung bersama doa – doa seribu sujudku. Jangan halangi aku bermimpi akan itu, karena janji – janji hidupku telah kuikat bersama payung yang tiangnya hilang dimakan rayap. Sehingga cekungnya bisa mengudara keluar bumi menyusul saturnus membuat cincin kemilau di bimasakti.

Aku ingin. Melihatmu tetap disitu. Berlarian kesana kemari membentuk harapan baru bagi hidupmu. Dan kembali pulang pada rembulan yang mengisi mimpi – mimpiku. Berdua mencipta kata – kata baru yang bermakna dalam kamus sastra pribadi kami. Aku-dan otakku sendiri yang menyimpannya. Aku ingin. Kamu akan sadar bahwa kesakitan bukan seperti darte la forte, jika yang kau maksud adalah mata buta yang kukorbankan. Bukan juga laila majnun yang mengghibahkan nyawa dan akalnya untuk menjadi satu dalam pusara keabadian. Bukan juga kisah Einstein yang rela meninggalkan demi kesuksesan yang membawa kebaharuaan hati. Namun, kesakitan yang kubawakan dengan sabar setiap kali doaku berkelana menjamah yang lainnya. Kerinduan yang tersangkut ranting karena pancaroba yang mengundang beliung. Semangat bergelora yang kusematkan dalam darahku untuk membawamu tetap tinggal.

Sakiti aku lagi, agar jiwaku mati akan kecemburuan
Sakiti aku lagi, biarkan otakku terdesak untuk tetap membaca naluri cakrawala tentang kehidupan
Sakiti aku lagi, terbangkan semua rasa percayaku
Sakiti aku lagi, agar bahasaku kembali kaku tak bisa bernafas
Sakiti aku lagi, agar semua janji kesetiaanku kaujemput
Dengan luka yang masih menganga
Dengan jiwa yang terlanjur mati
Dengan percaya yang tak lagi punya tolak ukur
Agar kesakitanku berbuah kepercayaan akan janji yang telah lama kuprinsipkan sendiri


Selasa, 22 Desember 2015

Menangislah Kata

Menangislah kata
Ketika nalurimu tidak lagi cukup
Mengubah kesepian remah menjadi keramaian sunyi
Berjajar disana mencoba mengukir;
Kasih cinta hujan kepada awan
Kami mengisi hidup dengan kata kata
Berlogika seperti katamu dulu
Bermakna seperti kataku
Aah Aku sampai lupa. Apa katanya?
Apakah menguras keingintahuan api kepada kayu tentang kesederhanaan?
Apakah membungkam kelogisan kayu terhadap api tentang kasih sayang?
Persaingan kata-mu mengais rinduku
Perjanjian kata-mu mencuri titik butaku
Kata - katamu yang tak berguna itu
Membuatku jatuh merasakan keberdayaan
Yang melayang karena kejujuran
Yang menguap oleh kesadaran
Sadarkah kau?
Karena kata - kataku mulai menangis.
Menangislah kata

Yogyakarta, 23 desember 2015
(Inspirasi kekosongan-a)

Temani Aku

Temani aku,
Dikala mentari memilih pulang ke peraduan
Membawa sepotong hati
Yang kau telantarkan sendiri

Temani aku,
Bersama kata yang merangkak
Menghias kertas kusam terlipat
Yang akhirnya dicuri oleh memori

Temani aku,
Sampai tintaku mengering
Lelah menulis frasa frasa kiasan
Penggambaran kebahagiaan
Dibalik kehilangan yang curam

Yogyakarta, 15 desember 2015
(Inspirasi kekosongan-a)