Sabtu, 26 Desember 2015

Malam, Rembulan

Malam, rembulan.

Hari ini ramai sekali tentang malam minggu terakhir di tahun 2015.

Kami di dalam rumah, aku-dan-otakku sendiri merasakan sensasi malam minggu sama saja seperti liburan pada masanya. Sampai sekarang aku bahkan belum paham apa makna malam minggu bagi setiap pasangan yang menggembor – gemborkan doa penangkal hujan ketika matahari tampak malu mengakui kekalahan kepada waktu. Bahkan, banyak sekali motor  dan mobil di jalan yang biasanya sepi karena malam semakin sayup. Rupanya, banyak sekali peraturan yang dilanggar secara naluriah di dunia ini. Adat yang menjamah menjadi kebiasaan dasar, tanpa anutan pasti dalam masyarakat beradat asimilasi.


Tapi malam ini otakku sedang diam, tidak ingin berfikir tentang penciptaan malam minggu kelabu dan malam minggu bersenandung. Aku ingin bercerita tentang kau, yang secara naluriah menjamah bagian terpenting, membuatku terpelanting tanpa pernah diketahui siapapun. Termasuk otakku.

Rembulan kini, membuatku mengingat sendiri bagaimana sebungkus permen berisi kenangan kini telah terisi separuhnya oleh hati yang seperempat ons mulai bersedia merasakan manisnya. Terima kasih, karena sudah mau mencicipi. “Kalau radangmu mengaduh, berhentilah” kataku sembari melihatmu lagi. Kulanjutkan saja menulis harapan – harapanku tentang tingginya harapan – harapan orang yang ada di sekelilingku. Bukan saja menyambut 2016, namun menyambut umurku yang mulai tau arti dipinang dan pantas untuk mengandung.

Aku ingin. Beberapa bulan lagi bisa mengatakan bahwa aku telah sukses diterima di universitas unggulan dan harapanku. Menyaksikan semua darahku berlari menjauh mengejar impian yang mulai mendekati kenyataan. Berlarian mengoyak panas membentuk barisan agar semua tau aku pernah hitam karna bahagia. Mengumandangkan ahli sarjana sebagai panutan yang disejajarkan dengan albert Einstein agar suksesku bisa nyata. Melihat semuanya begitu nyata dan mengundang ribuan harapan lain yang menggantung bersama doa – doa seribu sujudku. Jangan halangi aku bermimpi akan itu, karena janji – janji hidupku telah kuikat bersama payung yang tiangnya hilang dimakan rayap. Sehingga cekungnya bisa mengudara keluar bumi menyusul saturnus membuat cincin kemilau di bimasakti.

Aku ingin. Melihatmu tetap disitu. Berlarian kesana kemari membentuk harapan baru bagi hidupmu. Dan kembali pulang pada rembulan yang mengisi mimpi – mimpiku. Berdua mencipta kata – kata baru yang bermakna dalam kamus sastra pribadi kami. Aku-dan otakku sendiri yang menyimpannya. Aku ingin. Kamu akan sadar bahwa kesakitan bukan seperti darte la forte, jika yang kau maksud adalah mata buta yang kukorbankan. Bukan juga laila majnun yang mengghibahkan nyawa dan akalnya untuk menjadi satu dalam pusara keabadian. Bukan juga kisah Einstein yang rela meninggalkan demi kesuksesan yang membawa kebaharuaan hati. Namun, kesakitan yang kubawakan dengan sabar setiap kali doaku berkelana menjamah yang lainnya. Kerinduan yang tersangkut ranting karena pancaroba yang mengundang beliung. Semangat bergelora yang kusematkan dalam darahku untuk membawamu tetap tinggal.

Sakiti aku lagi, agar jiwaku mati akan kecemburuan
Sakiti aku lagi, biarkan otakku terdesak untuk tetap membaca naluri cakrawala tentang kehidupan
Sakiti aku lagi, terbangkan semua rasa percayaku
Sakiti aku lagi, agar bahasaku kembali kaku tak bisa bernafas
Sakiti aku lagi, agar semua janji kesetiaanku kaujemput
Dengan luka yang masih menganga
Dengan jiwa yang terlanjur mati
Dengan percaya yang tak lagi punya tolak ukur
Agar kesakitanku berbuah kepercayaan akan janji yang telah lama kuprinsipkan sendiri


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar